20 Januari 2009

Naskah : Sebuah Salah Paham

NASKAH : TEATER I “SEBUAH SALAH PAHAM’’
KARYA : SAMUEL BECKETT
ALIHBAHASA :MAX ARIFIN
diketik ulang oleh Muharram

Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.
A, buta, duduk di atas bangku dengklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.
Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-

Pause.-

1.A. :
Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. B masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].
Sedekahlah untuk orang tua melarat.
[Pause].-

2.B :
Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!

[Pause].

Sekarang aku bisa kembali,karena misteri itu sudah terungkap .[dia kembali memandang kursi rodanya.Berhenti]. Atau, bagaimana kalau kita bergabung dan hidup bersama,sampai maut datang menjemput.[Pause]. Bagaimana pendapatmu tentang itu,Billy? Boleh aku memanggil kau Billy seperti nama anakku? [Pause].Kau ingin seorang teman, Billy?[Pause] Kau mau makanan kaleng, Billy?

3.A :
Makanan dalam kaleng? Makanan apa itu?

4.B :
Daging dalam kaleng,Billy; ya, daging dalam kaleng.Cukup untuk menjaga kesehatan badan dan jiwa sampai musim panas. [Pause]. Tidak? [Pause]. Juga ada beberapa buah kentang,Ya,cuma beberapa pon.[Pause] .Kau suka kentang,Billy?
[Pause] .Malah kita bisa membiarkan kentang-kentang itu bertunas kemudian kita menanamnya.Kita bisa mencobanya.[Pause] Aku memiliki tanahnya dan kau bisa menanamnya.[Pause].Tidak?

[Pause]

5.A. :
Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh?


6.B :
Sulit mengatakannya.Seperti kau ketahui, sekarang ini musim dingin.

[Pause]
7.A :
Sekarang ini siang atau malam?

8.B :
Oh,…[memandang ke langit] sekarang siang, kalau kau mau.Tak ada matahari,tentunya, sebab kalau ada kau tentulah tidak bertanya. [Pause].Dapat kau mengerti apa maksudku? [Pause] Apakah kau masih memiliki kecerdasan tentang dirimu sendiri. Billy, apakah kau memiliki akal budi tentang dirimu ?

9.A :
Kalau cahaya,bagaimana. Ada ?

10.B :
Ya. [Memandang ke langit lagi]. Ya,cahaya. Tak ada kata yang tepat untuk itu. [Pause]. Boleh aku menjelaskannya padamu ? [Pause]. Boleh aku mencoba memberikan sebuah gagasan tentang cahaya ini ?

11.A :
Bagiku, kadang-kadang bila aku menghabiskan waktuku di sini di waktu malam, itu berarti memainkan biola tua ini atau mendengar, mengawasi ada orang datang. Aku biasa merasakan bagaimana senja menjelang dan mempersiapkan diri. Aku menyisihkan biola dan mangkok dan berdiri bila ia menuntun aku.

[Pause].-

12.B :
Dia ? Dia siapa ?

13.A :
Dia istriku. [Pause] Seorang wanita. [Pause]. Tapi sekarang……….[Pause]

14.B :
Sekarang ?

15.A :
Kapan aku keluar, aku tidak tahu; dan kapan aku tiba di sini aku tidak tahu dan selama aku berada di sini aku tidak tahu, apakah siang atau malam.

16.B :
Kau tidak selalu seperti dirimu. Apa yang menguasai kau ? Perempuan?Judi? Atau Tuhan ?

17.A :
Aku akan selamanya seperti diriku.

18.B :
Mari !


19.A :
[Marah]. Aku akan selamanya seperti diriku,dicekam kegelapan sambil menggesek biola yang menghasilkan nada-nada sumbang menuju ke empat penjuru angin.

20.B :
[Marah]. Kita mempunyai istri, bukan? Istrimu akan menuntun kau dan istriku akan mendorong kursi roda ini ke luar di waktu malam dan pulang lagi di waktu pagi dan mendorong aku sejauh mungkin bila aku bingung.

21.A :
Kau pincang ? [Tanpa emosi] Mahluk yang malang !

