20 Januari 2009

naskah : Lapar

LAPAR
Sandiwara Radio

Karya Muhammad Ali

diketik ulang oleh Teater Kedok SMANAMBAYA

Guntur beregelegar. Terdengar suara katak,kemudian lonceng gardu jaga berbunyi beberapa kali tanda kereta api mau datang. Kemudian ada suara orang naik tangga.

Lastri : (kedinginan. Batuk-batuk). Pukul berapa sekarang Mon ?
Mona : (menguap) Ah,baru jam sebelas. Kau sekarang rajin benar Tri. Masih setengah jam lagi aku baru aplos,si Jagur belum juga lewat,tapi kau sudah ada di sini. Kepengen cepat-cepat naik pangkat,apa?
Lastri : Apa? Si Jagur?
Mona : Ya,si Jagur! Bukan kah begitu dia dijuluki kawan-kawan? Alah,si Jagur itu..Express Jakarta-Surabaya yang saban malam lewat. Ah,kau selalu ketinggalan Tri!
Lastri : Oh,ada-ada saja. Aku sangka…
Mona : (menyela tiba-tiba) Tri,kau bawa kopi? Mana sini..aku minta seteguk. Lekas Tri,hamper aku mati kedinginan. Memang terlalu dingin malam ini.
Lastri : Kopi?
Mona : Ya,kopi! Kau ndak bawa?
Lastri : Wah,lupa Mon.
Mona : E..e..kau bisa tahan semalam suntuk tanpa kopi? Jangan sembrono kau,kau tanggung nanti benturan keretanya.
Lastri : Aku….. (ketawa lemah)
Aku… Barangkali aku tahan Mon.(terdiam sejenak). Sudah seminggu aku ndak bawa kopi kemari. Aku tidak ngantuk,bahkan waktu siangpun aku kepingin tidur sebentar,tapi mata tak mau tertutup.
Mona : Oh..eh…Kenapa? Agaknya kau kena malarindu?
Lastri : (diam sebentar. Kemudian menjawab dengan serius) Mon,sesungguhnya aku mau minta berhenti. Aku tidak bisa. Aku tidak tahan jaga di tempat ini.
Mona : Berhenti? Apa katamu? Berhenti ?! Masyaalah! Barangkali kau ini mau berubah akal. Todakkah engkau tahu,beribu orang sekarang tunggang langgang cari kerja? Kan enak jaga malam di gardu ini. Siang-siang kau bisa tidur sesukamu. Lagipula,berapa lama sih kita jaga ? Lima jam ? Apa beratnya? (tertegun,kemudian berkata lagi)
Tri,kau tahu artinya berhenti? Nganggur! Dan nganggur itu artinya apa? Mampus,kau tahu?! Tapi,barangkali kau dapat lowongan lain?
Lastri : Tidak.
Mona : Lalu,apa maumu?
Lastri : Mon,sesungguhnya aku…aku takut jaga di tempat ini. Aku takut Mon. (dengan suara pengdsan yang agak melengking)
Mona : Takut?? (dengan suara heran)
Lastri : (berbisik) Mon..kau tak pernah mendengar sesuatu?
Mona : Apa?
Lastri : Teriakan-teriakan. Orang berteriak-teriak!
Mona : Orang berteriak-teriak? Di mana?
Lastri : Saban malam,agaknya sudah tujuh malam berturut-turut,aku dengar orang berteriak-teriak. Mulanya aku tak tahu siapa dan darimana datangnya suara itu. Sebentar jauh,sebentar pula mendekat mendekat lagi,kedengarannya seolah-olah di bawah gardu ini. Tapi setelah diperhatikan,menurutku ada orang yang berteriak-teriak dekat rel di tikungan itu.
Mona : Dari rel yang mana?
Lastri : Itu. Rel yang di tikungan itu. Disitu kan gelap benar.
Mona : Tadi kau katakana orang-orang. Ada berapa semuanya?
Lastri : Kalu aku tak keliru,ada dua. Seorang laki-laki yang suaranya parau dan mengerikan,dan yang satu lagi,kukira perempuan,suaranya melengking nyaring. Setiap kereta api express dari Jakarta lewat,selalu kedengaran suara mereka. Seolah-olah ada yang kelindas. Mulanya memang aku sangka begitu,tapi,setelah kuperiksa,disana tak ada apa-apa,dan teriakan mereka itu berpindah-pindah pula,aku,aku…
Mona : (menyela) Kau mendengarnya sunguh-sungguh?
Lastri : Berani sumpah aku,sungguh mati Mon. aku dengar dengan telingaku ini. Aku dengar mereka menjerit-jerit,kadang seperti mengeluh,kadang mereintih-rintih,dan kadang pula seolah-olah mereka menangis sedih. Saban malam,sampai waktu fajar,ketika keretaapi Malang lewat situ,baru mereka berhenti,dan suara mereka menghilang.
Mona : Kau bilang tadi…yang satu laki-laki dan satunya perempuan?
Lastri : benar.
Mona : Apa yang mereka teriakkan?
Lastri : Aku tak tahu pasti. Tapi kira-kira mereka berteriak begini: Lapaaar…Lapaaarrr…Laaapaaarrr!!!


#####$$$$$#####


Guntur bergelegar lagi. Kemudian terdengar lonceng di gardu jaga yang menandakan kereta api datang.

(terdengar jeritan seorang laki-laki dan seseorang perempuan).

P & T : Laaapaaarrr…laaapaaarrr…laaappaaaarrr…!
Lastri : Mon….(berbisik) Mon..kau dengar? Kau dengar Mon?
Mona : Tri,Tri,ya Allah! Audzubillahiminassyaitonirrojim.
Lastri : Apa? Apa? Itu apa Mon?
Mona : Ini…Ini suaranya Putero. Putero! Dan yang perempuan itu…itu bininya,Tini! Tri..Tri…aku kenal benar mereka itu. Mereka sudah mati,Ya Allah.
Lastri : Mati?
Mona : Sungguh! Mereka itu sudah mati…kedua-duanya. Memang sudah mati. Kelindas keretaapi,tempo hari. Di situ Tri,di tikungan itu. Aku tahu ini betul suaranya Putero dan Tini!

(bunyi pintu di dobrak keras-keras serta bentakan garang)

Putero : Binatang! Apa ini pintu ini selalu ditutup?! Apa maksudnya? Bikin sial!
Tini : eh…eh…aku kira…. (dengan tergagap-gagap)
Putero : Kau kira siapa? Setan? Oh,kau kira selingkuhanmu yang datang? Selingkuhanmu ya?!
Tini : Mas Putero!
Putero : Memang,sejak aku nganggur,kau suka ngeluyur. Kenapa kau ngeluyur? Kalau tidak cari gendak? Kau kira aku buta? Hehh,perempuan celaka!
Tini : Mas putero! Aku kira Tuan Karim lagi yang datang. Tadi dia sudah kemari pula. Bukankah sewa rumah delapan bulan,belum dibayar? Kita diusir kalau besok tidak bayar.
Putero : Tuan Karim. Lagi,lagi Tuan karim. Peduli apa sama dia?
Tini : Dia suruh kita pergi.
Putero : Ah,diam!!

