20 Januari 2009

Naskah : Pagi Bening


Pagi Bening


Drama Komedi Satu Babak
Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero
Terjemahan Drs. Sapardi Joko Damono
© 2006


P a g i B e n i n g
( Drama Komedi Satu Babak dari tanah Spanyol )
Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero
Terjemahan Drs. Sapardi Joko Damono


T e m p a t K e j a d i a n
Madrid – Spanyol
Di suatu tempat – Taman terbuka
Di jaman ini juga


P e m a i n
Donna Laura
Wanita tua, berumur kira-kira 70 tahun
Masih nampak jelas bahwa dulunya cantik dan tindak tanduknya menunjukkan bahwa mentalnya juga baik.
Don Gonzalo
Lelaki tua, berumur kira-kira 70 tahun lebih
Agak congkak dan selalu tampak tidak sabaran
Petra
Gadis pembantu Laura
Juanito
Pemuda pembantu Gonzalo









( DONNA LAURA MASUK, BERPEGANGAN TANGAN PADA PETRA. TANGANNYA YAN LAIN MEMBAWA PAYUNG YANG JUGA UNTUK TONGKATNYA )

LAURA : Aku selalu merasa gembira sekali di sini. Syukur bangkuku tidak ditempati orang lain. Duhai, pagi yang cerah! Cerah sekali.

PETRA : Tapi matahari agak panas, Senora.

LAURA : Ya, kau masih duapuluh tahun (ia duduk di bangku belakang). Aku merasa lebih letih dari biasanya (melihat petra yang nampak tak sabaR), pergilah kalau kau ingin ngobrol dengan tukang kebunmu itu!

PETRA : Dia bukan tukang kebunku, Senora, dia tukang kebun taman ini!

LAURA : Ia lebih tepat disebut milikmu daripada milik taman ini. Cari saja dia. Tapi jangan sampai terlalu jauh hingga tak kau dengar panggilanku.

PETRA : Saya sudah melihatnya di sana, menanti.

LAURA : Pergilah, tapi jangan lebih dari sepuluh menit!

PETRA : Baik, Senora (berjalan ke kanan)

LAURA : Hei, nanti dulu!

PETRA : Ada apa lagi, Senora?

LAURA : Berikan remah-remah roti itu!

PETRA : Ah, pelupa benar aku ini!

LAURA : (senyum) Aku tahu! Pikiranmu sudah lekat ke sana, heh, si tukang kebun itu!

PETRA : Ini, Senora (mengeluarkan bungkusan roti. Keluar ke kanan)

LAURA : Adios! (memandang ke arah pepohonan). Ha, mereka datang. Mereka tahu kapan mesti datang menemui aku (bangkit dan menyerahkan remah-remah roti). Ini buat yang putih, ini untuk yang coklat, dan ini untuk yang paling kecil tapi kenes. (tertawa dan duduk lagi memandang merpati yang sedang makan). Ah, merpati-merpati yang manis. Itu yang besar mesti lebih dulu, kentara dari kepalanya yang besar, dan itu ... aduh , kenes benar. Hai, yang satu itu selesai mematuk terus terbang ke dahan. Bersunyi diri. Agaknya ia suka berfilsafat. Tapi dari mana saja mereka ini datang? Seperti kabar angin saja! Meluas dengan mudah. Ha, ha, jangan bertengkar. Masih banyak. Besok kubawakan yang lebih banyak lagi!
(don gonzalo dan juanito masuk dari kiri. Gonzalo bergantung sedikit pada juanito. Kakinya bengkak, agak di seret)

GONZALO : Membuang-buang waktu melulu! Mereka itu suka benar bicara yang bukan-bukan.

JUANITO : Duduk di sini sajalah, senior. Hanya ada seorang wanita.
(dona laura menengok dan mendengarkan)

GONZALO : Tidak, Juanito. Aku mau tersendiri.

JUANITO : Tapi tak ada .

GONZALO : Yang di sana itu kan milikku!

JUANITO : Tiga orang pendeta duduk di sana, Senior!

GONZALO : Singkirkan saja mereka! ... ... ... Sudah pergi!

JUANITO : Tentu saja belum! Mereka tengah bercakap-cakap.

GONZALO : Seperti merekat pada bangku saja mereka itu! Heh, tak ada harapan lagi, Juanito. Mari!

JUANITO : (menggandeng ke arah merpati-merpati)

LAURA : (marah). Awas hati-hati!

GONZALO : Apa Senora berbicara dengan saya?

LAURA : Ya, dengan tuan!

GONZALO : Ada apa?

LAURA : Tuan menakut-nakuti burung-burung merpati saya!

GONZALO : Peduli apa burung-burung itu!

LAURA : Apa, ha?

GONZALO : Ini taman umum, Senora!

LAURA : Tapi kenapa tadi tuan mengutuki pendeta-pendeta di sana itu?

GONZALO : Senora, tapi kita belum pernah jumpa! Dan kenapa tadi Senora menegur saya? Ayo, juanito! (melangkah ke kanan)

LAURA : Buruk amat perangai si tuan itu! Kenapa orang mesti jadi tolol dan pandir kalau sudah meningkat tua? (melihat ke kanan). Syukur. Ia tidak mendapat bangku! Itu, orang yang menakut-nakuti merpati-merpatiku. Ha, ia marah-marah. Ya, ayo, carilah bangku kalau kau dapat! Aduh, kasihan, ia menyeka keringat di dahi. Nah, itu dia kemari lagi. Debu-debu mengepul seperti kereta lewat! (juanito dan gonzalo masuk)

GONZALO : Apa sudah pergi pendeta-pendeta yang ngobrol itu, Juan?

JUANITO : Tentu saja belum, Senior?

GONZALO : Walikota seharusnya lebih banyak menaruh bangku-bangku di sini! Terpaksa juga aku kini duduk bersama wanita tua itu!
(ia duduk di ujung bangku,memandang dengan iri kepada laura, dan memberi hormat dengan mengangkat topi). Selamat pagi.

LAURA : Jadi tuan di sini lagi?

GONZALO : Ku ulang lagi, kita kan belum pernah jumpa!

LAURA : Saya toh cuma membalas salam tuan!

GONZALO : “Selamat Pagi”, mestinya cukup dibalas dengan “selamat pagi” saja.

LAURA : Tapi tuan seharusnya juga minta ijin untuk duduk di bangku saya ini.

GONZALO : Ahai, bangku ini kan milik umum!

LAURA : Kenapa bangku yang di san itu juga tuan katakan milik tuan, hah?

GONZALO : Baik, baik! Sekian sajalah!
( pada dirinya sendiri ) Dasar perempuan tua! Patutnya dia di rumah saja, merenda atau menghitung tasbih.

LAURA : Jangan mengoceh lagi. Aku juga tokh, tak akan pergi untuk sekedar menyenangkan hatimu!

GONZALO : (mengelap sepatunya dengan sapu tangan). Kalau disiram air sedikit tentu lebih baik. Tak berdebu lagi jadinya taman ini.

LAURA : Apa tuan biasa menggunakan saputangan sebagai lap?

GONZALO : Kenapa tidak?!

LAURA : Apa tuan juga menggunakan lap sebagai sapu tangan?

GONZALO : Hah? Nyonya kan tak punya hak untuk mengeritik saya!

LAURA : Toh sekarang saya ini tetangga tuan!

GONZALO : Juanito! Buku! Bosan mendengarkan nonsense macam itu!

LAURA : Alangkah sopan santun tuan ini!

GONZALO : Maaf saja nyonya. Tapi saya mengharap nyonya tidak bernapsu campur tangan urusan orang lain!

LAURA : Saya memang biasa melahirkan pikiran-pikiran saya.

GONZALO : Hhh, Juanito! Buku!

JUANITO : Ini, tuan! (mengambil buku dari kantong, don gonzalo memandang dengki pada laura; gonzalo mengeluarkan kaca pembesar dan kacamata: membuka buku)

LAURA : Oh, saya kira tuan mengeluarkan teleskop.

GONZALO : Nyonya bicara lagi!

LAURA : Tentunya penglihatan tuan masih baik sekali!!

GONZALO : Jauh lebih baik dari penglihatan nyonya!

LAURA : Ahai, tentu saja!

GONZALO : Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada kelinci-kelinci dan burung-burung.

LAURA : Artinya tuan suka berburu kelinci dan burung?

GONZALO : Saya pemburu memang. Dan sekarang pun saya tengah berburu.

LAURA : Ya, tentunya! Begitulah!

GONZALO : Ya, Senora. Tiap Minggu saya menyandang bedil bersama anjing saya pergi ke Arazaca. Iseng-iseng berburu! Membunuh waktu!

LAURA : Ya, membunuh waktu! Apa hanya waktu saja bisa tuan bunuh?

GONZALO : Nyonya kira begitu? Saya bisa menunjukkan kepala beruang besar dikamar saya!

LAURA : Dan saya juga bisa menunjukkan kepala singa di kamar tamu saya, meskipun saya bukan pemburu!

GONZALO : Sudahlah nyonya, sudah! Saya mau membaca. Percakapan cukup! Ngomong putus!

LAURA : Ha, tuan menyerah!

GONZALO : Tapi saya mau ambil obat bersin dulu. (mengambil tempat obat). Nyonya mau? (memberikan obat itu)

LAURA : Kalau cocok!

GONZALO : Ini nomor satu! Nyonya tentu akan suka!

LAURA : Memang biasanya akan menghilangkan pusing.

GONZALO : Saya pun begitu.

LAURA : Tuan suka bersin?

GONZALO : Ya tiga kali.

LAURA : Persis sama dengan saya! (setelah mengambil bubukan, keduanya bersin berganti-ganti masing-masing tiga kali).

GONZALO : Ehaaaah, agak enakan sekarang.

LAURA : Saya pun merasa enak sekarang.
(KE Samping) Obat itu telah mendamaikan kami rupanya!