22.B :
Cuma satu masalah: kalau putar ke kanan. Bila tak ada masalah yang satu ini, kupikir aku akan bisa mengelilingi dunia ini dengan cepat. Sampai pada suatu hari ketika aku menyadari aku bisa pulang. [Pause]. Umpama begini. Aku berada di A [ Ia mendorong dirinya sedikit ke depan lalu berhenti]. Aku bergerak ke B [Ia mendorong dirinya ke belakang sedikit, berhenti]. Dan aku kembali lagi ke A [dengan penuh kesulitan]. Garis lurus ! Ruang kosong ! [Pause]. Bisa aku mulai menggerakkan kau ?

23.A :
Kadang-kadang aku mendengar langkah-langkah orang mendekat. Atau suara-suara. Aku bilang pada diriku, mereka itu sedang berjalan pulang, beberapa orang memang berjalan pulang, mencoba dan memulai lagi atau sedang mencari seseorang yang mereka tinggalkan di belakang.

24.B :
Kembali! [Pause] Siapa yang mau kembali ke mari ? [Pause] Padahal kau tidak pernah menyeru ! [ Pause] Berteriaklah ! [Pause]. Tidak ?

25.A :
Apakah kau mengamati sesuatu yang tidak ada?

26.B :
Oh, aku? Mengamati sesuatu ? Kau tahu, aku duduk di sana, tergeletak di atas kursi, di kegelapan selama 23 jam dalam sehari. [Marah] Apa yang harus kuamati ? [Pause]. Kau pikir kita akan mengadakan semacam perlombaan setelah kau mulai mengenal aku, he ?

27.A :
Kau bilang tadi daging dalam kaleng ?

28.B :
Tepat.Bagaimana kau hidup selama ini? Kau tentulah kelaparan.

29.A. :
Di mana mana banyak terdapat sesuatu.

30.B :
Yang dapat dimakan?


31.A :
Kadang-kadang.-

32.B :
Kenapa tidak kau biarkan saja dirimu mati kelaparan?

33.A :
Dalam hidupku aku pernah berbahagia. Suatu hari aku mendapat sedekah berupa buah-buahan sebanyak satu keranjang besar.

34.B :
Tidak !

35.A :
O, ya, cuma satu keranjang kecil penuh buah-buahan di pertengahan jalan ini.

36.B :
Oke, baiklah. Tapi kenapa tidak kau biarkan dirimu mati ?

37.A :
Aku memang pernah memikirkan hal itu.

38.B :
[Mangkel].Tapi kau toh tidak melakukannya.
39.A : Aku cukup bahagia.{Pause]
Memang aku selalu tidak bahagia, tapi cukup bahagia.

40.B :
Tapi kau tentulah setiap harinya akan bertambah tidak bahagia.

41.A :
[Marah].Aku cukup bahagia. [Pause]

42.B :
Sekiranya memang kita-kita ini dibuat untuk kepentingan satu sama lain, bagaimana ?

43.A :
[Gerak gerik yang penuh arti].Kini, bagaimana semua hal itu tampaknya ?

44.B :
Oh, aku ? Aku tidak pernah pergi jauh-jauh. Cuma maju-mundur didepan pintu rumahku. Sebelumnya aku tidak pernah ke mari.

45.A :
Tapi apakah kau mencari dirimu?

46.B :
Bukan, bukan begitu !

47.A :
Setelah masa kegelapan itu, kau tidak………

48.B :
[Marah].Bukan?! [Pause]. Tentu, kalau kau mau aku mencari diriku, aku akan melakukannya. Dan akhirnya kau tidak keberatan mendorong kursi rodaku ini, aku akanmencoba melukiskan pemandangan di sekitar kita sementara kita melaju ke depan.

49.A :
Maksudmu aku akan menuntunmu ? Aku tidak mau tersesat lagi.

50. B :
Tentu. Aku akan bilang begini; Hati-hati, Billy, kita sedang menuju ke sebuah tumpukan kotoran yang besar. Mundur sedikit dan belok ke kiri. Itulah kata-kata yang akan kuberikan padamu.

51.A :
Kau akan bilang begitu ?

52.B :
[Tampak puas] Gampang bukan? Gampang sekali, Billy. Di sana dalam parit aku melihat sebuah kaleng. Mudah mudahan ia berisi sop. Atau mungkin juga sayur kacang buncis.

53.A :
Sayur kacang-buncis ! [Pause].-

54.B :
Apakah kau mulai menyukai aku ? [Pause]
Atau itu cuma imajinasiku.

