ketika hatiku berkata
engkau milikiku yang tak termiliki.
aku marah padaMu
pada takdir yang menyesatkan aku
untuk mengasihi dia yang berlalu
jangan ambil hatiku
jangan ambil hatiku
jangan ambil hatiku
jika hanya akan pergi
jika hanya tuk sakiti aku
15 Mei 2008
14 Mei 2008
Tak tersentuh di mengerti
13 Mei 2008
12 Mei 2008
Refleksi Hari Ini (Era Baru Buat Saya Merasa Aneh)

beberapa waktu lalu saya dan teman saya menghadiri sebuah acara pentas seni sma negeri di surabaya. pensi yang diadakan di parkir timur delta plaza ini menghadirkan bintang tamu band asal bandung, the changcuter. band yang sedang naik daun ini mampu menyedot cukup banyak penonton, yang kebanyakan siswa sma negeri yang mengadakan pensi itu tentunya. acara dimulai sejak siang hingga malam kira-kira 23.00. untuk masuk saja para penonton harus antri dan berdesak-desakan hingga mengular lebih dari 3o meter dari pintu masuk.
yang membuat saya tergangu ialah sepasang remaja. remaja ini, yang laki-laki bergaya rambut poni menyamping sampai menutupi mata bagian kiri dengan bagian belakang cepak, menggunakan tindik di bibir dan telinga berlubang sebesar uang koin emas seratus dan di ganduli anting bulat. sedangkan yang perempuan saya tidak seberapa tahu sebab ia berada dalam pelukan laki-lakinya yang ada di depan saya. si remaja laki-laki ini secara wajar dan santai memeluk, mencium, bahkan (maaf) memegang buah dada si remaja perempuan. dalam beberapa kali kesempatan saya juga mendengar umpatan yang cukup keras dari si remaja perempuan, bukan karena perilaku kekasihnya melainkan teman di depannya.
setelah berkutat dengan antrian dan pemandangan yang menggerahkan akhirnya saya dan teman saya masuk. di dalam saya menemukan beberapa hal yang membuat saya bertanya kenapa perubahan begitu cepat dan lebih condong ke arah negatif?
di dalam tempat pertunjukkan ini saya menemukan hampir semua remaja laki-laki merokok, sebagian bertindik, rambut poni miring sebelah dan bagian belakang cepak, berkata dan bersikap kasar apabila berkomunikasi dengan teman sesama remaja laki-laki. remaja perempuan juga tak kalah dalam membuat saya bertanya-tanya tentang perkembangan saat ini. remaja perempaun biasa menggunakan celana pensil ketat, baju ketat dan berwarna mencolok, biasa dengan asap rokok, dan ada yang banyak meniru gaya wanita dewasa seperti membawa tas di pundak dengan menggapitnya di antara tubuh dan siku.
musik yang disuguhkan oleh band-band ini juga rata-rata rock. bahkan ada sebuah band tamu yang secara eksplisit meminta para penonton untuk mengumpat umpatan khas surabaya lebih dari 10 kali. sungguh aneh, umpatan menjadi sebuah kebanggaan dan para penonton pun dengan senang hati (bahkan bangga) mengumpat dengan keras secara bersama-sama.
sekali lagi, apa yang terjadi dengan generasi muda saat ini saya tak tahu. siapakah yang patut dimintai pertanggungjawaban atas semua ini? orang tua, masyarakat sekitarnya, sekolah, pemimpin RT sampai Presiden, anggota dewan, atau mereka sendiri?
memang dibutuhkan sebuah kekuatan besar untuk menciptakan kembali generasi yang berbudipekerti luhur serta bertanggungjawab namun, tak adakah langkah kongkrit yang telah dilaksanakan? ini pertanyaan untuk kita semua.
perkembangan memang tak bisa dibendung tapi perkembangan dapat kita saring. bukan hanya para remaja kita yang harus "didandani" tapi juga seluruh bangsa ini.
setelah berkutat dengan antrian dan pemandangan yang menggerahkan akhirnya saya dan teman saya masuk. di dalam saya menemukan beberapa hal yang membuat saya bertanya kenapa perubahan begitu cepat dan lebih condong ke arah negatif?
di dalam tempat pertunjukkan ini saya menemukan hampir semua remaja laki-laki merokok, sebagian bertindik, rambut poni miring sebelah dan bagian belakang cepak, berkata dan bersikap kasar apabila berkomunikasi dengan teman sesama remaja laki-laki. remaja perempuan juga tak kalah dalam membuat saya bertanya-tanya tentang perkembangan saat ini. remaja perempaun biasa menggunakan celana pensil ketat, baju ketat dan berwarna mencolok, biasa dengan asap rokok, dan ada yang banyak meniru gaya wanita dewasa seperti membawa tas di pundak dengan menggapitnya di antara tubuh dan siku.
musik yang disuguhkan oleh band-band ini juga rata-rata rock. bahkan ada sebuah band tamu yang secara eksplisit meminta para penonton untuk mengumpat umpatan khas surabaya lebih dari 10 kali. sungguh aneh, umpatan menjadi sebuah kebanggaan dan para penonton pun dengan senang hati (bahkan bangga) mengumpat dengan keras secara bersama-sama.
sekali lagi, apa yang terjadi dengan generasi muda saat ini saya tak tahu. siapakah yang patut dimintai pertanggungjawaban atas semua ini? orang tua, masyarakat sekitarnya, sekolah, pemimpin RT sampai Presiden, anggota dewan, atau mereka sendiri?
memang dibutuhkan sebuah kekuatan besar untuk menciptakan kembali generasi yang berbudipekerti luhur serta bertanggungjawab namun, tak adakah langkah kongkrit yang telah dilaksanakan? ini pertanyaan untuk kita semua.
perkembangan memang tak bisa dibendung tapi perkembangan dapat kita saring. bukan hanya para remaja kita yang harus "didandani" tapi juga seluruh bangsa ini.