GONZALO : Maaf, saya mau membaca keras. Tidak mengganggu kan?

LAURA : Silahkan sekeras mungkin, tuan tidak menggangu saya lagi.

GONZALO : (membaca) “ Segala cinta itu menyakitkan hati
Tetapi bagaimana jugapun pedihnya
Cinta adalah sesuatu yang terbaik
Yang pernah kita miliki “
Nah, bait itu dari penyair Campoamor.

LAURA : Ah!

GONZALO : (membaca) “ Anak-anak dari para bunda
Yang pernah kucinta
Menciumku sekarang
Seperti bayangan hampa “
Baris-baris ini agak lucu juga rasanya.

LAURA : (tertawa) Kukira juga begitu.

GONZALO : Ada beberapa sajak bagus dalam buku ini. Dengar!
(membaca) “ Duapuluh tahun berlalu
Ia pun kembalilah “

LAURA : Cara tuan membaca dengan kaca pembesar itu sungguh agak menggelikan saya.

GONZALO : Jadi nyonya bisa membaca tanpa kaca pembesar?

LAURA : Tentu saja, tuan.

GONZALO : Setua itu? Ahai, nyonya main-main saja!

LAURA : Coba saya pinjam buku tuan itu!
(mengambil buku dan membacanya keras-keras)
“ Duapuluh tahun berlalu
Dan ia pun kembalilah
Masing-masing saling memandang,
Berkata :
Mungkinkah dia orangnya?
Ya Allah, dimana oranya itu? “

GONZALO : Hebat! Saya iri hati pada penglihatan nyonya.

LAURA : (Kesamping) Hmm, saya hafal tiap kata syair itu.

GONZALO : Saya gemar sekali puisi-puisi yang bagus. Sungguh gemar sekali. Bahkan ketika masih muda, kadang-kadang suka bersyair.

LAURA : Sajak-sajak bagus juga?

GONZALO : Ya, macam-macamlah. Saya dulu sahabat dari Exprosoda, Zorilla, Bocquer, dan penyair-penyair lain. Saya kenal Zorilla pertama kali di Amerika.

LAURA : Eh, tuan pernah ke Amerika?

GONZALO : Sering juga. Pertama kesana saya waktu umur 6 tahun.

LAURA : Tentunya dulu tuan ikut Colombus.

GONZALO : (tertawa) Yah, tidak sejelek itu nasibku! Saya sudah tua, tapi belum pernah kenal Raja Ferdinand serta Ratu Isabella!
(keduanya tertawa). Saya juga teman Campoamor, berjumpa pertama kali di Valensia. Saya warga kota di sana.

LAURA : Apa sungguh?

GONZALO : Saya dibesarkan disana. Dan masa mudaku habis di kota itu. Apa nyonya pernah ke Valensia?

LAURA : Pernah! Tiada jauh dari Valensia ada sebuah villa dan kalau masih berdiri sekarang, bisa mengembalikan kenangan-kenangan yang manis. Saya pernah tinggal beberapa musim di sana. Tapi sudah lama lampau. Villa itu dekat laut, tersembunyi antara pohon jeruk. Mereka menyebutnya ... ah ... lupa ... o ya, Villa Maricella.

GONZALO : Maricella?

LAURA : Maricella. Apa tuan pernah mendengarnya?

GONZALO : Tak asing lagi nama itu ... ah, kita tambah tua tambah pelupa ... di Villa itu dulu ada seorang wanita paling cantik yang pernah saya lihat dan saya kenal. Dan namanya ... O ya, Laura Liorento!

LAURA : (kaget) Laura Liorento?

GONZALO : Benar (mereka saling tatap)

LAURA : (sadar lagi) Ah, tak apa-apa, hanya mengingatkan saya pada teman karib saya.

GONZALO : Aneh juga.

LAURA : Memang aneh! Dia diberi sebutan “ Perawan Bagai Perak”.

GONZALO : Tepat, “Perawan Bagai Perak”. Nama itulah yang terkenal di sana. Sekarang saya seperti melihatnya kembali di jendela di antara kembang mawar merah itu. Nyonya ingat jendela itu?

LAURA : Ya, saya ingat itulah jendela kamarnya.

GONZALO : Dulu dia suka berjam-jam di jendela.

LAURA : (melamun) Ya, memang dulu dia suka begitu.

GONZALO : Dia gadis ideal. Manis bagai kembang lilia. Rambutnya hitam. Sungguh mengesankan sekali! Mengesankan sampai kapan saja. Tubuhnya ramping sempurna. Betapa Tuhan telah menciptakan keindahan seperti itu. Dia seperti impian saja.

LAURA : (ke samping) Jika seandainya tuan tahu bahwa impian itu ada di samping tuan, tuan akan sadar impian macam apa itu, heh?
(keras-keras) Dia adalah gadis yang malang yang gagal cinta.

GONZALO : Betapa sedihnya (mereka saling memandang)

LAURA : Tuan pernah mendengar kabarnya?

GONZALO : Ya, pernah.

LAURA : Nasib malang meminta yang lain.
(kesamping) Gonzalo!

GONZALO : Si jago cinta cakap itu! Peristiwa cinta yang sama.

LAURA : Ah, duel itu.

GONZALO : Tepat, duel itu. Si Jago Cinta itu adalah ... saudara sepupu saya. Saya juga sayang sekali kepadanya.

LAURA : Oh ya, saudara sepupu. Seorang temanku menyurati saya dan bercerita tentang mereka. Dia ... saudara sepupu tuan itu ... tiap pagi lewat di depan jendelanya dengan naik kuda, dan melemparkan ke atas seberkas kembang yang segera disambut gadisnya.

GONZALO : Dan tak lama kemudian, dia ... saudara sepupu saya itu ... lewat lagi untuk menerima kembang dari atas. Begitu?

LAURA : Benar. Dan keluarga gadis itu ingin agar ia kawin dengan saudagar yang tidak ia cintai.

GONZALO : Dan pada suatu malam, ketika saudara sepupuku tadi tengah menanti gadisnya menyanyi ... di bawah jendela, lelaki itu muncul dengan tiba-tiba.

LAURA : Dan menghina saudara tuan itu.

GONZALO : Kemudian pertengkaran terjadi.

LAURA : Dan kemudian ... duel!

GONZALO : Ya, waktu matahari terbit, di tepi pantai, dan si Saudagar itu luka-luka parah. Saudara sepupu saya itu harus bersembunyi dan kemudian melarikan diri.
LAURA : Tuan rupanya mengetahui benar ceritanya.

GONZALO : Nyonya pun begitu agaknya.

LAURA : Saya katakan tadi, seorang teman telah menyurati saya.

GONZALO : Saya pun diceritai oleh saudara sepupu saya.
(ke samping) Heh, inilah Laura itu! Tak salah!

LAURA : (ke samping) Kenapa menceritakan padanya? Dia tak curiga apa-apa.

GONZALO : (ke samping) Dia sama sekali tak bersalah.

LAURA : Dan apakah tuan pula yang menasihati saudara tuan itu untuk melupakan Laura?

GONZALO : Ooo, saudara sepupu saya tak pernah melupakannya.

LAURA : Bagaimana begitu?

GONZALO : Akan saya ceritakan segalanya kepada nyonya.
Anak muda – Don Gonzalo itu – bersembunyi di rumah saya, takut menanggung akibatnya yang buruk sehabis menang duel itu. Dari rumah saya ia terus lari ke Madrid. Ia kirim surat-surat kepada Laura, di antaranya sajak-sajak. Tapi tentunya surat-surat itu jatuh ke tangan orang tuanya. Buktinya tak ada balasan. Kemudian Gonzalo pergi ke Afrika, sebab cintanya telah gagal sama sekali, masuk tentara dan terbunuh di sebuah selokan sambil menyebut berulangkali nama Lauranya yang sangat tercinta.

LAURA : (ke samping) Dusta! Heh, dusta kotor belaka!

GONZALO : (ke samping) Saya tak bisa membunuh diriku lebih ngeri lagi.

LAURA : Tuan tentunya telah ditumbangkan kesedihan yang sangat

GONZALO : Memang betul, nyonya. Dia seperti saudaraku sendiri. Dan saya kira tak lama kemudian, Laura telah melupakannya. Kembali bermain memburu kupu-kupu seperti biasanya. Tak pernah meratapinya.

LAURA : Tidak, Senior. Sama sekali tidak!

GONZALO : Biasanya perempuan memang begitu!

LAURA : Kalaupun itu sudah sifat perempuan, “Perawan Bagai Perak” adalah terkecuali! Teman saya itu menanti berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dan tak selembar suratpun tiba. Suatu senja ketika matahari terbenam, dia meninggalkan rumahnya dan dengan langkah tergesa menuju pantai tempat kekasihnya menjaga nama baiknya. Ia menuliskan namanya di pasir, lalu duduk di atas karang, memandang ke kaki langit. Ombak menyanyikan tembang duka yang kekal, dan menggapai batu karang di mana perawan itu duduk. Air pasang segera tiba dan menyapu gadis itu dari muka bumi.

GONZALO : Ya Allah!

LAURA : Para nelayan di situ sering menceritakan bahwa nama yang ditulis gadis itu lenyap ditelan air pasang.
(ke samping) Toh kamu tak tahu aku reka-reka sendiri cerita kematianku!

GONZALO : ( ke samping ) Dia berdusta lebih ngeri dari dustaku!

LAURA : Ah, Laura yang malang!

GONZALO : Wahai Gonzalo yang malang!

LAURA : (ke samping) Aku takkan bercerita kepadanya bahwa aku kawin dua tahun kemudian setelah duel itu!

GONZALO : (ke samping) Aku takkan bercerita kepadanya bahwa dua bulan kemudian aku mengawini penari ballet dari Paris!