(mereka berdua sama-sama terdiam)

Tini : Mas selalu yang memulai pertengkaran. Ada ada saja yang kau jadikan helah. Saban hari aku kau bentaki,kau maki-maki,saban kau datang kau bikin rebut! (lalu menangis terisak-isak)
Tini : Aku malu mas,malu didengar tetangga kanan kiri.
Putero : Persetan sama tetangga! Kamu kira,tetangga yang kasih kita makan? Tetanggakah yang carikan aku kerja jika tak punya kerja seperti sekarang? Tetangga,biar mampus semua!
Tini : Ya,kau memang tak mau peduli apa-apa lagi…
Putero : ah,jangan cerewet! Ayoh sediakan makan!
Tini : Makan?
Putero : Kau tuli? Aku bilang makan. Sediakan. Ayoh! Lekas!
Tini : Apa yang akan dimakan? Ini hari,aku nggakmasak. Beras habis. Barang-barang semua sudah dirombeng. Semua! Perhiasanku,pakaianku,habis! Tinggal tikar bantal kecil yang ditiduri anak kita. Apa itu juga mesti dirombengkan?
Putero : Binatang! Aku tidak tanya itu semua. Aku lapar! Lapar! Mau makan sekarang. Kini juga!
Tini : Kau mau makan? Hehh, telan saja kendi ini,satu-satunya barang yang ketinggalan. Telanlah!
Putero : (membentak) Keparat!
Tini : Istrimu,anakmu,anakmu yang berumur lima bulan itu,telah dua hari perutnya tak kemasukan makanan. Kau tidak tahu? Dengarlah dia menangis,mengapa? Kau tak tahu? Dia lapar. Lapar!
Putetro : Diam! Aku pecahkan kepalamu! Oh, tutup mulut anak celaka itu. Aku tak mau dengar.
Tini : Dia lapar mas, dia lapar.
Putero : Tutup mulutmu!
Tini : Dan air susuku kering
Putero : Diam! Dian! Kutampar mulutmu. (menampar Tini. Lalu Tini menjerit kesakitan)
Tini : Jika begini terus menerus, lebih baik aku pergi saja. Tati kubawa.
Putero : Pergi? Kau mau pergi? Pergilah! Aku bosan melihat mukamu yang kemurung-murungan itu. Pergilah lekas!
Tini : Dan akupun tak tahan lagi tinggal tersiksa dalam neraka ini. Daripada aku mesti lapar dan makan hati disini, bukankah masih ada orangtuaku di desa? Lagipula, bukan sekali dua kali aku kau usir! Biarlah aku pergi sekarang juga.
(putro terdiam kemudian memanggil Tini)
Putero : Tini !


Hujan lebat menderu-nderu diselingi oleh petir halilintar. Terdengar suara pintu diketuk
dan bayi menangis-nangis.

Nyonya : Siapa?
Tini : Saya, saya nyonya! Tolong bukakan pintu. Nyonya!
Nyonya : Siapa? Saya siapa?
Tini : saya nyonya, tolonglah saya, nyonya. (setelah membuka pintu)
Nyonya : He, ada apa ini ? Siapa kau ? (heran)
Tini : Saya, tolong saya nyonya, ini anak saya !
Nyonya : Masuklah –masuklah. Perlu apa dik ? dan siapa pula yang kamu cari disini?
Tini : Nyonya, nyonya, saya mohon pertolongan nyonya. (menjawab terputus-putus)
Nyonya : Tolong? Tolong bagaimana? Eh aku tidak mengerti. Siapa kau sebenarnya dan kenapa datang begini malam ? Diwaktu hujan seperti ini pula ?
(Tini menangis sedih)
Nyonya : Oh jangan menangis , ceritakan apa yang telah terjadi. Coba ceritakan, barangkali aku dapat menolongmu.
Tini : Nama saya Tini, Nyonya. Saya diusir suami saya sebab………………..
Nyonya : Apa sebabnya? Terangkan. (sela wanita itu)
Tini : Sebab dia lama menganggur. Dia jadi sengsara. Hidup kami bergantung pada gajinya. Dia kebingungan dan selalu marah-marah, dan begitulah pada suatu malam saya telah diusirnya.
Nyonya : Oh (kata wanita itu,lalu dia berkata). Kau tak punya famili?
Tini : Ada orang tua saya di desa, Nyonya.
Nyonya : Mengapa tidak kesana saja?
Tini : Sudah nyonya, saya sudah pergi kesana. Tapi mereka tidak bisa menerima kami.
Nyonya : Mengapa?
Tini : Mereka tidak mampu, nyonya. Mereka sendirian kelaparan. Makan singkong sehari sekali.
Nyonya : Oh. Berapa umur anakmu itu?
Tini : Lima bulan, nyonya. Namanya Tati. Bapaknya yang kasih nama begitu.
Nyonya : Manis namanya. Oh ya, begini saja, eh siapa pula nama mu?
Tini : Tini
Nyonya : Oh ya, begini Tini, sesungguhnya saya pun tidak bisa menerima kamu. Saya sendiri dalam kesukaran pula. Bukan saja orang di desa, orang-orang kota pun kini mengalami kesusahan. (terdiam seketika)
Tapi, kalau kau suka, biarlah aku terima anakmu saja. Itu, kalau kau suka. Coba kulihat muka anakmu.
Tini : Anak saya saja? Dan saya?
Nyonya : Kau sendiri tentu bisa dapat kerja di tempat lain. Ya,begitu saja kalau kau suka. Kebetulan sekali kami tak punya anak. Berapa tadi kau bilang umurnya? Lima bulan? Aduh,masih bayi,ya?
Tini : Jadi nyonya mau anak saya saja?
Nyonya : Ya. Maksudku anakmu mau aku ambil,ku jadikan anak angkatku. Sudah lama aku kepingin anak,dan kebetulan kau datang membawa anak.
Tini : Tapi…
Nyonya : Apalagi? Kan,baik begitu. Daripada anak itu keadaannya tak terurus sepeti sekarang. Lihat,betapa kurus dia. Kau mau bunuh anakmu sendiri? Kasihan…betapa kurusnya dia.
Tini : jika begitu maksud nyonya..biarlah dia tinggal disini bersama Nyonya,barangkali akan lebih baik. Dan saya sendiri nanti akan mencoba melamar menjadi babu atau apa saja di tempat lain. Hanya kalau nyonya tidak keberatan…
Nyonya : Mengapa?
Tini : Kalau nyonya tidak keberatan…tolong beri saya pesangon. Seribupun sekarang saya tak punya….
Nyonya : Pesangon? Oh tentu,tentu! Tapi begini Tini,lebih baik aku berterus terang saja. Anakmu itu sesungguhnya akan ku beli.
Tini : Dibeli,Nyonya?? (menyela tiba-tiba)
Nyonya : Nanti kusuruh bikin sepotong surat dank au harus pasang cap jempol diatasnya. Surat itu maksudnya…bahwa kau telah menyerahkan anakmu padaku. Dan sebagai gantinya,kau dapat lima juta dariku. Lima juta. Cukup bukan?
Tini : (bingung) Jadi….
Nyonya : Jangan kuatir…
Tini : tidak,tidak Nyonya. Saya tudak juak anak ini. Tidak. Tidak. (cemas)
Nyonya : Itu kalau kau suka. Kami tidak paksa. Kami hanya mau menolong kau saja. Kalau tidak,yah apa boleh buat. Aku tidak bisa terima begitu saja. Diman sekarang ada orang yang mau menolong begitu saja? Nah,sekali-kali aku pun mengijinkan kau datang melihat anak ini. Bagaimana? Lima juta. Boleh ndak? Eh,kau suka? Jangan kuatirkan apa-apa,sebentar aku bikin suratnya,aku panggil saksi-saksi juga. Bagaimana? Suka? Sudahlah..jangan piker-pikir lagi. Tak usah kuatir. Lima juta,dekarang banyak itu. Dan kau hanya perlu pasang cap jempol saja.
Tini : Kalau begitu nyonya,yah apa mau dikata.