07 Mei 2008
melatih konsentrasi tingkat lanjut
konsentrasi sebagai sebuah pegangan awal ketika hendak melakukan sesuatu termasuk berlatih teater sangat penting. pada awal melatih konsentrasi yang telah saya beberkan pada artikel sebelumnya, posisi tubuh dan ketenangan serta rileksasi berpengaruh kuat pada tingkat keberhasilan konsentrasi.
pada tingkat lanjutan ini seseorang yang berlatih konsentrasi dihadapkan pada sebuah masalah yakni keadaan yang tidak tenang dan mata yang terbuka ( sebelumnya pada pelatihan awal mata ditutup). teknik yang aling tepat ketika kita telah berada di atas panggung ialah dengan memusatkan perhatian pada satu titik atau benda.
pelatihannya seperti ini
pelatihannya seperti ini
- mulailah dengan konsentrasi pada tingkat awal. bila bersama dengan orang lain berlatihnya, konsentrasilah secara bersama-sama.
- setelah siap, ambillah sebuah benda yang kamu pilih sebelumnya.
- perhatikan benda tersebut dan pusatkan pikiran anda hanya pada benda itu. hal pertama yang anda lakukan ketika memperhatikan benda ini ialah dengan melihatnya dari setiap sudut pandang kemudian setelah itu mulailah sentuh dan lakukan apapun dengan benda tersebut. kenali benda itu.
- setelah anda mengenal benda tersebut dengan baik. mulailah bereksperimen dengan membuat sebuah pementasan kecil dengan benda tersebut sebagai teman main anda.
- selamat mencoba
05 Mei 2008
Tak Ada Rasa

untuk saudaraku yang hancur
ada malam
dimana hujan tak lagi basah
tak lagi rintik
tak lagi dingin
banyak darah bukan lagi ngeri
bukan lagi nyinyir amis
mati terasa biasa
sengsara nampak tak terasa
kepul-kepul asap mesiu
hancur gedung, robek daging
bukantangis, bukan airmata
cukup diam tanpa apapun yang terasa
balaipemuda
07 maret 2008
03 Mei 2008
memahami eksistensi teater pelajar
Mempertahankan sebuah komuitas teater sma tidaklah mudah. dalam perkembangannya, teater sma atau teater pelajar mengalami beberapa kendala, namun yang paling utama ialah kendala regenerasi. teater pelajar terkendala waktu sebab sebuah generasi hanya akan bertahan maksimal 3 tahun sedangkan dalam sebuah komuitas teater 3 tahun belumlah cukup.
Pada generasi ke sekian. misalnya ke-21, kelompok teater tersebut mengalami kemajuan yang pesat terbukti dengan keeksistensiannya dalam setiap ajang serta tentu saja kualitas yang memadai. namun, pada generasi berikutnya bila tidak dijaga kualitasnya komunitas teater pelajar ini akan mengalami penurunan dari segi eksistensi dan kualitas. disinilah peran "alumni" teater pelajar dibutuhkan untuk mendampingi komunitas tersebut dan mempertahankan bahkan meningkatkannya.
Sayangnya tidak setiap komunitas teater pelajar masih di dampingi oleh "alumni"nya sehingga komunitas ini hanya mengenangapa-apa yang telah diajarkan oleh generasi sebelumnya. keinginan dan kemauan para pekerja teater pelajar yakni para pelajar sangat menentukan eksistensi komunita teater tersebut.
Maka, ketika sebuah komunitas teater pelajar yang telah punya nama harus mampu mempertahankan nilainya di mata masyarakat sebab pihak umum tidak melihat siapakah pemainnya (individu) tetapi sebuah komunitas teater pelajar. kehadiran festival-festival teater pelajar dirasa cukup membantu untuk meningkatkan kembali dalam berteater.
Sayangnya tidak setiap komunitas teater pelajar masih di dampingi oleh "alumni"nya sehingga komunitas ini hanya mengenangapa-apa yang telah diajarkan oleh generasi sebelumnya. keinginan dan kemauan para pekerja teater pelajar yakni para pelajar sangat menentukan eksistensi komunita teater tersebut.
Maka, ketika sebuah komunitas teater pelajar yang telah punya nama harus mampu mempertahankan nilainya di mata masyarakat sebab pihak umum tidak melihat siapakah pemainnya (individu) tetapi sebuah komunitas teater pelajar. kehadiran festival-festival teater pelajar dirasa cukup membantu untuk meningkatkan kembali dalam berteater.
Langganan:
Postingan (Atom)