LAURA : Nasib memang selalu aneh. Di sini, tuan dan saya, dua orang asing, bertemu secara kebetulan dan saling menceritakan kisah cinta yang sama dari dua teman lama yang telah bertahun lalu terjadi, seperti sudah akrab benar kita ini!

GONZALO : Ya, memang aneh. Padahal mula-mula kita bertemu tadi, kita bertengkar.

LAURA : Tuan juga yang tadi mengganggu merpati-merpati saya.

GONZALO : Memang agak kasar saya tadi.

LAURA : Memang kasar. (ramah) Tuan datang lagi besok pagi?

GONZALO : Tentu, asal pagi secerah ini. Dan takkan lagi mengganggu merpati-merpati itu, tapi saya akan membawa remah-remah roti besok.

LAURA : Oh, terima kasih. Burung-burung selalu tahu berterimakasih. Hei! Mana pembantuku tadi? – Petra!

GONZALO : (melihat laura yang membelakang) Tidak! Tak akan kukatakan siapa aku ini sebenarnya. Aku sudah tua dan lemah. Biarlah dia mengangankan aku sebagai penunggang kuda tampan yang lewat di bawah jendelanya.

LAURA : Nah, itu dia.

GONZALO : Itu Juanito! Dia sedang bercanda dengan gadisnya! (mengisyarati)

LAURA : (memandang gonzalo yang membelakang) Tidak, aku sudah berubah tua. Lebih baik ia mengingatku sebagai gadis bermata hitam yang melempar bunga dari jendela.
(juanito dan petra masuk) Hei, Petra!

GONZALO : Juanito, kau sedikit lambat.

PETRA : (kepada laura) Si tukang kebun memberikan bunga-bunga ini kepada Seniora.

LAURA : Alangkah bagusnya. Terima kasih. Sedap benar baunya! (beberapa bunga gugur ke tanah)

GONZALO : Ini semua sungguh menyenangkan, Senora!

LAURA : Demikian juga saya, Senior!

GONZALO : Sampai besok, nyonya!

LAURA : Sampai besok, tuan!

GONZALO : Agak panas hari ini!

LAURA : Pagi yang cerah. Tuan besok pergi ke bangku tuan?

GONZALO : Tidak, saya akan kemari saja. Itu kalau nyonya tidak berkeberatan.

LAURA : Bangku ini selalu menanti tuan!

GONZALO : Akan saya bawa remah-remah roti!

LAURA : Besok pagi, jadilah!

GONZALO : Besok pagi. (laura melangkah ke kanan berpegang pada petra. Gonzalo membungkuk susah payah memungut bunga yang jatuh tadi, dan laura menengok ketika itu)

LAURA : Apa yang tuan kerjakan?

GONZALO : Juanito, tunggu dong!

LAURA : Tak salah, dialah Gonzalo!

GONZALO : (ke samping) Tak salah, dialah Laura!
(mereka masing-masing melambaikan tangan)

LAURA : Mungkinkah dia itu benar orangnya?

GONZALO : Ya Allah, diakah orangnya itu?
(keduanya tersenyum)


L a y a r T u r u n

naskah : Lapar

LAPAR
Sandiwara Radio

Karya Muhammad Ali

diketik ulang oleh Teater Kedok SMANAMBAYA

Guntur beregelegar. Terdengar suara katak,kemudian lonceng gardu jaga berbunyi beberapa kali tanda kereta api mau datang. Kemudian ada suara orang naik tangga.

Lastri : (kedinginan. Batuk-batuk). Pukul berapa sekarang Mon ?
Mona : (menguap) Ah,baru jam sebelas. Kau sekarang rajin benar Tri. Masih setengah jam lagi aku baru aplos,si Jagur belum juga lewat,tapi kau sudah ada di sini. Kepengen cepat-cepat naik pangkat,apa?
Lastri : Apa? Si Jagur?
Mona : Ya,si Jagur! Bukan kah begitu dia dijuluki kawan-kawan? Alah,si Jagur itu..Express Jakarta-Surabaya yang saban malam lewat. Ah,kau selalu ketinggalan Tri!
Lastri : Oh,ada-ada saja. Aku sangka…
Mona : (menyela tiba-tiba) Tri,kau bawa kopi? Mana sini..aku minta seteguk. Lekas Tri,hamper aku mati kedinginan. Memang terlalu dingin malam ini.
Lastri : Kopi?
Mona : Ya,kopi! Kau ndak bawa?
Lastri : Wah,lupa Mon.
Mona : E..e..kau bisa tahan semalam suntuk tanpa kopi? Jangan sembrono kau,kau tanggung nanti benturan keretanya.
Lastri : Aku….. (ketawa lemah)
Aku… Barangkali aku tahan Mon.(terdiam sejenak). Sudah seminggu aku ndak bawa kopi kemari. Aku tidak ngantuk,bahkan waktu siangpun aku kepingin tidur sebentar,tapi mata tak mau tertutup.
Mona : Oh..eh…Kenapa? Agaknya kau kena malarindu?
Lastri : (diam sebentar. Kemudian menjawab dengan serius) Mon,sesungguhnya aku mau minta berhenti. Aku tidak bisa. Aku tidak tahan jaga di tempat ini.
Mona : Berhenti? Apa katamu? Berhenti ?! Masyaalah! Barangkali kau ini mau berubah akal. Todakkah engkau tahu,beribu orang sekarang tunggang langgang cari kerja? Kan enak jaga malam di gardu ini. Siang-siang kau bisa tidur sesukamu. Lagipula,berapa lama sih kita jaga ? Lima jam ? Apa beratnya? (tertegun,kemudian berkata lagi)
Tri,kau tahu artinya berhenti? Nganggur! Dan nganggur itu artinya apa? Mampus,kau tahu?! Tapi,barangkali kau dapat lowongan lain?
Lastri : Tidak.
Mona : Lalu,apa maumu?
Lastri : Mon,sesungguhnya aku…aku takut jaga di tempat ini. Aku takut Mon. (dengan suara pengdsan yang agak melengking)
Mona : Takut?? (dengan suara heran)
Lastri : (berbisik) Mon..kau tak pernah mendengar sesuatu?
Mona : Apa?
Lastri : Teriakan-teriakan. Orang berteriak-teriak!
Mona : Orang berteriak-teriak? Di mana?
Lastri : Saban malam,agaknya sudah tujuh malam berturut-turut,aku dengar orang berteriak-teriak. Mulanya aku tak tahu siapa dan darimana datangnya suara itu. Sebentar jauh,sebentar pula mendekat mendekat lagi,kedengarannya seolah-olah di bawah gardu ini. Tapi setelah diperhatikan,menurutku ada orang yang berteriak-teriak dekat rel di tikungan itu.
Mona : Dari rel yang mana?
Lastri : Itu. Rel yang di tikungan itu. Disitu kan gelap benar.
Mona : Tadi kau katakana orang-orang. Ada berapa semuanya?
Lastri : Kalu aku tak keliru,ada dua. Seorang laki-laki yang suaranya parau dan mengerikan,dan yang satu lagi,kukira perempuan,suaranya melengking nyaring. Setiap kereta api express dari Jakarta lewat,selalu kedengaran suara mereka. Seolah-olah ada yang kelindas. Mulanya memang aku sangka begitu,tapi,setelah kuperiksa,disana tak ada apa-apa,dan teriakan mereka itu berpindah-pindah pula,aku,aku…
Mona : (menyela) Kau mendengarnya sunguh-sungguh?
Lastri : Berani sumpah aku,sungguh mati Mon. aku dengar dengan telingaku ini. Aku dengar mereka menjerit-jerit,kadang seperti mengeluh,kadang mereintih-rintih,dan kadang pula seolah-olah mereka menangis sedih. Saban malam,sampai waktu fajar,ketika keretaapi Malang lewat situ,baru mereka berhenti,dan suara mereka menghilang.
Mona : Kau bilang tadi…yang satu laki-laki dan satunya perempuan?
Lastri : benar.
Mona : Apa yang mereka teriakkan?
Lastri : Aku tak tahu pasti. Tapi kira-kira mereka berteriak begini: Lapaaar…Lapaaarrr…Laaapaaarrr!!!


#####$$$$$#####


Guntur bergelegar lagi. Kemudian terdengar lonceng di gardu jaga yang menandakan kereta api datang.

(terdengar jeritan seorang laki-laki dan seseorang perempuan).

P & T : Laaapaaarrr…laaapaaarrr…laaappaaaarrr…!
Lastri : Mon….(berbisik) Mon..kau dengar? Kau dengar Mon?
Mona : Tri,Tri,ya Allah! Audzubillahiminassyaitonirrojim.
Lastri : Apa? Apa? Itu apa Mon?
Mona : Ini…Ini suaranya Putero. Putero! Dan yang perempuan itu…itu bininya,Tini! Tri..Tri…aku kenal benar mereka itu. Mereka sudah mati,Ya Allah.
Lastri : Mati?
Mona : Sungguh! Mereka itu sudah mati…kedua-duanya. Memang sudah mati. Kelindas keretaapi,tempo hari. Di situ Tri,di tikungan itu. Aku tahu ini betul suaranya Putero dan Tini!

(bunyi pintu di dobrak keras-keras serta bentakan garang)

Putero : Binatang! Apa ini pintu ini selalu ditutup?! Apa maksudnya? Bikin sial!
Tini : eh…eh…aku kira…. (dengan tergagap-gagap)
Putero : Kau kira siapa? Setan? Oh,kau kira selingkuhanmu yang datang? Selingkuhanmu ya?!
Tini : Mas Putero!
Putero : Memang,sejak aku nganggur,kau suka ngeluyur. Kenapa kau ngeluyur? Kalau tidak cari gendak? Kau kira aku buta? Hehh,perempuan celaka!
Tini : Mas putero! Aku kira Tuan Karim lagi yang datang. Tadi dia sudah kemari pula. Bukankah sewa rumah delapan bulan,belum dibayar? Kita diusir kalau besok tidak bayar.
Putero : Tuan Karim. Lagi,lagi Tuan karim. Peduli apa sama dia?
Tini : Dia suruh kita pergi.
Putero : Ah,diam!!