#####$$$$#####

Putero : BERHENTI!!
Mona : Eh..eh..ya..ya bung,nanti dulu bung. (lalu terkejut) Lho…ini kan Mas Putero?! Ada apa mas? Ah,terlalu. Sungguh-sungguh mengejutkan.
Putero : Betul betul. Kau tidak keliru Mona. Memanglah ini Putero. Putero yang malang. (lalu tertawa terbahak-bahak) Dan sekarang kau..Mona yang budiman.
Mona : Yang budiman ? (takjub)
Putero : Ya,ya,serahkan uangmu padaku. Buka celanamu,buka hemmu,lencang tanganmu. Ayoh,ayoh,serahkan semua kepadaku! Semua! (lalu setengah berbisik) Kalau tidak,belati ini jadi bagianmu. Mau ini?
Mona : Te..te..te..tapi.. (tergopoh-gopoh)
Putero : Tidak ad ate-te-tapi. Serahkan lekas!
Mona : Mas Putero! Mas Putero!
Putero : Ayoh lekas! Serahkan semua kepadaku! Kalau tidak,aku benamkan belati ini kedalam perutmu. Lekas!!
Mona : Mas Putero,kenapa,kenapa kau jadi begini?
Putero : (tertawa keras) Apa? Kenapa aku jadi begini? (lalu tertawa lagi)
Mona : Mas putero,aku ini Mona,Mona tetanggamu. Aku Mona kawanmu sendiri! Kau tentu tahu aku orang melarat bukan?!
Putero : Diam!!! Jangan banyak cing-cong! Ayo lekas serahkan barang-barang itu. Kalau tidak,aku perah jantungmu hingga lumat.
Tini : Nanti dulu, Nanti dulu Mas Putero! Ingatlah,ingatlah. Aku ini kawanmu,tetanggamu sendiri. Pekirlah tenang-tenang. Pernuatan ini kurang patut. Memalukan! Keji ndan kelewat jahat! Mas Putero,ingatlah. Ingatlah!
Putero : Apa? Jahat katamu? (tertawa gembira). Jahat? Memang. Memang kau benar mona. Kau tidak keliru. Sedikitpun tidak keliru. Memang perbuatanku ini jahat. Terlalu jahat.! Tapi… (menahan nafas dan mulai beramah tamah) yang terlebih-lebih jahat lagi ialah mati kelaparan! Kau dengar? Mati kelaparan!!
Mona : Mas Putero. Mas Putero,aku,aku mionta ampun. (kebingungan). Ampun Mas Putero,ampunilah aku,ampun. Barang-barang ini bukan aku yang punya,sungguh mas Putero,ampuni aku,ampun.
Putero : Hehh! Kau punya atau bukan…aku tidak peduli! Serahkan! Habis perkara.
Mona : ampun,Ampun mas Putero! (menjerit tiba-tiba)
Toolllooong…Tooolllooong...!!
Putero : Diam!!! Aku cekek batang lehermu!
Mona : Tolong! Toll…. (tiba2 tersekat,mengaduh,terserak-serak kesakitan)
Putero : Ayoh! Kau serahkan apa tidak?
Mona : Ampun. Ampun. Ampun.
Putero : Kucekek kau sampai mampus.
Mona : aduh,aduh,aduh,lepaskan,lepaskan aku,aduh,aduh. Aduh,aduh,jangan bunuh aku. Jangan,jangan,jangan,aku punya suami,punya anak..aduh..aduh…
Putero : Kau serahkan apa tidak? Ayo lekas!
Mona : (Mengadu-adu, tersekat-sekat, suarantya parau dan lemah) Ya, ya, aduh…


Wanita : Malam ini kok sepi ya Tin? (Dengan suara genit). Tidak seperti kemarin. Tengoklah, jajannya masih utuh, kopinyapun belum kalong. Botol limun juga belum ada yang kosong. Ah, sial sih malam ini! (diam sejenak)
Tin, sudah pukul berapa kira-kira sekarang? (menguap panjang)
Tini : Entahlah (seraya terbatuk-batuk)
Wanita : Apa sekarang pukul sepuluh?
Tini : Entahlah.
Wanita : aduh, pantat ku sudah serasa terpanggang duduk berjam-jam begini. Sial. Kapan sih aku jadi kaya?!
Tini : (terbatuk-batuk) masih ada rokokmu?
Wanita : Rokok? Astaga! Sejak pagi tadi hingga kini, aku cumin hisap sebatang, hanya sebatang tak lebih, dan itupun aku dapat dari orang lewat. Bukankah sudah kukatakan, hari ini memang hari sial. Sampai-sampai membeli rokok pun aku tak mampu.
(tini terbatuk-batuk lagi)
Wanita : Tin belakangan ini kulihat mukamu selalu murung saja. Jarang kau omong-omong seperti dulu. Kau tampak lesu selalu. Ada apa Tin? Apa yang kau susahkan? (tini menghela nafas, kemudian terbatuk-batuk dan wanita meneruskan) saban malam dalam tidurmu kau mengigau, hingga ku takut. Apa yang kau igaukan itu, kurang jelas bagiku, tapi ada juga kudengar engkau menyebut-nyebut nama seseorang. Nama siapa? Entah, aku lupa. Dan semakin hari mukamu semakin bertambah cekung dan kepucatan-pucatan . badanmu semakin rusak tak terpelihara.
Tini : Ah, sudah. Jangan mencomel ! (sela tini kesal)
Wanita : Selamanya kau membangkang. Selamanya kau ini cengkal. Berapa kali sudah kuperingatkan padamu. Minumlah jamu ! minumlah jamu setiap sore! Tapi rupanya aku sama sekali tak kau pedulikan. Dan kau kurang tidur juga. Ingat tin, kalau kita layu, kita tak laku, sepeser pun tidak! Kita mesti berhati-hati memelihara badan sendiri, kalau masih ma uterus hidup.
Tini : Jamu! Jamu! Kurang tidur! Jaga badan! (kata tini tiba-tiba)
Kok itu-itu saja yang kau omongkan. Apa tak ada yang lain? Semua itu tak ada gunanya bagiku. Aku benci!
Wanita : Eh. Benci? Benci apa? Siapa yang kau benci?
Tini : Aku benci diri sendiri .
Wanita : Benci diri sendiri? Lho, kau ini sungguh aneh. Ada-ada saja. Masa ada orang benci sama diri sendiri?
Tini : Tapi memang begitu yang sesungguhnya. Aku benci diriku sendiri. Diriku ini sudah begitu najis, berpindah-pindah dari satu kelain rangkulan laki-laki. Ah, dulu, belum lama lagi, kapan aku melihat perempuan jalang, timbul jijikku. Dan sekarang aku sendiri .
Wanita : Alah, itukah yang kau ributkan? Guna apa? Oh, orang boleh jadi apa saja, yang perlu kan asal kita dapat makan?
Tini : Tapi aku malu. Aku malu! (kata tini serak)
Wanita : Kenapa mesti malu kau? Cari makan tak usah malu. Ah, sudah Tin, jangan kau mengada-ada, nanti kau sendiri yang celaka. Nah, itu dia, ada becak kemari.
(lalu wanita berseru) Mari mas, mampir mas! Mari, mampir mas!