55.A :
Sayur buncis ! [Ia bangun, mengambil mangkoknya dan manyodorkan ke arah B,meminta]. Di mana engkau ?

56.B :
Di sini, temanku sayang. [A mencoba mendorong kursi roda itu dengan serampangan]. Berhenti,berhenti !

57.A :
[Terus juga mendorong]. Bukankah ini suatu berkah bagimu? Atau katakanlah semacam hadiah !

58.B :
Berhenti ! [Ia mencondongkan badannya ke belakang. A membiarkan kursi roda itu menggelinding dan melompat ke belakang. Pause. A menggapai –gapai mencari bangku tempat duduknya. Maju.Berhenti, menggapai-gapai lagi. Tidak ditemukan bangku tempat duduknya itu]. Maafkan aku. [Pause]. Maafkan aku, Billy.

59.A :
Di mana aku ? [Pause].Di mana aku tadi ?

60.B :
Rupanya aku kini kehilangan dia. Padahal ia sudah mulai menyukai aku. Tapi aku mengecewakan dia. Ia akan meninggalkan aku dan aku tidak akan melihat dia lagi. Aku tidak akan melihat siapapun lagi. Kita tidak akan mendengar suara-suara manusia lagi.

61.A :
Apakah kau tidak mendengarnya ? keluhan dan rintihan yang sama sejak dari buaian ibunda sampai ke kuburan.

62.B :
[Mengerang].Lakukanlah sesuatu untukku sebelum aku pergi.

63.A :
Di sana. Kau bisa dengar ? [Pause].Aku tidak bisa pergi ![Pause].Kau dengar ?

64.B :
Kau tidak bisa pergi ?

65.A :
Aku tidak bisa pergi tanpa alat-alatku ini.

66.B :
Alat-alat apa itu yang menjdi milikmu ?

67.A :
Tak ada.

68.B :
Lho,katanya kau tidak bisa pergi tanpa alat-alatmu.

69.A :
Memang. [Ia mulai meraba-raba lagi, lalu berhenti].Akhirnya aku akan mendapatkannya.[Pause].Atau aku tinggalkan saja.

70.B :
Tolong perbaiki selimut pada kakiku. Kakiku terasa sangat dingin.[A berhenti].Bisa saja kulakukan sendiri, tapi akan terlalu lama.[Pause].Lakukanlah untukku, Billy.Sudah itu aku bisa kembali ke sudut yang sepi itu dan di sana aku bilang: aku telah melihat orang untuk terakhir kalinya, aku mengecewakan dia setelah dia sempat menolong aku.

[Pause]

Kutemukan kepingan-kepingan cinta di sudut hatiku dan kematiannya dapat kupadukan dengan jenis diriku.[Pause].Kenapa kau memandang tercengang seperti itu padaku ? [Pause].Apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak pantas kukatakan? [Pause].Bagaimana rupa jiwaku?[ A berjalan dengan meraba-raba menuju padanya].



71.A :
Bersuaralah !
[B mengeluarkan suara. A meraba-raba menuju padanya lagi.Berhenti].

72.B :
Apakah alat penciummu sudah tumpul ?

73.A :
Dimana-mana cuma tercium bau busuk.
[A membuka lebar-lebar tangannya.Apakah tanganmu tidak bisa menjangkau tanganku? [Ia berdiri diam,tanpa gerak dengan tangan terbuka ke depan].


74.B :
Sebentar.Kau kan tidak melakukan sesuatu dengan cuma-cuma.[Pause].Kumaksudkan,tanpa syarat.[Pause].Tuhan Maha Pengasih.[Pause].Ia dapat memegang tangan A dan menarik ke dekatnya].

75.A :
Kakimu ?

76.B :
Apa ?

77.A :
Kau bilang kakimu !

78.B :
Aku cuma tahu kata kaki.[Pause]. Ya ,kakiku,cobalah bungkukskan dengan baik
[A membungkuk, meraba-raba].Berlututlah, dengan berlutut kukira kau akan lebih santai.[B membantu A untuk berlutut di suatu tempat yang baik].Ah, di sana !