(mereka berdua sama-sama terdiam)

Tini : Mas selalu yang memulai pertengkaran. Ada ada saja yang kau jadikan helah. Saban hari aku kau bentaki,kau maki-maki,saban kau datang kau bikin rebut! (lalu menangis terisak-isak)
Tini : Aku malu mas,malu didengar tetangga kanan kiri.
Putero : Persetan sama tetangga! Kamu kira,tetangga yang kasih kita makan? Tetanggakah yang carikan aku kerja jika tak punya kerja seperti sekarang? Tetangga,biar mampus semua!
Tini : Ya,kau memang tak mau peduli apa-apa lagi…
Putero : ah,jangan cerewet! Ayoh sediakan makan!
Tini : Makan?
Putero : Kau tuli? Aku bilang makan. Sediakan. Ayoh! Lekas!
Tini : Apa yang akan dimakan? Ini hari,aku nggakmasak. Beras habis. Barang-barang semua sudah dirombeng. Semua! Perhiasanku,pakaianku,habis! Tinggal tikar bantal kecil yang ditiduri anak kita. Apa itu juga mesti dirombengkan?
Putero : Binatang! Aku tidak tanya itu semua. Aku lapar! Lapar! Mau makan sekarang. Kini juga!
Tini : Kau mau makan? Hehh, telan saja kendi ini,satu-satunya barang yang ketinggalan. Telanlah!
Putero : (membentak) Keparat!
Tini : Istrimu,anakmu,anakmu yang berumur lima bulan itu,telah dua hari perutnya tak kemasukan makanan. Kau tidak tahu? Dengarlah dia menangis,mengapa? Kau tak tahu? Dia lapar. Lapar!
Putetro : Diam! Aku pecahkan kepalamu! Oh, tutup mulut anak celaka itu. Aku tak mau dengar.
Tini : Dia lapar mas, dia lapar.
Putero : Tutup mulutmu!
Tini : Dan air susuku kering
Putero : Diam! Dian! Kutampar mulutmu. (menampar Tini. Lalu Tini menjerit kesakitan)
Tini : Jika begini terus menerus, lebih baik aku pergi saja. Tati kubawa.
Putero : Pergi? Kau mau pergi? Pergilah! Aku bosan melihat mukamu yang kemurung-murungan itu. Pergilah lekas!
Tini : Dan akupun tak tahan lagi tinggal tersiksa dalam neraka ini. Daripada aku mesti lapar dan makan hati disini, bukankah masih ada orangtuaku di desa? Lagipula, bukan sekali dua kali aku kau usir! Biarlah aku pergi sekarang juga.
(putro terdiam kemudian memanggil Tini)
Putero : Tini !


Hujan lebat menderu-nderu diselingi oleh petir halilintar. Terdengar suara pintu diketuk
dan bayi menangis-nangis.

Nyonya : Siapa?
Tini : Saya, saya nyonya! Tolong bukakan pintu. Nyonya!
Nyonya : Siapa? Saya siapa?
Tini : saya nyonya, tolonglah saya, nyonya. (setelah membuka pintu)
Nyonya : He, ada apa ini ? Siapa kau ? (heran)
Tini : Saya, tolong saya nyonya, ini anak saya !
Nyonya : Masuklah –masuklah. Perlu apa dik ? dan siapa pula yang kamu cari disini?
Tini : Nyonya, nyonya, saya mohon pertolongan nyonya. (menjawab terputus-putus)
Nyonya : Tolong? Tolong bagaimana? Eh aku tidak mengerti. Siapa kau sebenarnya dan kenapa datang begini malam ? Diwaktu hujan seperti ini pula ?
(Tini menangis sedih)
Nyonya : Oh jangan menangis , ceritakan apa yang telah terjadi. Coba ceritakan, barangkali aku dapat menolongmu.
Tini : Nama saya Tini, Nyonya. Saya diusir suami saya sebab………………..
Nyonya : Apa sebabnya? Terangkan. (sela wanita itu)
Tini : Sebab dia lama menganggur. Dia jadi sengsara. Hidup kami bergantung pada gajinya. Dia kebingungan dan selalu marah-marah, dan begitulah pada suatu malam saya telah diusirnya.
Nyonya : Oh (kata wanita itu,lalu dia berkata). Kau tak punya famili?
Tini : Ada orang tua saya di desa, Nyonya.
Nyonya : Mengapa tidak kesana saja?
Tini : Sudah nyonya, saya sudah pergi kesana. Tapi mereka tidak bisa menerima kami.
Nyonya : Mengapa?
Tini : Mereka tidak mampu, nyonya. Mereka sendirian kelaparan. Makan singkong sehari sekali.
Nyonya : Oh. Berapa umur anakmu itu?
Tini : Lima bulan, nyonya. Namanya Tati. Bapaknya yang kasih nama begitu.
Nyonya : Manis namanya. Oh ya, begini saja, eh siapa pula nama mu?
Tini : Tini
Nyonya : Oh ya, begini Tini, sesungguhnya saya pun tidak bisa menerima kamu. Saya sendiri dalam kesukaran pula. Bukan saja orang di desa, orang-orang kota pun kini mengalami kesusahan. (terdiam seketika)
Tapi, kalau kau suka, biarlah aku terima anakmu saja. Itu, kalau kau suka. Coba kulihat muka anakmu.
Tini : Anak saya saja? Dan saya?
Nyonya : Kau sendiri tentu bisa dapat kerja di tempat lain. Ya,begitu saja kalau kau suka. Kebetulan sekali kami tak punya anak. Berapa tadi kau bilang umurnya? Lima bulan? Aduh,masih bayi,ya?
Tini : Jadi nyonya mau anak saya saja?
Nyonya : Ya. Maksudku anakmu mau aku ambil,ku jadikan anak angkatku. Sudah lama aku kepingin anak,dan kebetulan kau datang membawa anak.
Tini : Tapi…
Nyonya : Apalagi? Kan,baik begitu. Daripada anak itu keadaannya tak terurus sepeti sekarang. Lihat,betapa kurus dia. Kau mau bunuh anakmu sendiri? Kasihan…betapa kurusnya dia.
Tini : jika begitu maksud nyonya..biarlah dia tinggal disini bersama Nyonya,barangkali akan lebih baik. Dan saya sendiri nanti akan mencoba melamar menjadi babu atau apa saja di tempat lain. Hanya kalau nyonya tidak keberatan…
Nyonya : Mengapa?
Tini : Kalau nyonya tidak keberatan…tolong beri saya pesangon. Seribupun sekarang saya tak punya….
Nyonya : Pesangon? Oh tentu,tentu! Tapi begini Tini,lebih baik aku berterus terang saja. Anakmu itu sesungguhnya akan ku beli.
Tini : Dibeli,Nyonya?? (menyela tiba-tiba)
Nyonya : Nanti kusuruh bikin sepotong surat dank au harus pasang cap jempol diatasnya. Surat itu maksudnya…bahwa kau telah menyerahkan anakmu padaku. Dan sebagai gantinya,kau dapat lima juta dariku. Lima juta. Cukup bukan?
Tini : (bingung) Jadi….
Nyonya : Jangan kuatir…
Tini : tidak,tidak Nyonya. Saya tudak juak anak ini. Tidak. Tidak. (cemas)
Nyonya : Itu kalau kau suka. Kami tidak paksa. Kami hanya mau menolong kau saja. Kalau tidak,yah apa boleh buat. Aku tidak bisa terima begitu saja. Diman sekarang ada orang yang mau menolong begitu saja? Nah,sekali-kali aku pun mengijinkan kau datang melihat anak ini. Bagaimana? Lima juta. Boleh ndak? Eh,kau suka? Jangan kuatirkan apa-apa,sebentar aku bikin suratnya,aku panggil saksi-saksi juga. Bagaimana? Suka? Sudahlah..jangan piker-pikir lagi. Tak usah kuatir. Lima juta,dekarang banyak itu. Dan kau hanya perlu pasang cap jempol saja.
Tini : Kalau begitu nyonya,yah apa mau dikata.