####$$$$####

Kedengaran bunyi tuwak dituang ke dalam gelas, lalu Putero meneguknya habis-habis, kemudian ia mengketap-ketapkan lidahnya berkali-kali .

Putero : Hahh, enak betul tuwak ini ! (kata Putero sambil ketawa puas)
Amin : Minum terus! Terus sampai mampus! (kata Amin kawan Putero)
Putero : Habis mau apalagi, Amin? Dunia ini kan dibikin buat tempat kita bersenang-senang, bukankah begitu? Nah, selagi kau hidup minumlah puas-puas, minumlah, dan lupakan hidupmu! Dan itulah baru hidup sebenarnya. Min, rahasia ini, kubuka hanya untuk kau saja, kawan setia. (Lalu tertawa terbahak-bahak).
Amin : Ah, sudah, jangan gila-gilaan.
Putero : (Tawa mereda) Min, belum kuceritakan padamu pengalamanku siang kemarin? Ha!!
Amin : Pengalaman?
Putero : Kau tahu itu baba gendut? Aku gertak dia abis-abisan, waktu dia balik siang-siang dari pasar. Tahu kau? Aku gertak sama apa dia? (tertegun, lalu pecah dalam gelak terbahak-bahak, sambungnya). Sama ini! Sama korek api ini Cuma! Walah!! Tapi pintar dia, dan betul-betul kurang ajar dia. Masa kantongnya Cuma berisi lima ribu rupiah? Cuma lima ribu rupiah Min! memang babi dia.
Amin : Kau kira orang sekarang tetap geblek seperti kau begitu?. Huhh, mereka duitnya dalam petibesi. Yang dikantong cuma lima ribu rupiah.
Putero : Tapi satu kali aku mesti bekuk dia, si babi gendut itu!.
Amin : Tapi Tro, jangna gampang-gampang sekarang bung, untuk membekuk orang.
Putero : Kenapa?
Amin : Eh, kenapa? Kepalamu kau taruh di mana? Tidakkah kau tahu? Somad sudah ketangkap. Sidik juga. Si Kompleng yang jagoan itupun tidak luput. Nanti mesti datang giliranmu. Kemudian giliranku sendiri.
Putero : Ketangkap? (gembira). Aku ketangkap? Oh, tidak Min, aku tak mungkin ketangkap! Tak mungkin! Kau tahu apa sebabnya? Sebab aku memang tidak sudi ditangkap!
Amin : Eh enaknya, tidak sudi ditangkap. Si Kompleng dulu juga bilang begitu, dan sekarang dia meringkuk dalam terungku.
Putero : Aku lebih suka ditembak mati. Yaa lebih baik mati. Dan memang aku kepingin lekas mati.
Amin : Tro, (dengan sungguh-sungguh). Sejak kawan-kawan tertangkap semua, tambah hari hatiku tambah ngeri rasanya. Aku jadi takut Tro. Dan terpikir-pikir ada niatku mau tobat saja….
Putero : Tobat? (dengan takjub). Kau mau tobat? Tobat? (kemudian tertawa terkekeh-kekeh).
Amin : Daripada ditembak mati?
Putero : Lantas, kalau kau sudah tobat kau mau apa? Mau jadi apa kau? Mau ke mana kau? Mau mati kelaparan? Merengek-rengek lagi seperti dulu ya!
Amin : Entahlah, tapi….
Putero : Ah, otakmu mulai miring. (lalu terdengar langkahnya pergi menjauh terseok-seok.
Amin : He, Tro! Mau ke mana?
Putero : (Seraya membantingkan pintu keras-keras) Perempuan.

#####$$$$$#####


Bunyi langkah Putero terseok-seok, terhoyong-hoyong sambil menyanyi-nyanyi kecil tak
berketentuan.

