Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

11 Februari 2009

Senja,


Manisku,
apa kau masih untukku?

ketika senja aku lihat bayang
disamping ku terbang
tapi kaki mengakar dibumi
bayang itu terbang sendiri
ia selingkuh. lalu tanpa sadar kembali
bertaut dengan kaki ku mesra.

Manisku,
ketika senja aku rasa matahari lebih sendu
ia kabarkan salam pisah dengan jingga romantis
menggembungkan hatiku untuk bertanya,
apakah cinta itu datang dan pergi?

ah!
jangan lagi kau tanya, ketika
senja telah bergulir
aku rabun ayam.

tak dapat ku lihat lagi dunia
aku meraba pada tangan-tangan dingin

ah,...
aku sepi betul.
hanya berteman musik gitar mati.

10 feb, 09

06 Februari 2009

Aku Panggil Dia, Sastra.


kurang ajar betul kau
belum apa-apa sudah buat kekasihku menangis
belum apa-apa sudah buat kekasihku menjerit
robek daging kucur darah karnamu.

asal kau tahu saja
aku tak rela kau buat ia begitu
tapi, akupun tak bisa apa-apa
aku tak ada disana ketika kau keluar

menangislah yang keras
tunjukan pada tiap malaikat bahwa
kau siap untuk dicatat dalam kitap-kitap sastra

tahu? aku bingung juga denganmu
kemarin-kemarin ketika aku dengannya kau tak ada
sekarang kau ada diantara kami
jangan ganggu tidurnya nanti malam!
sekali lagi jangan ganggu apalagi hanya kau minta itu

lebar senyumku mendengar kabarmu yang laki
basah hatiku baca kata-kata tak sempurna mengenang

kau tahu? sulitnya buat kau ada
ya! mesti ada cinta
mesti ada kasih
mesti ada aku dan kekasihku

mulai kini tak ragu kau bila ku panggil
cukup sebuah kata mahaindah ;
Abdillah Sastra Wijaya

ya, sayang.
kau aku panggil, Sastra.
tahu kenapa?
karena disana ada begitu cermin
karena abdillah, agar kau patuh pada-Nya
karena Sastra, agar kau kaya ilmu
karena Wijaya, agar kau lebih besar dari aku dan kekasihku

maka sekali lagi
aku panggil kau, Sastra.

(untuk ia yang menjadi "lelaki baruku" aku tak tahu harus buat apa. kau boleh marah. kau boleh benci. tapi jaga kekasihku. tak kan cukup maaf, hanya Neraka yang menungguku."

15 Januari 2009

Lintang-lintangku


Tuhan, kenapa aku menjadi perasa.
ketika kubaca lembar-lembar Lintang baru
dalam berita kota.

tak perlu jauh aku sebrang ribu pulau
tak ayal aku susah kayuh sepeda puluhan kilo
mereka, Lintang-lintang muda dipelukku

Haryono. mengayuh sepeda dan baca pakai
lampu minyak
hidup di tambak keramba

Iis. putri angkasa wajah sumbing
alas kaki tak ada. tinggal baju krem dan
rok merah kelabu

Joko. hirup sampah tiap hari
tak ada serpih tak ada kasih
hidup menunggu waris bapak ibu
: rumah kardus mudah gusur.

tak jauh aku liat Lintang sedih
menanti liburan monyet kapan datang
hingga kata, aksara, dan angka mudah saja ada
hingga matahari didepanpun nampak
tak perlu malam suntuk sampai ajal menjambak.

29 September 2008

Dermaga


Aku pergi, Ibu.
Mencari payau di pantai-pantai sepi
Tempat benih tumbuh jadi apa saja yang dimau
Tak ada jerat, hardik atau cambuk
Disama segalanya berjalan dengan semestinya.

Dengan angin aku kabarkan peluhku
Membangun dermaga yang tak kunjung usai
Pelabuhan sederhana yang kupintal dari mimpi
tempat aku menunggu kasih dan alamt pulang
Ketika ku di lepas lautan.

Disini air payaunya berwujud biru, Ibu
ikan-ikan berenang bebas tanpa takut kail.
batu-batu lumut laut tmbuh dengan wajar
tak ada yang merasa ditindas atau menindas.
semua merasa ada karena tanggung jawab

Dermaga ku tak megah, Ibu
Hanya beberapa tumpuk kayu
yang mati karena tua
bukan karena aku matikan paksa
mereka datang padaku dengan rela bersama riak sungai
mengiyakan jasatnya untukku melangkah.