#####$$$$#####

Putero : BERHENTI!!
Mona : Eh..eh..ya..ya bung,nanti dulu bung. (lalu terkejut) Lho…ini kan Mas Putero?! Ada apa mas? Ah,terlalu. Sungguh-sungguh mengejutkan.
Putero : Betul betul. Kau tidak keliru Mona. Memanglah ini Putero. Putero yang malang. (lalu tertawa terbahak-bahak) Dan sekarang kau..Mona yang budiman.
Mona : Yang budiman ? (takjub)
Putero : Ya,ya,serahkan uangmu padaku. Buka celanamu,buka hemmu,lencang tanganmu. Ayoh,ayoh,serahkan semua kepadaku! Semua! (lalu setengah berbisik) Kalau tidak,belati ini jadi bagianmu. Mau ini?
Mona : Te..te..te..tapi.. (tergopoh-gopoh)
Putero : Tidak ad ate-te-tapi. Serahkan lekas!
Mona : Mas Putero! Mas Putero!
Putero : Ayoh lekas! Serahkan semua kepadaku! Kalau tidak,aku benamkan belati ini kedalam perutmu. Lekas!!
Mona : Mas Putero,kenapa,kenapa kau jadi begini?
Putero : (tertawa keras) Apa? Kenapa aku jadi begini? (lalu tertawa lagi)
Mona : Mas putero,aku ini Mona,Mona tetanggamu. Aku Mona kawanmu sendiri! Kau tentu tahu aku orang melarat bukan?!
Putero : Diam!!! Jangan banyak cing-cong! Ayo lekas serahkan barang-barang itu. Kalau tidak,aku perah jantungmu hingga lumat.
Tini : Nanti dulu, Nanti dulu Mas Putero! Ingatlah,ingatlah. Aku ini kawanmu,tetanggamu sendiri. Pekirlah tenang-tenang. Pernuatan ini kurang patut. Memalukan! Keji ndan kelewat jahat! Mas Putero,ingatlah. Ingatlah!
Putero : Apa? Jahat katamu? (tertawa gembira). Jahat? Memang. Memang kau benar mona. Kau tidak keliru. Sedikitpun tidak keliru. Memang perbuatanku ini jahat. Terlalu jahat.! Tapi… (menahan nafas dan mulai beramah tamah) yang terlebih-lebih jahat lagi ialah mati kelaparan! Kau dengar? Mati kelaparan!!
Mona : Mas Putero. Mas Putero,aku,aku mionta ampun. (kebingungan). Ampun Mas Putero,ampunilah aku,ampun. Barang-barang ini bukan aku yang punya,sungguh mas Putero,ampuni aku,ampun.
Putero : Hehh! Kau punya atau bukan…aku tidak peduli! Serahkan! Habis perkara.
Mona : ampun,Ampun mas Putero! (menjerit tiba-tiba)
Toolllooong…Tooolllooong...!!
Putero : Diam!!! Aku cekek batang lehermu!
Mona : Tolong! Toll…. (tiba2 tersekat,mengaduh,terserak-serak kesakitan)
Putero : Ayoh! Kau serahkan apa tidak?
Mona : Ampun. Ampun. Ampun.
Putero : Kucekek kau sampai mampus.
Mona : aduh,aduh,aduh,lepaskan,lepaskan aku,aduh,aduh. Aduh,aduh,jangan bunuh aku. Jangan,jangan,jangan,aku punya suami,punya anak..aduh..aduh…
Putero : Kau serahkan apa tidak? Ayo lekas!
Mona : (Mengadu-adu, tersekat-sekat, suarantya parau dan lemah) Ya, ya, aduh…


Wanita : Malam ini kok sepi ya Tin? (Dengan suara genit). Tidak seperti kemarin. Tengoklah, jajannya masih utuh, kopinyapun belum kalong. Botol limun juga belum ada yang kosong. Ah, sial sih malam ini! (diam sejenak)
Tin, sudah pukul berapa kira-kira sekarang? (menguap panjang)
Tini : Entahlah (seraya terbatuk-batuk)
Wanita : Apa sekarang pukul sepuluh?
Tini : Entahlah.
Wanita : aduh, pantat ku sudah serasa terpanggang duduk berjam-jam begini. Sial. Kapan sih aku jadi kaya?!
Tini : (terbatuk-batuk) masih ada rokokmu?
Wanita : Rokok? Astaga! Sejak pagi tadi hingga kini, aku cumin hisap sebatang, hanya sebatang tak lebih, dan itupun aku dapat dari orang lewat. Bukankah sudah kukatakan, hari ini memang hari sial. Sampai-sampai membeli rokok pun aku tak mampu.
(tini terbatuk-batuk lagi)
Wanita : Tin belakangan ini kulihat mukamu selalu murung saja. Jarang kau omong-omong seperti dulu. Kau tampak lesu selalu. Ada apa Tin? Apa yang kau susahkan? (tini menghela nafas, kemudian terbatuk-batuk dan wanita meneruskan) saban malam dalam tidurmu kau mengigau, hingga ku takut. Apa yang kau igaukan itu, kurang jelas bagiku, tapi ada juga kudengar engkau menyebut-nyebut nama seseorang. Nama siapa? Entah, aku lupa. Dan semakin hari mukamu semakin bertambah cekung dan kepucatan-pucatan . badanmu semakin rusak tak terpelihara.
Tini : Ah, sudah. Jangan mencomel ! (sela tini kesal)
Wanita : Selamanya kau membangkang. Selamanya kau ini cengkal. Berapa kali sudah kuperingatkan padamu. Minumlah jamu ! minumlah jamu setiap sore! Tapi rupanya aku sama sekali tak kau pedulikan. Dan kau kurang tidur juga. Ingat tin, kalau kita layu, kita tak laku, sepeser pun tidak! Kita mesti berhati-hati memelihara badan sendiri, kalau masih ma uterus hidup.
Tini : Jamu! Jamu! Kurang tidur! Jaga badan! (kata tini tiba-tiba)
Kok itu-itu saja yang kau omongkan. Apa tak ada yang lain? Semua itu tak ada gunanya bagiku. Aku benci!
Wanita : Eh. Benci? Benci apa? Siapa yang kau benci?
Tini : Aku benci diri sendiri .
Wanita : Benci diri sendiri? Lho, kau ini sungguh aneh. Ada-ada saja. Masa ada orang benci sama diri sendiri?
Tini : Tapi memang begitu yang sesungguhnya. Aku benci diriku sendiri. Diriku ini sudah begitu najis, berpindah-pindah dari satu kelain rangkulan laki-laki. Ah, dulu, belum lama lagi, kapan aku melihat perempuan jalang, timbul jijikku. Dan sekarang aku sendiri .
Wanita : Alah, itukah yang kau ributkan? Guna apa? Oh, orang boleh jadi apa saja, yang perlu kan asal kita dapat makan?
Tini : Tapi aku malu. Aku malu! (kata tini serak)
Wanita : Kenapa mesti malu kau? Cari makan tak usah malu. Ah, sudah Tin, jangan kau mengada-ada, nanti kau sendiri yang celaka. Nah, itu dia, ada becak kemari.
(lalu wanita berseru) Mari mas, mampir mas! Mari, mampir mas!


####$$$$####

Kedengaran bunyi tuwak dituang ke dalam gelas, lalu Putero meneguknya habis-habis, kemudian ia mengketap-ketapkan lidahnya berkali-kali .

Putero : Hahh, enak betul tuwak ini ! (kata Putero sambil ketawa puas)
Amin : Minum terus! Terus sampai mampus! (kata Amin kawan Putero)
Putero : Habis mau apalagi, Amin? Dunia ini kan dibikin buat tempat kita bersenang-senang, bukankah begitu? Nah, selagi kau hidup minumlah puas-puas, minumlah, dan lupakan hidupmu! Dan itulah baru hidup sebenarnya. Min, rahasia ini, kubuka hanya untuk kau saja, kawan setia. (Lalu tertawa terbahak-bahak).
Amin : Ah, sudah, jangan gila-gilaan.
Putero : (Tawa mereda) Min, belum kuceritakan padamu pengalamanku siang kemarin? Ha!!
Amin : Pengalaman?
Putero : Kau tahu itu baba gendut? Aku gertak dia abis-abisan, waktu dia balik siang-siang dari pasar. Tahu kau? Aku gertak sama apa dia? (tertegun, lalu pecah dalam gelak terbahak-bahak, sambungnya). Sama ini! Sama korek api ini Cuma! Walah!! Tapi pintar dia, dan betul-betul kurang ajar dia. Masa kantongnya Cuma berisi lima ribu rupiah? Cuma lima ribu rupiah Min! memang babi dia.
Amin : Kau kira orang sekarang tetap geblek seperti kau begitu?. Huhh, mereka duitnya dalam petibesi. Yang dikantong cuma lima ribu rupiah.
Putero : Tapi satu kali aku mesti bekuk dia, si babi gendut itu!.
Amin : Tapi Tro, jangna gampang-gampang sekarang bung, untuk membekuk orang.
Putero : Kenapa?
Amin : Eh, kenapa? Kepalamu kau taruh di mana? Tidakkah kau tahu? Somad sudah ketangkap. Sidik juga. Si Kompleng yang jagoan itupun tidak luput. Nanti mesti datang giliranmu. Kemudian giliranku sendiri.
Putero : Ketangkap? (gembira). Aku ketangkap? Oh, tidak Min, aku tak mungkin ketangkap! Tak mungkin! Kau tahu apa sebabnya? Sebab aku memang tidak sudi ditangkap!
Amin : Eh enaknya, tidak sudi ditangkap. Si Kompleng dulu juga bilang begitu, dan sekarang dia meringkuk dalam terungku.
Putero : Aku lebih suka ditembak mati. Yaa lebih baik mati. Dan memang aku kepingin lekas mati.
Amin : Tro, (dengan sungguh-sungguh). Sejak kawan-kawan tertangkap semua, tambah hari hatiku tambah ngeri rasanya. Aku jadi takut Tro. Dan terpikir-pikir ada niatku mau tobat saja….
Putero : Tobat? (dengan takjub). Kau mau tobat? Tobat? (kemudian tertawa terkekeh-kekeh).
Amin : Daripada ditembak mati?
Putero : Lantas, kalau kau sudah tobat kau mau apa? Mau jadi apa kau? Mau ke mana kau? Mau mati kelaparan? Merengek-rengek lagi seperti dulu ya!
Amin : Entahlah, tapi….
Putero : Ah, otakmu mulai miring. (lalu terdengar langkahnya pergi menjauh terseok-seok.
Amin : He, Tro! Mau ke mana?
Putero : (Seraya membantingkan pintu keras-keras) Perempuan.

#####$$$$$#####


Bunyi langkah Putero terseok-seok, terhoyong-hoyong sambil menyanyi-nyanyi kecil tak
berketentuan.