Tini : Mas, mas, ada rokok mas? (suaranya lemah merayu)
Putero : Heh, siapa kau? (bergumam). Oh, perempuan. Ada apa berdiri digelap-gelap? Oh, kau belum laku? Kasihan!
Tini : mari mas, kemari. Minta rokok sebatang mas. Kemari sebentar mas!
Putero : Rokok? Oh, kau mau rokok? Ah, eh, ini ada perempuan minta rokok. Oh, jangan kuwatir. Eh, ini rokok aku tinggal satu, eh eh ya, Cuma tinggal satu korek. Eh rokoknya (sambil tertawa merengek).
Tini : Mari mas, kemari mas! (suaranya tambah merayu)
Putero bergumam, melangkah terseok-seok.
Tini : Terima kasih, ada koreknya mas?
Putero : Eh, sudah dikasih korek, eh rokok, minta korek, kerek… Oh, korek, tentu, tentu ada, jangan kuatirrr. Hemm, ini dia! Satu kali! (seraya mencetuskan api-apinya), Dua kali! Tiga kali! Ha (tiba-tiba ia tertegun, lalu berseni penuh takjub). Tini!!! Kau? Kau? Tini! Ah, Tini. Aku, aku Putero. Putero suamimu. Kau lupa aku Tini?
Tini : Lupa? Sama sekali tidak. Tapi kenapa kau begitu terperanjat ketemu aku ditempat ini? (kata Tini kurang acuh sambil terbatuk-batuk).
Putero : Tiada kusangka, sungguh tak kusangka Tini, aku akan menjumpai kau ditempat gelap ini. Dan, ah Tini, betapa kau sampai jadi begini? Tini, ah Tini, betapa? Betapa Tini, Ah, Tini.
Tini : (tertawa terkikik) Kau bertanya, betapa aku sampai jadi begini? Lucu. Sungguh lucu pertanyaanmu itu.
Putero : Aku kira engkau pulang ke desa, ke orang tuamu. Mengapa kau disini? Apa yang terjadi Tini?
Tini : Sudah, sudah. Jangan diurus lagi perkara itu. Tak ada gunanya. Dan apa perlunya kau tanyakan itu semua?
Putero : Apa perlunya? Tini, bukankah kau isteriku?
Tini : Isterimu? Hemm, tidak, semua itu tak perlu dibangkit-bangkit lagi. Akan menyesakkan napas saja.
Putero : Mana Tati? Tati di mana?
Tini : Tati? Oh, anak itu kau tanyakan juga? Anak itu? Dia sudah kujual!
Putero : Ha!? Apa kau bilang?
Tati : Aku jual. Kenapa? Aku jual dia lima juta rupiah! Kenapa?
Putero : Kau jual? Anak itu? Tati kau jual?
Tini : Ya, betul. Memang anak itu sudah kujual. Mengapa? Menngapa kau begitu heran? Ah, seperti kau ini baru turun dari langit saja. Tidak perlu kau begitu terkejut jika sekarang ada orang menjual anaknya.
Putero : Tetapi Tini, mengapa sampai begitu?
Tini : Aku lapar. Apa yang harus kulakukan dalam keadaan seperti itu? Tati tentu akan mati kelaparan jika dia tidak kujual. Aku mau, kalau dia mesti mati juga, janganlah dia mati kelaparan. begitulah, lantas dia kujual lima juta rupiah harganya. Bahkan diriku sendiripun kutawar-tawarkan pada siap ayang mau beli, dan harganya tidak semahal itu pula.
Putero : Tini, eh Tini, kau berdosa! Kau sungguh berdosa Tini!
Tini : Dosa? Dosa? (tertawa terkekeh). Apa ada dosa? Apa? Masih adakah sekarang orang yang mengerti dosa? Masih adakah sekarang orang yang menentang dosa? Mas Putero! Sekarang dosa tinggal dosa, semua gila!
Putero : Tapi itu anakmu Tini, anakmu sendiri yang kau jual. Betapa kau sebagai ibu sampai hati menjual anak kandungmu sendiri? Ah, Tini.
Tini : Mas Putero, belum pahamkah engkau? Lihatlah keadaanku sekarang. Kotor berlumur najis. Apakah aku harus membiarkan Tati bernasib seperti aku pula? Tidak, eh tidak mas Putero. Biarlah aku saja yang begini. Tati hendaknya jangan, ah, anak yangmanis itu.
Putero : Tapi Tini, ah, ah.
Tini : Jangan mengeluh. Aku bosan dengar keluhan. Dimana-mana sekarang orang pada mengeluh. Mengeluh. Mengeluh tiada habis-habisnya. Yang hidup mewah sekalipun kerjanya cuma mengeluh, dan membiarkan ribuan orang mati dikolong jembatan.
Putero : (Setelah lama terdiam) Tini, Tini, aku. Aku masih tetap cinta kepadamu Tini. Percayalah aku masih cinta padamu. Demi tTuhan! Waktu kau kuusir dulu dari rumah, aku sedang kebingungan, pikiranku kacau. Kau tentu mengerti Tini. Dulu-dulu aku tak pernah berbuat seperti itu.
Tini : (Terbatuk-batuk)
Putero : Kini aku menyesal Tini, sungguh menyesal. Tentu kau mau memaafkan aku Tini. Demi Tuhan, Tini, aku masih tetap cinta padamu.
Tini : (menyela) Ah sudah, jangan mendongeng!.
Putero : Demi Tuhan, aku cinta.
Tini : (menyela dengan cepat) Cinta! Tuhan! Cinta!. Apa itu semua? Cuma mainan yang paling bagus buat orang sekarang.
Putero : Tini marilah kita hidup berkumpul sebagai yang dulu lagi. Mari Tini, dan kita ambil Tati kembali, kita tebus dia kembali. Dan kita bertiga hidup sebagai dulu lagi. Kita bertiga Tini. Kau, aku dan Tati.
Tini : Hidup?
Putero : Ya, ya, hidup Tini, hidup rukun dan bahagia! Untuk selamanya! Aku takkan mengusir engkau lagi, selamanya tidak. Sungguh Tini, aku berjanji, aku bersumpah.
Tini : Hidup? Hidup katamu?
Putero : Ya, hidup Tini, hidup senang.
Tini : (tertawa mengejek) Oh, oh mas Putero kau bicara perkara hidup? Hidup? Apakah kau sedang mimpi? Hidup apakah yang kau maksudkan? (Tertawa lagi) Pabila dan hidup dimana itu? Bagaimana rupanya? Bagaimana rasanya? Indah? Merah? Kecil? Manis? Asin? (lalu tertawa ria merenai)
Putero : (berkata kebingungan) Ya, ya Tini.
Tini : kau sendiri tak tahu apa yang kau katakana mas Putero. Kau sendiri tak mengerti apa itu hidup! Ah, mas Putero, tiada hidup lagi bagimu, bagiku juga tidak. Kita ini bangkai-bangkai yang terlempar dan sia-sia, dan bangkai-bangkai tak berhak bicara perkara hidup. Hidup hanyalah bagi mereka yang punya harapan.
Putero : (menyela) harapanku besar Tini. Sungguh besar.
Tini : Ah, kau sedang bermimpi mas Putero. Kau mimpi!
Putero : Tidak Tini, aku tidak mimpi. Dengarlah.
Tini : Jangan dekati aku!
Putero : Dengarlah Tini, dengarlah aku.
Tini : Jangan dekati aku.
Putero : Tini!
Tini : Aku tak sudi!
Putero : Tini! Tini! Jangan lari!
Dan Putero lalu berseru-seru memanggil
Putero : Tini! Tini! Tini!
Dan dari kejauhan mulai terdengar raung dan peluit kereta api yang datang. Peluit
menjerit-jerit, raung menghebat dahsyat, dan Putero menjerit ngeri.
Putero : Tiniii!

#####$$$$$#####


Suara Putero dan Tini yang menggema bergantung, sedih menyayat,
mengambang melayang-layang.
Putero dan Tini : LAPAR!
Tono : Mon! Mon, kau dengar?. Mereka mendekat Mon, mereka mendekat.
Mona : (mengeluh) Ya Allah! Ya Allah!... Audzu. …..
Tono : Apa betul Mon, mereka itu sudah mati?
Mona : Aku lihat sendiri, aku saksikan sendiri mereka mati kelindas kereta api.
Tono : Mon?!
Mona : Betul!
Tono : Lantas ini apa maksudnya?
Mona : Ya Allah, entahlah.
Tono : Apa mereka hidup kembali?
Mona : Tak boleh jadi, tapi….
Tono : Mon, Mon, mereka mendekat lagi. Apa ini Mon?
Mona : Ini ruh mereka No, ruh mereka yang merintih. No, No, mesti kita bikin selamatan untuk ruh mereka. Supaya…. Ah. Barangkali tidak ada yang menyelamati mereka?!
Tono : Selamatan?
Mona : Iya ….
(kemudian berkata lagi) No, aku bersumpah malam ini beras bagianku untuk minggu ini akan kukurbankan …
Tono : Untuk apa?
Mona : Buat selamatannya Putero dan Tini.
Lonceng tanda di gardu jaga berdentang kembali. Raung kereta api dari jauh mendekat.
Peluit menjerit-jerit. Kereta api melintas deras. Cepat! Dahsyat! Kemudian, menjauh, dan
raungnya menggema dikejauhan dan lenyap. ***

Naskah : Sebuah Salah Paham

NASKAH : TEATER I “SEBUAH SALAH PAHAM’’
KARYA : SAMUEL BECKETT
ALIHBAHASA :MAX ARIFIN
diketik ulang oleh Muharram

Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.
A, buta, duduk di atas bangku dengklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.
Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-

Pause.-

1.A. :
Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. B masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].
Sedekahlah untuk orang tua melarat.
[Pause].-

2.B :
Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!