79.A :
[Merasa diganggu].Biarkan tanganku merabamu.Kau ingin supaya aku membantumu, tapi kau pegang tanganku.
[B membiarkan tangannya meraba dan ia merasa geli ketika selimut kakinya diraba].Apakah kau cuma mempunyai satu kaki?

80.B :
Memang cuma satu.

81.A :
Dan yang satunya?

82.B :
Membusuk, lalu dipotong.[A membungkus kaki yang satu ini]

83.A :
Sudah cukup?

84.B :
Ketatkan sedikit.[A melakukannya].Cekatan sekali tanganmu.
[Pause].-

85.A :
[Meraba-raba, menuju perut B].Apakah ini bagian-bagian lainnya ?

86.B :
Kini kau boleh berdiri dan meminta balas jasamu.

87.A :
Bagian-bagian lainnya bagaimana ?

88.B :
Bagian-bagian lainnya memang tidak dipotong, kalau itu yang kau ingin ketahui.[Tangan A meraba ke atas lagi, meraba wajah B].

89.A :
Ini wajahmu ?

90.B :
Sumpah, memang itu wajahku.[Pause].Seperti apa kira-kira wajahku itu? [Jari-jari A meraba ketempat-tempat lainnya]. Itu ? Itu namanya kutil.

91.A :
Merah ?

92.B :
Ungu ! [A menarik tangannya, tapi tetap berlutut].Tanganmu memang cekatan ! [Pause]

93.A :
Masih tetap siang ?

94.B :
Siang ?[Memandang ke angkasa].Terserah kalau kau mau.[Memandang].Memang tak ada kata yang tepat untuk itu.

95.A :
Kira-kira akan segera malam? [B membungkukkan badannya pada A dan memegang pundak A]

96.B :
Mari,Billy,berdirilah,kini kau mulai merepotkan aku.

97.A :
Apakah akan segera malam ?




98.B :
[Memandang ke langit].Siang….malam….[memandang lagi].kadang-kadang tampak bagiku dunia ini begitu angkuh dan sombong; diberikannya kita siang tanpa matahari, di tengah-tengah jantung musim dingin, di suatu malam yang kelabu.[Memegang bahu A lagi].marilah,Billy, berdirilah, kau kini mulai merintangi aku.

99.A :
Apakah dimana-mana tampak rumput ?

100.B :
Tidak.

1.A :
[Gemas].Tidak tampak hijau di mana-mana ?

2.B :
Cuma ada sedikit lumut.[Pause.A mengelus-elus selimut kaki B, lalu meletakkan kepalanya di atas kaki B itu].
Tuhan Maha Pemurah ! Apakah kau tidak akan berdoa ?

3.A :
Tidak !

4.B :
Atau menangis barangkali ?

5.A :
Tidak.[Pause].Aku bisa meletakkan kepala seperti ini untuk selama-lamanya, di atas lutut seorang teman tua.

6.B :
Lutut! [Menggoncang-goncangkan badan A dengan keras].Apakah kau tidak bisa bangun?

7.A :
[Membenah dirinya agar lebih nyaman].Alangkah tenang dan damainya ! [B menolaknya dengan keras. A jatuh dan bertelokan pada tangannya]. Dora,istriku sering bilang bila aku tidak cukup memperoleh uang: Kau dan harpamu! Lebih baik kau merangkak ke segenap penjuru dunia dengan medali-medakli ayahmu yang kau sematkan di pantat celanamu dan kotak uang bergantungan di lehermu. Kau dan alat musikmu itu! Kau pikir kau ini siapa sih ?
Dan dia membiarkan aku tidur di lantai.[Pause]. Siapakah aku ini ?…….[Pause].Ah, aku tidak mampu menerkanya. [Pause].Lalu dia berdiri. Tidak pernah mampu.[Ia mulai meraba lagi, mencari tempat duduknya, lalu berhenti dan memasang telinga seperti mendengar sesuatu].Jika suara-suara itu cukup lama kudengar, maka sebuah harpa dengan satu tali cukuplah.

8.B :
Harpamu ? [Pause].Macam apakah kiranya harpamu itu ?



9.A :
Dulu pernah aku memiliki sebuah harpa kecil.Tapi diamlah, dan biarkan aku mendengar sesuatu.[Pause]

10.B :
Berapa lama kau mampu diam seperti itu ?

11. A :
Aku bisa berjam-jam mendengar segala macam suara.
[Keduanya memasang telinga, mendengar]

12.B :
Suara-suara apakah itu ?

