27 Mei 2008

KETIKA AKU


KETIKA LEPAS NYAWAKU
KU INGIN ENGKAU TAK ADA DISISIKU
ATAU MENDENGAR KEMATIANKU

KETIKA AKU MEREGANG NYAWA
KU MAU KAU MATI DI UJUNG DUNIA
YANG BUATMU ASING UNTUKKU

KETIKA AKU HIDUP LAGI
KU HENDAK BUTA MATAKU
TULI TELINGAKU
TAK BERASA KULITKU
DAN, TAK MENCIUM HIDUNGKU
MERASAKAN DIRIMU YANG SABAR
MENANTI REDAKU.

15 Mei 2008

tak tahu lagi

ibu,...
alunanmu menggenangiku dengan cinta.
setiap tetes yang kau getaskan ialah kasih
yang membuat perang berkobar jadi
singgasana paling mulya.

ibu,...
malam-malam kini terasa lebih dingin
tak ada lagi bara api, lonceng malam, dan
jagat pun diam.

rasa yang dulu ada lenyap, meski
ia masih ada dalam renung kami yang basah
oleh peluh mata
detik-detiknya jadi nereka jutaan masa

aku ibu,...
ingin kau ada temani aku
aku ibu,...
ingin kau ada temani aku

Malam-Mu


tuhan,...
aku ingin bertanya padaMU
siapakah yang lebih dulu
Engkau atau alam?

ketika sayap-sayap sepi
menggenapi aku jadi seribu diam
aku bertanya padaMu
tapi yang menjawab alam

tuhan,...
benarkah surga itu milikMu?
lalu kenapa Kau janjikan padaku
makhluk kasat mata penuh dusta

aku bukan siapa-siapa, tuhan
aku hanya sisi lain dari malam
gelap, sepi, dingin, tanpa cercah cahya

bulan bukan aku, tuhan
ia terlalu indah untukku
biarkan getir menyapaku
biarkan sepi jadikan aku sendirian

patah hati 1

ketika hatiku berkata
engkau milikiku yang tak termiliki.
aku marah padaMu
pada takdir yang menyesatkan aku
untuk mengasihi dia yang berlalu

jangan ambil hatiku
jangan ambil hatiku
jangan ambil hatiku
jika hanya akan pergi
jika hanya tuk sakiti aku

14 Mei 2008

Tak tersentuh di mengerti

Tak tersentuh di mengerti

Sepi menekan hampa malam

Yang lewat setengahnya

Ada kabar dari yang tak tersentuh,

Nasib, untuk yang tak di mengerti,

Takdir.

Mereka saling menyapa dalam jarak nafas

Sepi, sepi, sepi.

14 november 2007 00.09

13 Mei 2008

aaaaaaaaaacccccccchhhhhhhhhhhhhh!!!!!


cinta mana yang ku punya?

aku rasa tak ada

12 Mei 2008

Refleksi Hari Ini (Era Baru Buat Saya Merasa Aneh)


beberapa waktu lalu saya dan teman saya menghadiri sebuah acara pentas seni sma negeri di surabaya. pensi yang diadakan di parkir timur delta plaza ini menghadirkan bintang tamu band asal bandung, the changcuter. band yang sedang naik daun ini mampu menyedot cukup banyak penonton, yang kebanyakan siswa sma negeri yang mengadakan pensi itu tentunya. acara dimulai sejak siang hingga malam kira-kira 23.00. untuk masuk saja para penonton harus antri dan berdesak-desakan hingga mengular lebih dari 3o meter dari pintu masuk.

yang membuat saya tergangu ialah sepasang remaja. remaja ini, yang laki-laki bergaya rambut poni menyamping sampai menutupi mata bagian kiri dengan bagian belakang cepak, menggunakan tindik di bibir dan telinga berlubang sebesar uang koin emas seratus dan di ganduli anting bulat. sedangkan yang perempuan saya tidak seberapa tahu sebab ia berada dalam pelukan laki-lakinya yang ada di depan saya. si remaja laki-laki ini secara wajar dan santai memeluk, mencium, bahkan (maaf) memegang buah dada si remaja perempuan. dalam beberapa kali kesempatan saya juga mendengar umpatan yang cukup keras dari si remaja perempuan, bukan karena perilaku kekasihnya melainkan teman di depannya.

setelah berkutat dengan antrian dan pemandangan yang menggerahkan akhirnya saya dan teman saya masuk. di dalam saya menemukan beberapa hal yang membuat saya bertanya kenapa perubahan begitu cepat dan lebih condong ke arah negatif?

di dalam tempat pertunjukkan ini saya menemukan hampir semua remaja laki-laki merokok, sebagian bertindik, rambut poni miring sebelah dan bagian belakang cepak, berkata dan bersikap kasar apabila berkomunikasi dengan teman sesama remaja laki-laki. remaja perempuan juga tak kalah dalam membuat saya bertanya-tanya tentang perkembangan saat ini. remaja perempaun biasa menggunakan celana pensil ketat, baju ketat dan berwarna mencolok, biasa dengan asap rokok, dan ada yang banyak meniru gaya wanita dewasa seperti membawa tas di pundak dengan menggapitnya di antara tubuh dan siku.

musik yang disuguhkan oleh band-band ini juga rata-rata rock. bahkan ada sebuah band tamu yang secara eksplisit meminta para penonton untuk mengumpat umpatan khas surabaya lebih dari 10 kali. sungguh aneh, umpatan menjadi sebuah kebanggaan dan para penonton pun dengan senang hati (bahkan bangga) mengumpat dengan keras secara bersama-sama.

sekali lagi, apa yang terjadi dengan generasi muda saat ini saya tak tahu. siapakah yang patut dimintai pertanggungjawaban atas semua ini? orang tua, masyarakat sekitarnya, sekolah, pemimpin RT sampai Presiden, anggota dewan, atau mereka sendiri?

memang dibutuhkan sebuah kekuatan besar untuk menciptakan kembali generasi yang berbudipekerti luhur serta bertanggungjawab namun, tak adakah langkah kongkrit yang telah dilaksanakan? ini pertanyaan untuk kita semua.

perkembangan memang tak bisa dibendung tapi perkembangan dapat kita saring. bukan hanya para remaja kita yang harus "didandani" tapi juga seluruh bangsa ini.