[Pause].

Sekarang aku bisa kembali,karena misteri itu sudah terungkap .[dia kembali memandang kursi rodanya.Berhenti]. Atau, bagaimana kalau kita bergabung dan hidup bersama,sampai maut datang menjemput.[Pause]. Bagaimana pendapatmu tentang itu,Billy? Boleh aku memanggil kau Billy seperti nama anakku? [Pause].Kau ingin seorang teman, Billy?[Pause] Kau mau makanan kaleng, Billy?

3.A :
Makanan dalam kaleng? Makanan apa itu?

4.B :
Daging dalam kaleng,Billy; ya, daging dalam kaleng.Cukup untuk menjaga kesehatan badan dan jiwa sampai musim panas. [Pause]. Tidak? [Pause]. Juga ada beberapa buah kentang,Ya,cuma beberapa pon.[Pause] .Kau suka kentang,Billy?
[Pause] .Malah kita bisa membiarkan kentang-kentang itu bertunas kemudian kita menanamnya.Kita bisa mencobanya.[Pause] Aku memiliki tanahnya dan kau bisa menanamnya.[Pause].Tidak?

[Pause]

5.A. :
Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh?


6.B :
Sulit mengatakannya.Seperti kau ketahui, sekarang ini musim dingin.

[Pause]
7.A :
Sekarang ini siang atau malam?

8.B :
Oh,…[memandang ke langit] sekarang siang, kalau kau mau.Tak ada matahari,tentunya, sebab kalau ada kau tentulah tidak bertanya. [Pause].Dapat kau mengerti apa maksudku? [Pause] Apakah kau masih memiliki kecerdasan tentang dirimu sendiri. Billy, apakah kau memiliki akal budi tentang dirimu ?

9.A :
Kalau cahaya,bagaimana. Ada ?

10.B :
Ya. [Memandang ke langit lagi]. Ya,cahaya. Tak ada kata yang tepat untuk itu. [Pause]. Boleh aku menjelaskannya padamu ? [Pause]. Boleh aku mencoba memberikan sebuah gagasan tentang cahaya ini ?

11.A :
Bagiku, kadang-kadang bila aku menghabiskan waktuku di sini di waktu malam, itu berarti memainkan biola tua ini atau mendengar, mengawasi ada orang datang. Aku biasa merasakan bagaimana senja menjelang dan mempersiapkan diri. Aku menyisihkan biola dan mangkok dan berdiri bila ia menuntun aku.

[Pause].-

12.B :
Dia ? Dia siapa ?

13.A :
Dia istriku. [Pause] Seorang wanita. [Pause]. Tapi sekarang……….[Pause]

14.B :
Sekarang ?

15.A :
Kapan aku keluar, aku tidak tahu; dan kapan aku tiba di sini aku tidak tahu dan selama aku berada di sini aku tidak tahu, apakah siang atau malam.

16.B :
Kau tidak selalu seperti dirimu. Apa yang menguasai kau ? Perempuan?Judi? Atau Tuhan ?

17.A :
Aku akan selamanya seperti diriku.

18.B :
Mari !


19.A :
[Marah]. Aku akan selamanya seperti diriku,dicekam kegelapan sambil menggesek biola yang menghasilkan nada-nada sumbang menuju ke empat penjuru angin.

20.B :
[Marah]. Kita mempunyai istri, bukan? Istrimu akan menuntun kau dan istriku akan mendorong kursi roda ini ke luar di waktu malam dan pulang lagi di waktu pagi dan mendorong aku sejauh mungkin bila aku bingung.

21.A :
Kau pincang ? [Tanpa emosi] Mahluk yang malang !

22.B :
Cuma satu masalah: kalau putar ke kanan. Bila tak ada masalah yang satu ini, kupikir aku akan bisa mengelilingi dunia ini dengan cepat. Sampai pada suatu hari ketika aku menyadari aku bisa pulang. [Pause]. Umpama begini. Aku berada di A [ Ia mendorong dirinya sedikit ke depan lalu berhenti]. Aku bergerak ke B [Ia mendorong dirinya ke belakang sedikit, berhenti]. Dan aku kembali lagi ke A [dengan penuh kesulitan]. Garis lurus ! Ruang kosong ! [Pause]. Bisa aku mulai menggerakkan kau ?

23.A :
Kadang-kadang aku mendengar langkah-langkah orang mendekat. Atau suara-suara. Aku bilang pada diriku, mereka itu sedang berjalan pulang, beberapa orang memang berjalan pulang, mencoba dan memulai lagi atau sedang mencari seseorang yang mereka tinggalkan di belakang.

24.B :
Kembali! [Pause] Siapa yang mau kembali ke mari ? [Pause] Padahal kau tidak pernah menyeru ! [ Pause] Berteriaklah ! [Pause]. Tidak ?

25.A :
Apakah kau mengamati sesuatu yang tidak ada?

26.B :
Oh, aku? Mengamati sesuatu ? Kau tahu, aku duduk di sana, tergeletak di atas kursi, di kegelapan selama 23 jam dalam sehari. [Marah] Apa yang harus kuamati ? [Pause]. Kau pikir kita akan mengadakan semacam perlombaan setelah kau mulai mengenal aku, he ?

27.A :
Kau bilang tadi daging dalam kaleng ?

28.B :
Tepat.Bagaimana kau hidup selama ini? Kau tentulah kelaparan.

29.A. :
Di mana mana banyak terdapat sesuatu.

30.B :
Yang dapat dimakan?


31.A :
Kadang-kadang.-

32.B :
Kenapa tidak kau biarkan saja dirimu mati kelaparan?

33.A :
Dalam hidupku aku pernah berbahagia. Suatu hari aku mendapat sedekah berupa buah-buahan sebanyak satu keranjang besar.

34.B :
Tidak !

35.A :
O, ya, cuma satu keranjang kecil penuh buah-buahan di pertengahan jalan ini.

36.B :
Oke, baiklah. Tapi kenapa tidak kau biarkan dirimu mati ?

37.A :
Aku memang pernah memikirkan hal itu.

38.B :
[Mangkel].Tapi kau toh tidak melakukannya.
39.A : Aku cukup bahagia.{Pause]
Memang aku selalu tidak bahagia, tapi cukup bahagia.

40.B :
Tapi kau tentulah setiap harinya akan bertambah tidak bahagia.

41.A :
[Marah].Aku cukup bahagia. [Pause]

42.B :
Sekiranya memang kita-kita ini dibuat untuk kepentingan satu sama lain, bagaimana ?

43.A :
[Gerak gerik yang penuh arti].Kini, bagaimana semua hal itu tampaknya ?