13.A :
Aku tidak tahu suara apa itu.
[Keduanya memasang telinga lagi.Mendengar]

14.B :
Aku dapat melihatnya.[Pause].Aku dapat…………

15.A :
[Marah] Apakah kau tidak mau diam ?

16.B :
Tidak ! [B melepaskan kepala A yang dipegang dari tadi].Aku dapat melihat dengan jelas, itu di tempat dudukmu.[Pause]. Bagaimana kalau aku mengambilnya lalu kabur? [Pause]. Eh, Billy, bagaimana tanggapanmu ? [Pause].
Suatu hari nanti, akan ada orang tua yang lain, muncul dari persembunyiannya dan mendapatkan kau sedang membunyikan harmonikamu. Dan kau akan mengatakan padanya, bahwa kau pernah memiliki sebuah biola kecil.[Pause]. Eh, Billy ! [Pause] Aatau kau sedang menyanyi. [Pause]Eh ,Billy, bagaimana tanggapanmu ?[Pause]
Dan di sana, ia akan bersiut-siut pada angin musim dingin setelah kehilangan harmonika kecilnya.
[Ia mendorong A dengan tongkatnya]. Eh, Billy ?
[A berputar, memegang ujung tongkat itu dan merampasnya dari tangan B].

Layar. Layar.-

15 Januari 2009

Lintang-lintangku


Tuhan, kenapa aku menjadi perasa.
ketika kubaca lembar-lembar Lintang baru
dalam berita kota.

tak perlu jauh aku sebrang ribu pulau
tak ayal aku susah kayuh sepeda puluhan kilo
mereka, Lintang-lintang muda dipelukku

Haryono. mengayuh sepeda dan baca pakai
lampu minyak
hidup di tambak keramba

Iis. putri angkasa wajah sumbing
alas kaki tak ada. tinggal baju krem dan
rok merah kelabu

Joko. hirup sampah tiap hari
tak ada serpih tak ada kasih
hidup menunggu waris bapak ibu
: rumah kardus mudah gusur.

tak jauh aku liat Lintang sedih
menanti liburan monyet kapan datang
hingga kata, aksara, dan angka mudah saja ada
hingga matahari didepanpun nampak
tak perlu malam suntuk sampai ajal menjambak.

13 Januari 2009

Tinggal Aku


menantimu

tak tahu aku malam ini jadi apa?
ketika sepi jadi selimut
saat kabut buramkan mata pada langit

aku takut ketika malam datang
ketika yelda terjadi ditiap malamku
bukan lagi malam pertama musim semi yang panjang
bagai kasih tak sampai bulan dan matahari

malam

sepi itu sekali lagi menerjangku
merajam tiap sel yang mengatur nyawaku
menidurkan jiwa yang ambruk olehmu
petaka jadi biasa karenamu

gulita

aacchh,...
tergadai aku pada rasa
terlanjur serah terima padamu
maka, ku nanti yang tak berujung
ku tunggu kau yang berlari
bukan padaku tapi menjauh

+++++++++++++++++++++++++++++

Malam-Mu


tuhan,...
aku ingin bertanya padaMU
siapakah yang lebih dulu ada
hamba ataukah alam?

ketika sayap-sayap sepi
menggenapi aku jadi seribu diam
aku bertanya padaMu
dan alam menjawab dalam tanda
bukan lambang

tuhan,...
benarkah surga itu milikMu?
lalu kenapa Kau janjikan padaku
makhluk kasat mata penuh dusta
yang mencari semua karena janji
bukan karna diri

aku bukan siapa-siapa, Tuhan
aku hanya sisi lain dari malam
gelap, sepi, dingin, tanpa cercah cahya

bulan bukan aku, tuhan
ia terlalu indah untukku
biarkan getir menyapaku
biarkan sepi jadikan aku sendirian

cinta itu, Tuhan
ialah kasih yang telah mengkristal
indah namun melukai.

Sayang,..


bosan, aku menepi tuju malam
kapan pagi menerkam
jangan hanya temani buram
aku ingin kau sang pualam

lelah jadi indah
mimpi tak terasa singgah

apakabar cinta?
sepertinya sama seperti biasanya
gejolak dan mereda

disana ada cahaya setitik
serangga hinggapi tak ada laik

sayang,...