Tak ada mercusuar tinggi di dermagaku
hanya ada aku sebagai pelita
tempat segala cahya mengambang jadi pelangi
terang gelapnya lihat laku ku

Ibu, sayangnya dermaga ini hanya bisa kau singgahi
takkan pernah bisa kau miliki
darimulah aku mengerti bagaimana ini semua ada

Dermagaku menunggu satu rusuk yang khilaf dariku
rusuk yang kan menemaniku
membangun dermaga ini jadi lebih nyata dan ada
tempat cucu-cucumu berlari main api, main hasut, main curi

26 September 2008

Cinta Denganmu



menantimu

tak tahu aku malam ini jadi apa?
ketika sepi jadi selimut
saat kabut buramkan mata pada langit

aku takut ketika malam datang
ketika yelda terjadi ditiap malamku
bukan lagi malam pertama musim semi yang panjang
bagai kasih tak sampai bulan dan matahari

malam

sepi itu sekali lagi menerjaku
merajam tiap sel yang mengatur nyawaku
menidurkan jiwa yang ambruk olehmu
petaka jadi biasa karenamu

gulita

aacchh,...
tergadai aku pada rasa
terlanjur serah terima padamu
maka, ku nanti yang tak berujung
ku tunggu kau yang berlari
bukan padaku tapi menjauh

Karena Sebab


Karena hidup tak bisa ditolak
Aku memilih balak
Melengkapi tiap bagian dengan siak

Sebab manusia ialah alami
Lembaran baru tang tiap hari berganti
Kapak dan tali

Karena hidup tak busa dipalak
Aku mengawini talak
Menyendiri dari manusia jalak

Sebab hidup tak hendak di maki
Aku dipilih tetap disini
Tersiksa dan sendiri

Karena hidup dapat diakhiri
Aku diam sendiri
Melengkapi kematian dengan imaji.


maret-april 2006

19 September 2008

Tuhan Menciptakan Aku Melaluimu Ibu



Tuhan menciptakan aku melaluimu ibu
raga yang lekas hilang dalam pelukan malam
kasih yang menyaingi udara pada paru

hanya engkau ibu,....
kekasihku yang menangis dalam kelam
mencintaiku dengan keindahan aurora

ibu, ijinkan aku memelukmu
menikmati dekapanmu sekali lagi
ketika aku dipukul sepi
saat aku tak tahu mana arah pulang

ibu,...
andai Ia ijinkan aku menemuimu
sekali lagi ditiap malamku
yang menangis menanti maafmu

04 September 2008

ARTI BULAN



Bulan,...
adakah arti yang terpendam darinya
selain jiwa yang hadir kerena tak ada
matahari yang memeluk hari?
ataukah ia hanyalah sepi
yang tak teraba pikuk ramai hati?

Menanti. mengintip di celah awan
sembari tersenyum dengan muka penuh arang

Tak ada untuknya. hanya sendiri

kadang memang aku melihat bulan
berteman bintang muda suatu hari.
bintang itu berpendar cemerlang disisi
bulan
yang ngeri terpedaya pada kasih

Bulankah yang dinanti?
ketika matahari dan bintang
menghias jagat dengan cahya
ketika gelap telah terterang
bohlam dan pelita api
ketika senyap diganti
mimpi yang gelisah basah

Bulankah yang ditunggu?!

aku mulai mengerti
mengapa bulan itu terbagi,
terbelah
sebab ia tak benar-benar dikehendaki
sebab ia hanyalah keping yang menggati
bukan untuk melengkapi

Maka, jangan jadikan aku bulan
bila aku hanya kau jadikan semacam itu
jadikan aku matahari siangmu dan malammu
atau tidak sama sekali.

2 september
2008

17 Agustus 2008

Merdeka!

Dan debarmu jadi jantungku
Membahana jadi gaung empat dunia

Mana kawan indah itu?
Yang mengambang di atas kebebasan
Yang terikat sutra beban
Yang senyum manisnya jadi dahaga

63 tahun tidak terasa, kawan.
Tak ada merdeka itu
Tak terlihat sejahtera melanda
Tak terasa damai menidurkanku tiap malam

Semua hanya kata-kata. yang
Musnah di telan angin musim kemarau

Merdeka kata mereka!
Merdeka juga kataku!

Merdeka dari duka
Merdeka dari nestapa
Merdeka dari serakah
Merdeka dari utang orang tua
Merdeka dari tikus-tikus korupsi
Merdeka dari NARKOBA
Merdeka dari amoral
Merdeka dari merasa yang paling benar
Merdeka dari penjahat berdasi
Merdeka dari ilegal loging
Merdeka dari kebodohan
Merdeka dari kemiskinan yana meradang
Merdeka dari benci
Merdeka dari semua yang melanda jadi dusta

kawan, kita masih muda
bukan tua seperti mereka
lalu kenapa kita tak angkat diri
lari lebih kencang, maju paling depan

dunia di cipta untuk kita ibadah
tuhan, anggap menyerah!
mari kita mengombak bara muda
bukan tinju yang kita kepal, tapi
hati jujur, ikhlas, dan usaha kita genggam

11 Agustus 2008

Azura

hujan pertama bulan agustus
rintik-rintikya jadi linangku
meretas kepergian kasih kandung
sembilan bulan tanpa asa

sepinya jadi aku curiga
kapankah langit azura merekah
jadi sebuah indah

aku merindu anadya
hidupnya kini berbeda denganku
jiwanya kini dipeluk mabuk oleh-Nya
nafasnya takkan terasa namun debar itu
masih saja kurasa

jadilah keindahan yang selalu terlihat dari atas langit biru

untuk anandya asa azura
kekasih kecilku

09 Juli 2008

HARI TLAH BERGANTI



Asap lavender mengobak mabuk nyamuk dan hati
Ketika hari mulai berganti

Mimpi malam belum juga mengunjungi
Tatkala gelap makin terhimpit pagi

Dimana malam yang kau temani, kekasih?
Terasa telah seribu kali rindu ku asah
Apakah kau juga gelisah