Tini : Mas, mas, ada rokok mas? (suaranya lemah merayu)
Putero : Heh, siapa kau? (bergumam). Oh, perempuan. Ada apa berdiri digelap-gelap? Oh, kau belum laku? Kasihan!
Tini : mari mas, kemari. Minta rokok sebatang mas. Kemari sebentar mas!
Putero : Rokok? Oh, kau mau rokok? Ah, eh, ini ada perempuan minta rokok. Oh, jangan kuwatir. Eh, ini rokok aku tinggal satu, eh eh ya, Cuma tinggal satu korek. Eh rokoknya (sambil tertawa merengek).
Tini : Mari mas, kemari mas! (suaranya tambah merayu)
Putero bergumam, melangkah terseok-seok.
Tini : Terima kasih, ada koreknya mas?
Putero : Eh, sudah dikasih korek, eh rokok, minta korek, kerek… Oh, korek, tentu, tentu ada, jangan kuatirrr. Hemm, ini dia! Satu kali! (seraya mencetuskan api-apinya), Dua kali! Tiga kali! Ha (tiba-tiba ia tertegun, lalu berseni penuh takjub). Tini!!! Kau? Kau? Tini! Ah, Tini. Aku, aku Putero. Putero suamimu. Kau lupa aku Tini?
Tini : Lupa? Sama sekali tidak. Tapi kenapa kau begitu terperanjat ketemu aku ditempat ini? (kata Tini kurang acuh sambil terbatuk-batuk).
Putero : Tiada kusangka, sungguh tak kusangka Tini, aku akan menjumpai kau ditempat gelap ini. Dan, ah Tini, betapa kau sampai jadi begini? Tini, ah Tini, betapa? Betapa Tini, Ah, Tini.
Tini : (tertawa terkikik) Kau bertanya, betapa aku sampai jadi begini? Lucu. Sungguh lucu pertanyaanmu itu.
Putero : Aku kira engkau pulang ke desa, ke orang tuamu. Mengapa kau disini? Apa yang terjadi Tini?
Tini : Sudah, sudah. Jangan diurus lagi perkara itu. Tak ada gunanya. Dan apa perlunya kau tanyakan itu semua?
Putero : Apa perlunya? Tini, bukankah kau isteriku?
Tini : Isterimu? Hemm, tidak, semua itu tak perlu dibangkit-bangkit lagi. Akan menyesakkan napas saja.
Putero : Mana Tati? Tati di mana?
Tini : Tati? Oh, anak itu kau tanyakan juga? Anak itu? Dia sudah kujual!
Putero : Ha!? Apa kau bilang?
Tati : Aku jual. Kenapa? Aku jual dia lima juta rupiah! Kenapa?
Putero : Kau jual? Anak itu? Tati kau jual?
Tini : Ya, betul. Memang anak itu sudah kujual. Mengapa? Menngapa kau begitu heran? Ah, seperti kau ini baru turun dari langit saja. Tidak perlu kau begitu terkejut jika sekarang ada orang menjual anaknya.
Putero : Tetapi Tini, mengapa sampai begitu?
Tini : Aku lapar. Apa yang harus kulakukan dalam keadaan seperti itu? Tati tentu akan mati kelaparan jika dia tidak kujual. Aku mau, kalau dia mesti mati juga, janganlah dia mati kelaparan. begitulah, lantas dia kujual lima juta rupiah harganya. Bahkan diriku sendiripun kutawar-tawarkan pada siap ayang mau beli, dan harganya tidak semahal itu pula.
Putero : Tini, eh Tini, kau berdosa! Kau sungguh berdosa Tini!
Tini : Dosa? Dosa? (tertawa terkekeh). Apa ada dosa? Apa? Masih adakah sekarang orang yang mengerti dosa? Masih adakah sekarang orang yang menentang dosa? Mas Putero! Sekarang dosa tinggal dosa, semua gila!
Putero : Tapi itu anakmu Tini, anakmu sendiri yang kau jual. Betapa kau sebagai ibu sampai hati menjual anak kandungmu sendiri? Ah, Tini.
Tini : Mas Putero, belum pahamkah engkau? Lihatlah keadaanku sekarang. Kotor berlumur najis. Apakah aku harus membiarkan Tati bernasib seperti aku pula? Tidak, eh tidak mas Putero. Biarlah aku saja yang begini. Tati hendaknya jangan, ah, anak yangmanis itu.
Putero : Tapi Tini, ah, ah.
Tini : Jangan mengeluh. Aku bosan dengar keluhan. Dimana-mana sekarang orang pada mengeluh. Mengeluh. Mengeluh tiada habis-habisnya. Yang hidup mewah sekalipun kerjanya cuma mengeluh, dan membiarkan ribuan orang mati dikolong jembatan.
Putero : (Setelah lama terdiam) Tini, Tini, aku. Aku masih tetap cinta kepadamu Tini. Percayalah aku masih cinta padamu. Demi tTuhan! Waktu kau kuusir dulu dari rumah, aku sedang kebingungan, pikiranku kacau. Kau tentu mengerti Tini. Dulu-dulu aku tak pernah berbuat seperti itu.
Tini : (Terbatuk-batuk)
Putero : Kini aku menyesal Tini, sungguh menyesal. Tentu kau mau memaafkan aku Tini. Demi Tuhan, Tini, aku masih tetap cinta padamu.
Tini : (menyela) Ah sudah, jangan mendongeng!.
Putero : Demi Tuhan, aku cinta.
Tini : (menyela dengan cepat) Cinta! Tuhan! Cinta!. Apa itu semua? Cuma mainan yang paling bagus buat orang sekarang.
Putero : Tini marilah kita hidup berkumpul sebagai yang dulu lagi. Mari Tini, dan kita ambil Tati kembali, kita tebus dia kembali. Dan kita bertiga hidup sebagai dulu lagi. Kita bertiga Tini. Kau, aku dan Tati.
Tini : Hidup?
Putero : Ya, ya, hidup Tini, hidup rukun dan bahagia! Untuk selamanya! Aku takkan mengusir engkau lagi, selamanya tidak. Sungguh Tini, aku berjanji, aku bersumpah.
Tini : Hidup? Hidup katamu?
Putero : Ya, hidup Tini, hidup senang.
Tini : (tertawa mengejek) Oh, oh mas Putero kau bicara perkara hidup? Hidup? Apakah kau sedang mimpi? Hidup apakah yang kau maksudkan? (Tertawa lagi) Pabila dan hidup dimana itu? Bagaimana rupanya? Bagaimana rasanya? Indah? Merah? Kecil? Manis? Asin? (lalu tertawa ria merenai)
Putero : (berkata kebingungan) Ya, ya Tini.
Tini : kau sendiri tak tahu apa yang kau katakana mas Putero. Kau sendiri tak mengerti apa itu hidup! Ah, mas Putero, tiada hidup lagi bagimu, bagiku juga tidak. Kita ini bangkai-bangkai yang terlempar dan sia-sia, dan bangkai-bangkai tak berhak bicara perkara hidup. Hidup hanyalah bagi mereka yang punya harapan.
Putero : (menyela) harapanku besar Tini. Sungguh besar.
Tini : Ah, kau sedang bermimpi mas Putero. Kau mimpi!
Putero : Tidak Tini, aku tidak mimpi. Dengarlah.
Tini : Jangan dekati aku!
Putero : Dengarlah Tini, dengarlah aku.
Tini : Jangan dekati aku.
Putero : Tini!
Tini : Aku tak sudi!
Putero : Tini! Tini! Jangan lari!
Dan Putero lalu berseru-seru memanggil
Putero : Tini! Tini! Tini!
Dan dari kejauhan mulai terdengar raung dan peluit kereta api yang datang. Peluit
menjerit-jerit, raung menghebat dahsyat, dan Putero menjerit ngeri.
Putero : Tiniii!

#####$$$$$#####


Suara Putero dan Tini yang menggema bergantung, sedih menyayat,
mengambang melayang-layang.
Putero dan Tini : LAPAR!
Tono : Mon! Mon, kau dengar?. Mereka mendekat Mon, mereka mendekat.
Mona : (mengeluh) Ya Allah! Ya Allah!... Audzu. …..
Tono : Apa betul Mon, mereka itu sudah mati?
Mona : Aku lihat sendiri, aku saksikan sendiri mereka mati kelindas kereta api.
Tono : Mon?!
Mona : Betul!
Tono : Lantas ini apa maksudnya?
Mona : Ya Allah, entahlah.
Tono : Apa mereka hidup kembali?
Mona : Tak boleh jadi, tapi….
Tono : Mon, Mon, mereka mendekat lagi. Apa ini Mon?
Mona : Ini ruh mereka No, ruh mereka yang merintih. No, No, mesti kita bikin selamatan untuk ruh mereka. Supaya…. Ah. Barangkali tidak ada yang menyelamati mereka?!
Tono : Selamatan?
Mona : Iya ….
(kemudian berkata lagi) No, aku bersumpah malam ini beras bagianku untuk minggu ini akan kukurbankan …
Tono : Untuk apa?
Mona : Buat selamatannya Putero dan Tini.
Lonceng tanda di gardu jaga berdentang kembali. Raung kereta api dari jauh mendekat.
Peluit menjerit-jerit. Kereta api melintas deras. Cepat! Dahsyat! Kemudian, menjauh, dan
raungnya menggema dikejauhan dan lenyap. ***

Naskah : Sebuah Salah Paham

NASKAH : TEATER I “SEBUAH SALAH PAHAM’’
KARYA : SAMUEL BECKETT
ALIHBAHASA :MAX ARIFIN
diketik ulang oleh Muharram

Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.
A, buta, duduk di atas bangku dengklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.
Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-

Pause.-

1.A. :
Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. B masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].
Sedekahlah untuk orang tua melarat.
[Pause].-

2.B :
Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!

[Pause].

Sekarang aku bisa kembali,karena misteri itu sudah terungkap .[dia kembali memandang kursi rodanya.Berhenti]. Atau, bagaimana kalau kita bergabung dan hidup bersama,sampai maut datang menjemput.[Pause]. Bagaimana pendapatmu tentang itu,Billy? Boleh aku memanggil kau Billy seperti nama anakku? [Pause].Kau ingin seorang teman, Billy?[Pause] Kau mau makanan kaleng, Billy?

3.A :
Makanan dalam kaleng? Makanan apa itu?

4.B :
Daging dalam kaleng,Billy; ya, daging dalam kaleng.Cukup untuk menjaga kesehatan badan dan jiwa sampai musim panas. [Pause]. Tidak? [Pause]. Juga ada beberapa buah kentang,Ya,cuma beberapa pon.[Pause] .Kau suka kentang,Billy?
[Pause] .Malah kita bisa membiarkan kentang-kentang itu bertunas kemudian kita menanamnya.Kita bisa mencobanya.[Pause] Aku memiliki tanahnya dan kau bisa menanamnya.[Pause].Tidak?