02 Januari 2009

Mengejar Bayangan Cinta


tak ada yang tahu kemana aku melangkah hari ini. bebas rasanya, tak ada lagi orang-orang yang mengawasiku siang dan malam hanya untuk mengetahui apakah aku baik-baik saja.
aku lari dari rumah,.. ya,.. aku lari dari rumah yang telah membuat aku terus bermimpi tentang dunia luas. kini, semua itu bukan lagi mimpi. aku berlari kencang sekali setelah berjalan berjingkat sepanjang blok rumahku.
tujuan yang aku jelas, jelas sejelas matahari musim panas. aku akan mencari katya. wanita yang telah mencuri perhatianku, wanita yang telah menyita semua impianku. kami bertemu saat misa pagi di gereja. ibu sangat ingin membawa kami, aku dan adikku, ke gereja sejak dulu terakhir aku ke gereja saat aku dibaptis entah berapa tahun yang lalu. pagi itu memang aneh, cuaca begitu cerah meski musim dingin sedang menjadi-jadi. tak ada kabut. aku mengenakan pakaian terbaikku sedangkan adikku, yosef, masih terkantuk bahkan tidur disaat semua jemaat membacakan salah satu bagian injil.
katya bukan seorang katolik seperti aku, ia seorang muslim. ayahnya memiliki sebuah toko bunga di depan gereja. bersama ayahnya ia menawarkan bunga setiap hari kepada para jemaat dan pejalan kaki.
pertama yang kulihat dari katya ialah matanya. mata itu sangat indah, hijau seperti zambrut yang dibentuk dengan sempurna. aku menghampirinya mencoba menggodanya dengan senyum terbaikku. menanyakan harga setangkai bunga mawar tanpa melihatnya sebab yang ku perhatikan hanya matanya, zambrut itu. mendapat prlakuan itu zambrut muslimku tersipu tanpa kusadari ayahnya memperhatikan kami dan mengambil alih percakapan kami
"ada apa anak muda?"
"maaf pak, berapa harga mawar itu?" jawabku sedikit gugup
"1 dolar 50 sen"
tanpa berpikir panjang aku menyerahkan uang ke tangan ayah katya. ketika aku tetap tak beranjak dari tempat ku semula, ayah katya kembali membangunkan lamunanku
"ada lagi anak muda?!"
"tidak, terimakasih" lalu aku dengan enggan beranjak menuju gereja. menuju misa pertamaku. seminggu kemudian aku kembali ke gereja untuk melaksanakan misa. ketika akan membeli bunga aku mencari-cari alasan untuk menanyakan namanya. "tolong tuliskan di kertas ini "dari andrye" a-n-d-r-y-e andrye!"
"maaf nona,...?"
"katya."
"ya, nona katya. aku ingin anda merangkaikan saya bunga yang cantik" dengan cekatan katya berdiri lalu memilih beberapa bunga kemudian ia selimuti bunga itu dengan plastik bening serta memberinya pita. indah sekali. inilah bunga terindah yang aku beli. "ini tuan"
"jangan panggil saya tuan, panggil saya andrye"
"10 dollar tuan!" tiba-tiba aku mendengar suara ayah katya dari belakangku, terlihat sekali dalam nadanya bahwa ia tak suka aku bicara terlalu lama dengan anaknya, zambrut sempurnaku.
aku menyerahkan uang sepuluh dollar kepada ayah katya lalu pergi. dari belakang aku mendengar katya menayakan kenapa harga bunga itu mahal sekali
"bunga itu memang hanya 3 dollar saja, tapi ia bicara padamu terlalu lama dan aku tidak suka"
"maaf ayah" malam itu, seperti biasa aku makan malam bersama ibu dan adikku, yosef, malam itu adalah malam yang indah. bulan dapat kulihat dari sela-sela jendela. langit begitu jernih. angin bertiup tenang dan aku membayangkan zambrut sempurnaku malam malam bersama kami atau mungkin hanya kami berdua. di meja ada lilin yang menyala dan terdengar suara seksofon mengalun pelan. oh,... indah sekali. kenapa itu aku sangat suka melamun, sebab di dunia ini aku bisa merasakan apa saja ingin aku rasakan, dan aku memilih merasakan katya tiap malam dan merindukan miusa pagi di hari minggu, bukan hanya untuk berdoa tapi juga untuk melihat matanya yang indah luar biasa. pagi hari di hari minggu yang dingin aku bergegas ke gereja, aku berangkat terlebih dulu daripada ibu dan yosef. telah ku sipakan sebuah pertanyaan untuk katya. aku ingin menanyakan maukah ia makan malam denganku kapan saja katya punya waktu luang.