Tak ada teman tidurku
Bukan jiwa. bukan nafasmu
Aku dibunuh sepi, layu

Hendak aku mabukkan jiwa
Mereka memanggilku menggoda
Layaknya tunasusila kota

Lavender masih saja berasap
Tapi, kali ini tinggal ruang pengap
Penuh janji, gila, dan gelap

Hari telah berganti
Ketika ku seka lagi mimpi
Yang menghampiriku tidurku pagi ini.


dini hari, 20 november 2006

04 Juli 2008

kau tinggal



menantimu

tak tahu aku malam ini jadi apa?
ketika sepi jadi selimut
saat kabut buramkan mata pada langit

aku takut ketika malam datang
ketika yelda terjadi ditiap malamku
bukan lagi malam pertama musim semi yang panjang
bagai kasih tak sampai bulan dan matahari

malam

sepi itu sekali lagi menerjaku
merajam tiap sel yang mengatur nyawaku
menidurkan jiwa yang ambruk olehmu
petaka jadi biasa karenamu

gulita

aacchh,...
tergadai aku pada rasa
terlanjur serah terima padamu
maka, ku nanti yang tak berujung
ku tunggu kau yang berlari
bukan padaku tapi menjauh

30 Juni 2008

patah hati 1

ketika hatiku berkata
engkau milikiku yang tak termiliki.
aku marah padaMu
pada takdir yang menyesatkan aku
untuk mengasihi dia yang berlalu

jangan ambil hatiku
jangan ambil hatiku
jangan ambil hatiku
jika hanya akan pergi
jika hanya tuk sakiti aku

22 Juni 2008

Petaka Untukmu



Dan tepian malampu berganti
Dengan cahya petaka

Menanti duka yang robek
Jiwa-jiwa sepi.


Di tepian hari,

Kini aku bermimpi

Temui Sang Tak Terjawab
Hanya 'tuk bertanya
Manakah yang lebih berharga

Darah atau asmara


Sepi hari,

Jadi kian indah

Dengan nyanyian yang mengalun

Tenang dalam nama-Mu.


Sebutlah aku
Dalam malam dan tepian hari
Maka aku datang dengan tangan terbuka

Membawa petaka untukmu

13 Juni 2008

Tuhan,...


Tuhan,..

Pertemukan aku dengan dirimu

Engkau yang tak termisalkan apapun

Engkau yang memiliki kesempurnaan


Ketika surya tenggelam

Hatiku remuk redam

Mencarimu dalam bayang diam

Mencari diriku yang kesetanan


Tuhan,..

Dimana aku harus memelukMu

Apakah fajar yang menyingsing milikku


Tenggelam aku di kolamku sendiri

Tak ada uluran tangan

Yang kulihat hanya baying tangis ibu


Tuhan,..

Aku rindu diriku yang hilang

Diriku yang remuk redam memendam bara hidup

Diriku yang berlari mencari cintaMu


29 april 2008


15 Mei 2008

Malam-Mu


tuhan,...
aku ingin bertanya padaMU
siapakah yang lebih dulu
Engkau atau alam?

ketika sayap-sayap sepi
menggenapi aku jadi seribu diam
aku bertanya padaMu
tapi yang menjawab alam

tuhan,...
benarkah surga itu milikMu?
lalu kenapa Kau janjikan padaku
makhluk kasat mata penuh dusta

aku bukan siapa-siapa, tuhan
aku hanya sisi lain dari malam
gelap, sepi, dingin, tanpa cercah cahya

bulan bukan aku, tuhan
ia terlalu indah untukku
biarkan getir menyapaku
biarkan sepi jadikan aku sendirian

22 April 2008

ibuku mati muda


tak berapa lama lalu kurasakan engkau
memandikanku setelah mandi hujan
teriak lantangmu buatku gentar
lalu, kau memelukku, ibu.

denyut jantungmu masih terasa dikepalaku
yang menyandar di dadamu yang haram untukku, ibu

belaian tidurkan aku

menantikan aku dari tuntunan ilmu
menatapku yang terjatuh dan berdiri lagi
mendengarku yang meronta minta pelukmu

kini,
engkau pergi ibu
engkau ibuku yang mati muda

sesalku tak menyentuh di detik akhir pergimu ibu
tangis aku tahan untuk pergimu ibu

ibu,..
kenapa kau mati muda?

dostet darum

untuk mempelaiku

sayang,
ingin ku semai dirimu
dalam gulita cahya kemuning

indahnya persemaian cinta
tak terperih lekang waktu.

aku ingin menabur kasih
ku dan mu
di telaga tanpa nama milik kita

manisku,
ku timbun permata rinduku untukmu.

dostet darum