14 Juli 2008

diklat teater kedok




diklat senior teater kedok SMA Negeri 6 surabaya di kompleks TNI AL Bumimoro kemarin (12-13 juli 2008) bukan hanyamenjadi sebuah ajang pendidikan dan latiahan saja tetapi juga ajang reuni para alumnus teater kedok. beberapa alumnus datang bahkan ada yang memberikan materi-materi teater. rasanya memang selalu terjadi dalam sebuah diklat teater kedok, alumni menjadi tulang punggung acara mulai dari materi sampai klimaksnya.
alumnus yang menjadi tulang punggung kali ini ialah abdul rohim, pratomo (plato), n muharram. abdul rohim memiliki peran sentral sebagai penggerak diklat serta sebagai pengawas. pratomo sebagai tim pelaksana yang memberikan ide-ide segar. serta, muharram berperan sebagai koordinator materi. muharram yang menentukan materi apa saja, waktu, serta point-point yang harus dicapai oleh tiap pemateri.
diklat teater kedok kali ini bertema " Organisasi yang Meng-kedok". maksudnya, menciptakan sebuah generasi baru penggerak teater kedok yang memiliki sikap seorang organisatoris, disiplin tinggi namun tetap kekeluargaan. oraganisasi dalam teater kedok sma negeri 6 surabaya memang cukup unik sebab memiliki dua wakil ketua yang mengorganisir organisasi dan pertunjukkan, namun selama ini keberadaan kegiatan pertunjukkan lebih banyak daripada organisasi. maka itu, tema diklat senior kali ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja organisasi teater kedok.
kerja teater kedok kian padat saja setelah melaksanakan beberapa pementasan dalam 3 bulan terakhir pada bulan agustus nanti ada 2 pagelaran yakni tampil dalam Festival Teater Remaja serta pentas tunggal pada 16 agustus 2008. proses sedang berlangsung dan setiap hari latian harus menghadirkan kemajuan yang berarti sebab pikiran teater kedok kini mulai terbiasa bercabang pada beberapa pertunjukkan.

09 Juli 2008

HARI TLAH BERGANTI



Asap lavender mengobak mabuk nyamuk dan hati
Ketika hari mulai berganti

Mimpi malam belum juga mengunjungi
Tatkala gelap makin terhimpit pagi

Dimana malam yang kau temani, kekasih?
Terasa telah seribu kali rindu ku asah
Apakah kau juga gelisah

Tak ada teman tidurku
Bukan jiwa. bukan nafasmu
Aku dibunuh sepi, layu

Hendak aku mabukkan jiwa
Mereka memanggilku menggoda
Layaknya tunasusila kota

Lavender masih saja berasap
Tapi, kali ini tinggal ruang pengap
Penuh janji, gila, dan gelap

Hari telah berganti
Ketika ku seka lagi mimpi
Yang menghampiriku tidurku pagi ini.


dini hari, 20 november 2006
Kenapa malam datang
Sementara matahari
Belum sampai memberi sinar
Yang terasa belum jua hangat

BERARTI ?

BERARTI?

HANYA AKU
TERBAKAR JADI ABU
REMUK MENDESAH KALBU
BUKAN LAYU
BUKAN PULA KAKU
TAPI SAYU

ADA BIKHU
MENARI MABUK DI HULU
TENGGAK DAGING KANGGURU

ADA PILU
MENYAYAT BAHU
HELAI-HELAI JADI ALU
JADI AKU

HANYA AKU
MENGUAP DALAM BIRU

3 februari 2007

08 Juli 2008

"Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar" *

mungkin benar yang dikatakan Chairil, bahwa cinta ialah sebuah bahaya besar yang cepat membesar dan juga cepat menyusut bahkan pudar dalam hati seseorang. inilah yang terjadi padaku saat ini. begitu menggelora cintaku pada nadya hingga aku rela melakukan apapun asal tak termasuk larngan imanku, namun kini, setelah semuanya berlalu aku hanya bisa mengenangnya dengan tertawa karena semua yang ku lakukan dan pikirkan dulu hanyalah sebuah riak air yang menjadi gelombang kemudian lekas kembali tenang.

Nadya, seorang perempuan cantik berumur 24 tahun dengan badan agak gemuk putih dan tinggi serelingaku. Nadya pertama aku kenal dari seorang teman lama yang waktu itu menjadi kekasih Nadya. pertemuan yang biasa saja meski aku sempat meliriknya, paras cantik dengan intelektual yang tinggi tentu saja cocok dengan teman lamaku yang juga tampan, pamdai serta sejahtera sedangkan aku seorang pengangguran terselubung alian mahasiswa semester akhir yang hanya menunggu uang orang tua tipa bulan meski kadang aku juga kerja paruh waktu di sebuah restorant cepat saji sebagai cleaning servis atau kadang juga sebagai kasir. restaurant yang terletak disebuah mall baru di kota kelahiran dan tempatku tumbuh.

Nadya yang kali kedua ku temui ketika ia memesan paket nasi, ayam, dan soft drink saat aku menjadi kasir aku kasih ia bonus ia kentang goreng ukuran besar. bonus itu aku berikan untuk menyenangkannya setelah aku tanyakan kabar teman lama ku

"aku udah ga jalan ma dia sekarang, jomblo."

dan teringatlah ku tentang ketertarikanku dulu padanya dan sebagai langkah awal aku berikan ia kentang goreng ukuran besar serta senyum ku yang paling ramah, meski sangat susah menciptakan senyum ramah dari wajahku yang kaku.

"Nadya kuliah ato kerja?"
"aku udah kerja, kamu udah kerja berapa lama disini?"
"baru 2 bulan, kamu,..."

hendak aku teruskan pertanyaanku tapi managerku segera datang sehingga percakapan itupun berakhir namun setelah makan Nadya kembali menghampiri aku dan tersenummanis sekali sembarimemberikan aku secarik tissu yang bertuliskan nomer handpondnya. aku sangat bahagia seperti ada sebuah orkestra yang bregemuruh dalam dadaku mengalum begitu indah dan megah.

aku jatuh cinta.

berikutnya menjadi hal yang luar biasa. kami mulai saling komunikasi dengan sangat amat lancar dan sering melalui telpon, sms, dan kadang bertemu setelah aku pulang kerja atau saat aku libur.

04 Juli 2008

kau tinggal



menantimu

tak tahu aku malam ini jadi apa?
ketika sepi jadi selimut
saat kabut buramkan mata pada langit

aku takut ketika malam datang
ketika yelda terjadi ditiap malamku
bukan lagi malam pertama musim semi yang panjang
bagai kasih tak sampai bulan dan matahari

malam

sepi itu sekali lagi menerjaku
merajam tiap sel yang mengatur nyawaku
menidurkan jiwa yang ambruk olehmu
petaka jadi biasa karenamu

gulita

aacchh,...
tergadai aku pada rasa
terlanjur serah terima padamu
maka, ku nanti yang tak berujung
ku tunggu kau yang berlari
bukan padaku tapi menjauh

30 Juni 2008

patah hati 1

ketika hatiku berkata
engkau milikiku yang tak termiliki.
aku marah padaMu
pada takdir yang menyesatkan aku
untuk mengasihi dia yang berlalu

jangan ambil hatiku
jangan ambil hatiku
jangan ambil hatiku
jika hanya akan pergi
jika hanya tuk sakiti aku