pakaian terbaik yang kumiliki telah terpakai, parfum, minyak rambut, sepatu telah aku persiapkan, semuanya terbaik. terbai yang pernah aku miliki aneh. aku yang terlalu pagi atau bagaimana? tak kulihat bus mini tempat katya dan ayahnya menjual bunga. aku menunggu tapi ku yakinkan pada diriku bahwa katya akan datang dengan ayahnya dan menjual mereka lalu aku akan membeli sebuah rangkaian bunga yang indah buatan katya.
aku tetap menunggu hingga ibu dan yosef datang serta para jemaat. aku masih menunggu hingga jemaat masuk ke gereja semua. dan aku masih menunggu ketika gereja telah sepi. hujan turun aku pasang payungku dan tetap berdiri ditempat yang sama selama hampir tujuh jam. aku pergi pulang ketika yosef menjemputku untuk makan malam. malam itu tak indah sama sekali bahkan suram. tigabelas misa pagi telah lewat tanpa aku melihat zambrut sempurnaku, katya, dan selama itu aku tak pernah mengikuti misa aku hanya duduk ditempat yang sama ketika aku menanti katya. pakaian, parfum, minyak rambut, sepatu yang sama setiap minggu kukenakan. ingin sekali aku mengatakan bahwa aku ingin makan malam dengannya, memegang tangannya, dan menatap zambrut indah matanya.
ingin sekali aku mengatakan aku merindukannya. bahkan dalam mimpi dan lamunan ia tak datang, tapi telah kukuatkan hatiku.
aku akan tetap menunggunya bahkan mungkin mencarinya. karena kesibukan anehku (aneh menurut ibu dan yosef) aku dilarang datang di misa pagi ini. mereka mengatakan bahwa pastur melarang ia datang ke gereja. padahal selama ini aku tak pernah masuk gereja hendak aku protes tapi mereka dengan cepat menutup pintu kamarku dari luar.
"ibu, ibu, ibu. aku ingin pergi ke gereja ibu."
"yosef, yosef, yosef"
aku ulai memohon namun yang terdengar hanya bunyi klik pintu rumah ditutup. aku melihat mereka berangkat dari jendela kamarku yang berteralis. kupegang gagang jendela besiku, menyesal karena aku tak tahu pikiran busuk mereka yang telah mengurungku. selama ini, ibu selalu melarangku keluar rumah selain ke gereja. ia mengatakan bahwa dunia luar hanya akan mengacaukan pikiranku. ternyata, memang pikiraku kacau di saat pertamakali aku keluar rumah menuju gereja lalu makin kacau ketika aku mulai menyadari betapa aku ingin beretemu katya. tapi aku merasakan keanehan dari pikiranku ini, ia tidak membuat aku merasa lemah melainkan hebat, ia tidak membuat aku terpuruk tetapi ingin menantang dunia, ia tak menciptakan sedih melainkan gembira yang tertahan, menanti untuk di keluarkan. kini aku telah lari dari rumahku. meninggalkan ibu dan yosef di malam hari. aku akan menuju arah yang paling aku suka. aku akan melangkah menuju getar-getar kuat dalam hatiku. aku akan menunggu. bukan hanya menunggu diam, tapi aku akan menunggu dengan mencarinya, katya, zambrut sempurnaku. cintaku. (selesai 22 april 2008)

tak ada pulang


lari,
lari,
lari,
lari,

sampai dimana?

lari,
lari,
lari,
lari,

sampai?

lari,
lari,
lelah,
diam,

tak pernah selesai
jalan yang makin sepi
diujungnya aku bertemu jalan baru
tak ada ujung

lari,
lari,
lari,
lari,

ternyata jauh sudah

kau tetap disitu
bayanganku, bangsat!

lari,
lari,
lari,
lari,

sama saja.
hadapi ragu
lari lelah
putuskan tak bisa

lari,...