[Pause]

5.A. :
Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh?


6.B :
Sulit mengatakannya.Seperti kau ketahui, sekarang ini musim dingin.

[Pause]
7.A :
Sekarang ini siang atau malam?

8.B :
Oh,…[memandang ke langit] sekarang siang, kalau kau mau.Tak ada matahari,tentunya, sebab kalau ada kau tentulah tidak bertanya. [Pause].Dapat kau mengerti apa maksudku? [Pause] Apakah kau masih memiliki kecerdasan tentang dirimu sendiri. Billy, apakah kau memiliki akal budi tentang dirimu ?

9.A :
Kalau cahaya,bagaimana. Ada ?

10.B :
Ya. [Memandang ke langit lagi]. Ya,cahaya. Tak ada kata yang tepat untuk itu. [Pause]. Boleh aku menjelaskannya padamu ? [Pause]. Boleh aku mencoba memberikan sebuah gagasan tentang cahaya ini ?

11.A :
Bagiku, kadang-kadang bila aku menghabiskan waktuku di sini di waktu malam, itu berarti memainkan biola tua ini atau mendengar, mengawasi ada orang datang. Aku biasa merasakan bagaimana senja menjelang dan mempersiapkan diri. Aku menyisihkan biola dan mangkok dan berdiri bila ia menuntun aku.

[Pause].-

12.B :
Dia ? Dia siapa ?

13.A :
Dia istriku. [Pause] Seorang wanita. [Pause]. Tapi sekarang……….[Pause]

14.B :
Sekarang ?

15.A :
Kapan aku keluar, aku tidak tahu; dan kapan aku tiba di sini aku tidak tahu dan selama aku berada di sini aku tidak tahu, apakah siang atau malam.

16.B :
Kau tidak selalu seperti dirimu. Apa yang menguasai kau ? Perempuan?Judi? Atau Tuhan ?

17.A :
Aku akan selamanya seperti diriku.

18.B :
Mari !


19.A :
[Marah]. Aku akan selamanya seperti diriku,dicekam kegelapan sambil menggesek biola yang menghasilkan nada-nada sumbang menuju ke empat penjuru angin.

20.B :
[Marah]. Kita mempunyai istri, bukan? Istrimu akan menuntun kau dan istriku akan mendorong kursi roda ini ke luar di waktu malam dan pulang lagi di waktu pagi dan mendorong aku sejauh mungkin bila aku bingung.

21.A :
Kau pincang ? [Tanpa emosi] Mahluk yang malang !

22.B :
Cuma satu masalah: kalau putar ke kanan. Bila tak ada masalah yang satu ini, kupikir aku akan bisa mengelilingi dunia ini dengan cepat. Sampai pada suatu hari ketika aku menyadari aku bisa pulang. [Pause]. Umpama begini. Aku berada di A [ Ia mendorong dirinya sedikit ke depan lalu berhenti]. Aku bergerak ke B [Ia mendorong dirinya ke belakang sedikit, berhenti]. Dan aku kembali lagi ke A [dengan penuh kesulitan]. Garis lurus ! Ruang kosong ! [Pause]. Bisa aku mulai menggerakkan kau ?

23.A :
Kadang-kadang aku mendengar langkah-langkah orang mendekat. Atau suara-suara. Aku bilang pada diriku, mereka itu sedang berjalan pulang, beberapa orang memang berjalan pulang, mencoba dan memulai lagi atau sedang mencari seseorang yang mereka tinggalkan di belakang.

24.B :
Kembali! [Pause] Siapa yang mau kembali ke mari ? [Pause] Padahal kau tidak pernah menyeru ! [ Pause] Berteriaklah ! [Pause]. Tidak ?

25.A :
Apakah kau mengamati sesuatu yang tidak ada?

26.B :
Oh, aku? Mengamati sesuatu ? Kau tahu, aku duduk di sana, tergeletak di atas kursi, di kegelapan selama 23 jam dalam sehari. [Marah] Apa yang harus kuamati ? [Pause]. Kau pikir kita akan mengadakan semacam perlombaan setelah kau mulai mengenal aku, he ?

27.A :
Kau bilang tadi daging dalam kaleng ?

28.B :
Tepat.Bagaimana kau hidup selama ini? Kau tentulah kelaparan.

29.A. :
Di mana mana banyak terdapat sesuatu.

30.B :
Yang dapat dimakan?


31.A :
Kadang-kadang.-

32.B :
Kenapa tidak kau biarkan saja dirimu mati kelaparan?

33.A :
Dalam hidupku aku pernah berbahagia. Suatu hari aku mendapat sedekah berupa buah-buahan sebanyak satu keranjang besar.

34.B :
Tidak !

35.A :
O, ya, cuma satu keranjang kecil penuh buah-buahan di pertengahan jalan ini.

36.B :
Oke, baiklah. Tapi kenapa tidak kau biarkan dirimu mati ?

37.A :
Aku memang pernah memikirkan hal itu.

38.B :
[Mangkel].Tapi kau toh tidak melakukannya.
39.A : Aku cukup bahagia.{Pause]
Memang aku selalu tidak bahagia, tapi cukup bahagia.

40.B :
Tapi kau tentulah setiap harinya akan bertambah tidak bahagia.

41.A :
[Marah].Aku cukup bahagia. [Pause]

42.B :
Sekiranya memang kita-kita ini dibuat untuk kepentingan satu sama lain, bagaimana ?

43.A :
[Gerak gerik yang penuh arti].Kini, bagaimana semua hal itu tampaknya ?

44.B :
Oh, aku ? Aku tidak pernah pergi jauh-jauh. Cuma maju-mundur didepan pintu rumahku. Sebelumnya aku tidak pernah ke mari.

45.A :
Tapi apakah kau mencari dirimu?

46.B :
Bukan, bukan begitu !

47.A :
Setelah masa kegelapan itu, kau tidak………

48.B :
[Marah].Bukan?! [Pause]. Tentu, kalau kau mau aku mencari diriku, aku akan melakukannya. Dan akhirnya kau tidak keberatan mendorong kursi rodaku ini, aku akanmencoba melukiskan pemandangan di sekitar kita sementara kita melaju ke depan.

49.A :
Maksudmu aku akan menuntunmu ? Aku tidak mau tersesat lagi.

50. B :
Tentu. Aku akan bilang begini; Hati-hati, Billy, kita sedang menuju ke sebuah tumpukan kotoran yang besar. Mundur sedikit dan belok ke kiri. Itulah kata-kata yang akan kuberikan padamu.

51.A :
Kau akan bilang begitu ?

52.B :
[Tampak puas] Gampang bukan? Gampang sekali, Billy. Di sana dalam parit aku melihat sebuah kaleng. Mudah mudahan ia berisi sop. Atau mungkin juga sayur kacang buncis.

53.A :
Sayur kacang-buncis ! [Pause].-

54.B :
Apakah kau mulai menyukai aku ? [Pause]
Atau itu cuma imajinasiku.

55.A :
Sayur buncis ! [Ia bangun, mengambil mangkoknya dan manyodorkan ke arah B,meminta]. Di mana engkau ?

56.B :
Di sini, temanku sayang. [A mencoba mendorong kursi roda itu dengan serampangan]. Berhenti,berhenti !

57.A :
[Terus juga mendorong]. Bukankah ini suatu berkah bagimu? Atau katakanlah semacam hadiah !

58.B :
Berhenti ! [Ia mencondongkan badannya ke belakang. A membiarkan kursi roda itu menggelinding dan melompat ke belakang. Pause. A menggapai –gapai mencari bangku tempat duduknya. Maju.Berhenti, menggapai-gapai lagi. Tidak ditemukan bangku tempat duduknya itu]. Maafkan aku. [Pause]. Maafkan aku, Billy.

59.A :
Di mana aku ? [Pause].Di mana aku tadi ?

60.B :
Rupanya aku kini kehilangan dia. Padahal ia sudah mulai menyukai aku. Tapi aku mengecewakan dia. Ia akan meninggalkan aku dan aku tidak akan melihat dia lagi. Aku tidak akan melihat siapapun lagi. Kita tidak akan mendengar suara-suara manusia lagi.

61.A :
Apakah kau tidak mendengarnya ? keluhan dan rintihan yang sama sejak dari buaian ibunda sampai ke kuburan.

62.B :
[Mengerang].Lakukanlah sesuatu untukku sebelum aku pergi.

63.A :
Di sana. Kau bisa dengar ? [Pause].Aku tidak bisa pergi ![Pause].Kau dengar ?

64.B :
Kau tidak bisa pergi ?

65.A :
Aku tidak bisa pergi tanpa alat-alatku ini.

66.B :
Alat-alat apa itu yang menjdi milikmu ?

67.A :
Tak ada.

68.B :
Lho,katanya kau tidak bisa pergi tanpa alat-alatmu.

69.A :
Memang. [Ia mulai meraba-raba lagi, lalu berhenti].Akhirnya aku akan mendapatkannya.[Pause].Atau aku tinggalkan saja.

70.B :
Tolong perbaiki selimut pada kakiku. Kakiku terasa sangat dingin.[A berhenti].Bisa saja kulakukan sendiri, tapi akan terlalu lama.[Pause].Lakukanlah untukku, Billy.Sudah itu aku bisa kembali ke sudut yang sepi itu dan di sana aku bilang: aku telah melihat orang untuk terakhir kalinya, aku mengecewakan dia setelah dia sempat menolong aku.

[Pause]

Kutemukan kepingan-kepingan cinta di sudut hatiku dan kematiannya dapat kupadukan dengan jenis diriku.[Pause].Kenapa kau memandang tercengang seperti itu padaku ? [Pause].Apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak pantas kukatakan? [Pause].Bagaimana rupa jiwaku?[ A berjalan dengan meraba-raba menuju padanya].