44.B :
Oh, aku ? Aku tidak pernah pergi jauh-jauh. Cuma maju-mundur didepan pintu rumahku. Sebelumnya aku tidak pernah ke mari.

45.A :
Tapi apakah kau mencari dirimu?

46.B :
Bukan, bukan begitu !

47.A :
Setelah masa kegelapan itu, kau tidak………

48.B :
[Marah].Bukan?! [Pause]. Tentu, kalau kau mau aku mencari diriku, aku akan melakukannya. Dan akhirnya kau tidak keberatan mendorong kursi rodaku ini, aku akanmencoba melukiskan pemandangan di sekitar kita sementara kita melaju ke depan.

49.A :
Maksudmu aku akan menuntunmu ? Aku tidak mau tersesat lagi.

50. B :
Tentu. Aku akan bilang begini; Hati-hati, Billy, kita sedang menuju ke sebuah tumpukan kotoran yang besar. Mundur sedikit dan belok ke kiri. Itulah kata-kata yang akan kuberikan padamu.

51.A :
Kau akan bilang begitu ?

52.B :
[Tampak puas] Gampang bukan? Gampang sekali, Billy. Di sana dalam parit aku melihat sebuah kaleng. Mudah mudahan ia berisi sop. Atau mungkin juga sayur kacang buncis.

53.A :
Sayur kacang-buncis ! [Pause].-

54.B :
Apakah kau mulai menyukai aku ? [Pause]
Atau itu cuma imajinasiku.

55.A :
Sayur buncis ! [Ia bangun, mengambil mangkoknya dan manyodorkan ke arah B,meminta]. Di mana engkau ?

56.B :
Di sini, temanku sayang. [A mencoba mendorong kursi roda itu dengan serampangan]. Berhenti,berhenti !

57.A :
[Terus juga mendorong]. Bukankah ini suatu berkah bagimu? Atau katakanlah semacam hadiah !

58.B :
Berhenti ! [Ia mencondongkan badannya ke belakang. A membiarkan kursi roda itu menggelinding dan melompat ke belakang. Pause. A menggapai –gapai mencari bangku tempat duduknya. Maju.Berhenti, menggapai-gapai lagi. Tidak ditemukan bangku tempat duduknya itu]. Maafkan aku. [Pause]. Maafkan aku, Billy.

59.A :
Di mana aku ? [Pause].Di mana aku tadi ?

60.B :
Rupanya aku kini kehilangan dia. Padahal ia sudah mulai menyukai aku. Tapi aku mengecewakan dia. Ia akan meninggalkan aku dan aku tidak akan melihat dia lagi. Aku tidak akan melihat siapapun lagi. Kita tidak akan mendengar suara-suara manusia lagi.

61.A :
Apakah kau tidak mendengarnya ? keluhan dan rintihan yang sama sejak dari buaian ibunda sampai ke kuburan.

62.B :
[Mengerang].Lakukanlah sesuatu untukku sebelum aku pergi.

63.A :
Di sana. Kau bisa dengar ? [Pause].Aku tidak bisa pergi ![Pause].Kau dengar ?

64.B :
Kau tidak bisa pergi ?

65.A :
Aku tidak bisa pergi tanpa alat-alatku ini.

66.B :
Alat-alat apa itu yang menjdi milikmu ?

67.A :
Tak ada.

68.B :
Lho,katanya kau tidak bisa pergi tanpa alat-alatmu.

69.A :
Memang. [Ia mulai meraba-raba lagi, lalu berhenti].Akhirnya aku akan mendapatkannya.[Pause].Atau aku tinggalkan saja.

70.B :
Tolong perbaiki selimut pada kakiku. Kakiku terasa sangat dingin.[A berhenti].Bisa saja kulakukan sendiri, tapi akan terlalu lama.[Pause].Lakukanlah untukku, Billy.Sudah itu aku bisa kembali ke sudut yang sepi itu dan di sana aku bilang: aku telah melihat orang untuk terakhir kalinya, aku mengecewakan dia setelah dia sempat menolong aku.

[Pause]

Kutemukan kepingan-kepingan cinta di sudut hatiku dan kematiannya dapat kupadukan dengan jenis diriku.[Pause].Kenapa kau memandang tercengang seperti itu padaku ? [Pause].Apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak pantas kukatakan? [Pause].Bagaimana rupa jiwaku?[ A berjalan dengan meraba-raba menuju padanya].



71.A :
Bersuaralah !
[B mengeluarkan suara. A meraba-raba menuju padanya lagi.Berhenti].

72.B :
Apakah alat penciummu sudah tumpul ?

73.A :
Dimana-mana cuma tercium bau busuk.
[A membuka lebar-lebar tangannya.Apakah tanganmu tidak bisa menjangkau tanganku? [Ia berdiri diam,tanpa gerak dengan tangan terbuka ke depan].


74.B :
Sebentar.Kau kan tidak melakukan sesuatu dengan cuma-cuma.[Pause].Kumaksudkan,tanpa syarat.[Pause].Tuhan Maha Pengasih.[Pause].Ia dapat memegang tangan A dan menarik ke dekatnya].

75.A :
Kakimu ?

76.B :
Apa ?

77.A :
Kau bilang kakimu !

78.B :
Aku cuma tahu kata kaki.[Pause]. Ya ,kakiku,cobalah bungkukskan dengan baik
[A membungkuk, meraba-raba].Berlututlah, dengan berlutut kukira kau akan lebih santai.[B membantu A untuk berlutut di suatu tempat yang baik].Ah, di sana !

79.A :
[Merasa diganggu].Biarkan tanganku merabamu.Kau ingin supaya aku membantumu, tapi kau pegang tanganku.
[B membiarkan tangannya meraba dan ia merasa geli ketika selimut kakinya diraba].Apakah kau cuma mempunyai satu kaki?

80.B :
Memang cuma satu.

81.A :
Dan yang satunya?

82.B :
Membusuk, lalu dipotong.[A membungkus kaki yang satu ini]

83.A :
Sudah cukup?

84.B :
Ketatkan sedikit.[A melakukannya].Cekatan sekali tanganmu.
[Pause].-

85.A :
[Meraba-raba, menuju perut B].Apakah ini bagian-bagian lainnya ?

86.B :
Kini kau boleh berdiri dan meminta balas jasamu.

87.A :
Bagian-bagian lainnya bagaimana ?

88.B :
Bagian-bagian lainnya memang tidak dipotong, kalau itu yang kau ingin ketahui.[Tangan A meraba ke atas lagi, meraba wajah B].

89.A :
Ini wajahmu ?

90.B :
Sumpah, memang itu wajahku.[Pause].Seperti apa kira-kira wajahku itu? [Jari-jari A meraba ketempat-tempat lainnya]. Itu ? Itu namanya kutil.

91.A :
Merah ?

92.B :
Ungu ! [A menarik tangannya, tapi tetap berlutut].Tanganmu memang cekatan ! [Pause]

93.A :
Masih tetap siang ?

94.B :
Siang ?[Memandang ke angkasa].Terserah kalau kau mau.[Memandang].Memang tak ada kata yang tepat untuk itu.