71.A :
Bersuaralah !
[B mengeluarkan suara. A meraba-raba menuju padanya lagi.Berhenti].

72.B :
Apakah alat penciummu sudah tumpul ?

73.A :
Dimana-mana cuma tercium bau busuk.
[A membuka lebar-lebar tangannya.Apakah tanganmu tidak bisa menjangkau tanganku? [Ia berdiri diam,tanpa gerak dengan tangan terbuka ke depan].


74.B :
Sebentar.Kau kan tidak melakukan sesuatu dengan cuma-cuma.[Pause].Kumaksudkan,tanpa syarat.[Pause].Tuhan Maha Pengasih.[Pause].Ia dapat memegang tangan A dan menarik ke dekatnya].

75.A :
Kakimu ?

76.B :
Apa ?

77.A :
Kau bilang kakimu !

78.B :
Aku cuma tahu kata kaki.[Pause]. Ya ,kakiku,cobalah bungkukskan dengan baik
[A membungkuk, meraba-raba].Berlututlah, dengan berlutut kukira kau akan lebih santai.[B membantu A untuk berlutut di suatu tempat yang baik].Ah, di sana !

79.A :
[Merasa diganggu].Biarkan tanganku merabamu.Kau ingin supaya aku membantumu, tapi kau pegang tanganku.
[B membiarkan tangannya meraba dan ia merasa geli ketika selimut kakinya diraba].Apakah kau cuma mempunyai satu kaki?

80.B :
Memang cuma satu.

81.A :
Dan yang satunya?

82.B :
Membusuk, lalu dipotong.[A membungkus kaki yang satu ini]

83.A :
Sudah cukup?

84.B :
Ketatkan sedikit.[A melakukannya].Cekatan sekali tanganmu.
[Pause].-

85.A :
[Meraba-raba, menuju perut B].Apakah ini bagian-bagian lainnya ?

86.B :
Kini kau boleh berdiri dan meminta balas jasamu.

87.A :
Bagian-bagian lainnya bagaimana ?

88.B :
Bagian-bagian lainnya memang tidak dipotong, kalau itu yang kau ingin ketahui.[Tangan A meraba ke atas lagi, meraba wajah B].

89.A :
Ini wajahmu ?

90.B :
Sumpah, memang itu wajahku.[Pause].Seperti apa kira-kira wajahku itu? [Jari-jari A meraba ketempat-tempat lainnya]. Itu ? Itu namanya kutil.

91.A :
Merah ?

92.B :
Ungu ! [A menarik tangannya, tapi tetap berlutut].Tanganmu memang cekatan ! [Pause]

93.A :
Masih tetap siang ?

94.B :
Siang ?[Memandang ke angkasa].Terserah kalau kau mau.[Memandang].Memang tak ada kata yang tepat untuk itu.

95.A :
Kira-kira akan segera malam? [B membungkukkan badannya pada A dan memegang pundak A]

96.B :
Mari,Billy,berdirilah,kini kau mulai merepotkan aku.

97.A :
Apakah akan segera malam ?




98.B :
[Memandang ke langit].Siang….malam….[memandang lagi].kadang-kadang tampak bagiku dunia ini begitu angkuh dan sombong; diberikannya kita siang tanpa matahari, di tengah-tengah jantung musim dingin, di suatu malam yang kelabu.[Memegang bahu A lagi].marilah,Billy, berdirilah, kau kini mulai merintangi aku.

99.A :
Apakah dimana-mana tampak rumput ?

100.B :
Tidak.

1.A :
[Gemas].Tidak tampak hijau di mana-mana ?

2.B :
Cuma ada sedikit lumut.[Pause.A mengelus-elus selimut kaki B, lalu meletakkan kepalanya di atas kaki B itu].
Tuhan Maha Pemurah ! Apakah kau tidak akan berdoa ?

3.A :
Tidak !

4.B :
Atau menangis barangkali ?

5.A :
Tidak.[Pause].Aku bisa meletakkan kepala seperti ini untuk selama-lamanya, di atas lutut seorang teman tua.

6.B :
Lutut! [Menggoncang-goncangkan badan A dengan keras].Apakah kau tidak bisa bangun?

7.A :
[Membenah dirinya agar lebih nyaman].Alangkah tenang dan damainya ! [B menolaknya dengan keras. A jatuh dan bertelokan pada tangannya]. Dora,istriku sering bilang bila aku tidak cukup memperoleh uang: Kau dan harpamu! Lebih baik kau merangkak ke segenap penjuru dunia dengan medali-medakli ayahmu yang kau sematkan di pantat celanamu dan kotak uang bergantungan di lehermu. Kau dan alat musikmu itu! Kau pikir kau ini siapa sih ?
Dan dia membiarkan aku tidur di lantai.[Pause]. Siapakah aku ini ?…….[Pause].Ah, aku tidak mampu menerkanya. [Pause].Lalu dia berdiri. Tidak pernah mampu.[Ia mulai meraba lagi, mencari tempat duduknya, lalu berhenti dan memasang telinga seperti mendengar sesuatu].Jika suara-suara itu cukup lama kudengar, maka sebuah harpa dengan satu tali cukuplah.

8.B :
Harpamu ? [Pause].Macam apakah kiranya harpamu itu ?



9.A :
Dulu pernah aku memiliki sebuah harpa kecil.Tapi diamlah, dan biarkan aku mendengar sesuatu.[Pause]

10.B :
Berapa lama kau mampu diam seperti itu ?

11. A :
Aku bisa berjam-jam mendengar segala macam suara.
[Keduanya memasang telinga, mendengar]

12.B :
Suara-suara apakah itu ?

13.A :
Aku tidak tahu suara apa itu.
[Keduanya memasang telinga lagi.Mendengar]

14.B :
Aku dapat melihatnya.[Pause].Aku dapat…………

15.A :
[Marah] Apakah kau tidak mau diam ?

16.B :
Tidak ! [B melepaskan kepala A yang dipegang dari tadi].Aku dapat melihat dengan jelas, itu di tempat dudukmu.[Pause]. Bagaimana kalau aku mengambilnya lalu kabur? [Pause]. Eh, Billy, bagaimana tanggapanmu ? [Pause].
Suatu hari nanti, akan ada orang tua yang lain, muncul dari persembunyiannya dan mendapatkan kau sedang membunyikan harmonikamu. Dan kau akan mengatakan padanya, bahwa kau pernah memiliki sebuah biola kecil.[Pause]. Eh, Billy ! [Pause] Aatau kau sedang menyanyi. [Pause]Eh ,Billy, bagaimana tanggapanmu ?[Pause]
Dan di sana, ia akan bersiut-siut pada angin musim dingin setelah kehilangan harmonika kecilnya.
[Ia mendorong A dengan tongkatnya]. Eh, Billy ?
[A berputar, memegang ujung tongkat itu dan merampasnya dari tangan B].

Layar. Layar.-

15 Januari 2009

Lintang-lintangku


Tuhan, kenapa aku menjadi perasa.
ketika kubaca lembar-lembar Lintang baru
dalam berita kota.

tak perlu jauh aku sebrang ribu pulau
tak ayal aku susah kayuh sepeda puluhan kilo
mereka, Lintang-lintang muda dipelukku

Haryono. mengayuh sepeda dan baca pakai
lampu minyak
hidup di tambak keramba

Iis. putri angkasa wajah sumbing
alas kaki tak ada. tinggal baju krem dan
rok merah kelabu

Joko. hirup sampah tiap hari
tak ada serpih tak ada kasih
hidup menunggu waris bapak ibu
: rumah kardus mudah gusur.

tak jauh aku liat Lintang sedih
menanti liburan monyet kapan datang
hingga kata, aksara, dan angka mudah saja ada
hingga matahari didepanpun nampak
tak perlu malam suntuk sampai ajal menjambak.

13 Januari 2009

Tinggal Aku


menantimu

tak tahu aku malam ini jadi apa?
ketika sepi jadi selimut
saat kabut buramkan mata pada langit

aku takut ketika malam datang
ketika yelda terjadi ditiap malamku
bukan lagi malam pertama musim semi yang panjang
bagai kasih tak sampai bulan dan matahari

malam

sepi itu sekali lagi menerjangku
merajam tiap sel yang mengatur nyawaku
menidurkan jiwa yang ambruk olehmu
petaka jadi biasa karenamu

gulita

aacchh,...
tergadai aku pada rasa
terlanjur serah terima padamu
maka, ku nanti yang tak berujung
ku tunggu kau yang berlari
bukan padaku tapi menjauh

+++++++++++++++++++++++++++++

Malam-Mu


tuhan,...
aku ingin bertanya padaMU
siapakah yang lebih dulu ada
hamba ataukah alam?

ketika sayap-sayap sepi
menggenapi aku jadi seribu diam
aku bertanya padaMu
dan alam menjawab dalam tanda
bukan lambang

tuhan,...
benarkah surga itu milikMu?
lalu kenapa Kau janjikan padaku
makhluk kasat mata penuh dusta
yang mencari semua karena janji
bukan karna diri

aku bukan siapa-siapa, Tuhan
aku hanya sisi lain dari malam
gelap, sepi, dingin, tanpa cercah cahya

bulan bukan aku, tuhan
ia terlalu indah untukku
biarkan getir menyapaku
biarkan sepi jadikan aku sendirian

cinta itu, Tuhan
ialah kasih yang telah mengkristal
indah namun melukai.

Sayang,..


bosan, aku menepi tuju malam
kapan pagi menerkam
jangan hanya temani buram
aku ingin kau sang pualam

lelah jadi indah
mimpi tak terasa singgah

apakabar cinta?
sepertinya sama seperti biasanya
gejolak dan mereda

disana ada cahaya setitik
serangga hinggapi tak ada laik

sayang,...