95.A :
Kira-kira akan segera malam? [B membungkukkan badannya pada A dan memegang pundak A]

96.B :
Mari,Billy,berdirilah,kini kau mulai merepotkan aku.

97.A :
Apakah akan segera malam ?




98.B :
[Memandang ke langit].Siang….malam….[memandang lagi].kadang-kadang tampak bagiku dunia ini begitu angkuh dan sombong; diberikannya kita siang tanpa matahari, di tengah-tengah jantung musim dingin, di suatu malam yang kelabu.[Memegang bahu A lagi].marilah,Billy, berdirilah, kau kini mulai merintangi aku.

99.A :
Apakah dimana-mana tampak rumput ?

100.B :
Tidak.

1.A :
[Gemas].Tidak tampak hijau di mana-mana ?

2.B :
Cuma ada sedikit lumut.[Pause.A mengelus-elus selimut kaki B, lalu meletakkan kepalanya di atas kaki B itu].
Tuhan Maha Pemurah ! Apakah kau tidak akan berdoa ?

3.A :
Tidak !

4.B :
Atau menangis barangkali ?

5.A :
Tidak.[Pause].Aku bisa meletakkan kepala seperti ini untuk selama-lamanya, di atas lutut seorang teman tua.

6.B :
Lutut! [Menggoncang-goncangkan badan A dengan keras].Apakah kau tidak bisa bangun?

7.A :
[Membenah dirinya agar lebih nyaman].Alangkah tenang dan damainya ! [B menolaknya dengan keras. A jatuh dan bertelokan pada tangannya]. Dora,istriku sering bilang bila aku tidak cukup memperoleh uang: Kau dan harpamu! Lebih baik kau merangkak ke segenap penjuru dunia dengan medali-medakli ayahmu yang kau sematkan di pantat celanamu dan kotak uang bergantungan di lehermu. Kau dan alat musikmu itu! Kau pikir kau ini siapa sih ?
Dan dia membiarkan aku tidur di lantai.[Pause]. Siapakah aku ini ?…….[Pause].Ah, aku tidak mampu menerkanya. [Pause].Lalu dia berdiri. Tidak pernah mampu.[Ia mulai meraba lagi, mencari tempat duduknya, lalu berhenti dan memasang telinga seperti mendengar sesuatu].Jika suara-suara itu cukup lama kudengar, maka sebuah harpa dengan satu tali cukuplah.

8.B :
Harpamu ? [Pause].Macam apakah kiranya harpamu itu ?



9.A :
Dulu pernah aku memiliki sebuah harpa kecil.Tapi diamlah, dan biarkan aku mendengar sesuatu.[Pause]

10.B :
Berapa lama kau mampu diam seperti itu ?

11. A :
Aku bisa berjam-jam mendengar segala macam suara.
[Keduanya memasang telinga, mendengar]

12.B :
Suara-suara apakah itu ?

13.A :
Aku tidak tahu suara apa itu.
[Keduanya memasang telinga lagi.Mendengar]

14.B :
Aku dapat melihatnya.[Pause].Aku dapat…………

15.A :
[Marah] Apakah kau tidak mau diam ?

16.B :
Tidak ! [B melepaskan kepala A yang dipegang dari tadi].Aku dapat melihat dengan jelas, itu di tempat dudukmu.[Pause]. Bagaimana kalau aku mengambilnya lalu kabur? [Pause]. Eh, Billy, bagaimana tanggapanmu ? [Pause].
Suatu hari nanti, akan ada orang tua yang lain, muncul dari persembunyiannya dan mendapatkan kau sedang membunyikan harmonikamu. Dan kau akan mengatakan padanya, bahwa kau pernah memiliki sebuah biola kecil.[Pause]. Eh, Billy ! [Pause] Aatau kau sedang menyanyi. [Pause]Eh ,Billy, bagaimana tanggapanmu ?[Pause]
Dan di sana, ia akan bersiut-siut pada angin musim dingin setelah kehilangan harmonika kecilnya.
[Ia mendorong A dengan tongkatnya]. Eh, Billy ?
[A berputar, memegang ujung tongkat itu dan merampasnya dari tangan B].

Layar. Layar.-

15 Januari 2009

Lintang-lintangku


Tuhan, kenapa aku menjadi perasa.
ketika kubaca lembar-lembar Lintang baru
dalam berita kota.

tak perlu jauh aku sebrang ribu pulau
tak ayal aku susah kayuh sepeda puluhan kilo
mereka, Lintang-lintang muda dipelukku

Haryono. mengayuh sepeda dan baca pakai
lampu minyak
hidup di tambak keramba

Iis. putri angkasa wajah sumbing
alas kaki tak ada. tinggal baju krem dan
rok merah kelabu

Joko. hirup sampah tiap hari
tak ada serpih tak ada kasih
hidup menunggu waris bapak ibu
: rumah kardus mudah gusur.

tak jauh aku liat Lintang sedih
menanti liburan monyet kapan datang
hingga kata, aksara, dan angka mudah saja ada
hingga matahari didepanpun nampak
tak perlu malam suntuk sampai ajal menjambak.

13 Januari 2009

Tinggal Aku


menantimu

tak tahu aku malam ini jadi apa?
ketika sepi jadi selimut
saat kabut buramkan mata pada langit

aku takut ketika malam datang
ketika yelda terjadi ditiap malamku
bukan lagi malam pertama musim semi yang panjang
bagai kasih tak sampai bulan dan matahari

malam

sepi itu sekali lagi menerjangku
merajam tiap sel yang mengatur nyawaku
menidurkan jiwa yang ambruk olehmu
petaka jadi biasa karenamu

gulita

aacchh,...
tergadai aku pada rasa
terlanjur serah terima padamu
maka, ku nanti yang tak berujung
ku tunggu kau yang berlari
bukan padaku tapi menjauh

+++++++++++++++++++++++++++++

Malam-Mu


tuhan,...
aku ingin bertanya padaMU
siapakah yang lebih dulu ada
hamba ataukah alam?

ketika sayap-sayap sepi
menggenapi aku jadi seribu diam
aku bertanya padaMu
dan alam menjawab dalam tanda
bukan lambang

tuhan,...
benarkah surga itu milikMu?
lalu kenapa Kau janjikan padaku
makhluk kasat mata penuh dusta
yang mencari semua karena janji
bukan karna diri

aku bukan siapa-siapa, Tuhan
aku hanya sisi lain dari malam
gelap, sepi, dingin, tanpa cercah cahya

bulan bukan aku, tuhan
ia terlalu indah untukku
biarkan getir menyapaku
biarkan sepi jadikan aku sendirian

cinta itu, Tuhan
ialah kasih yang telah mengkristal
indah namun melukai.

Sayang,..


bosan, aku menepi tuju malam
kapan pagi menerkam
jangan hanya temani buram
aku ingin kau sang pualam

lelah jadi indah
mimpi tak terasa singgah

apakabar cinta?
sepertinya sama seperti biasanya
gejolak dan mereda

disana ada cahaya setitik
serangga hinggapi tak ada laik

sayang,...

02 Januari 2009

Mengejar Bayangan Cinta


tak ada yang tahu kemana aku melangkah hari ini. bebas rasanya, tak ada lagi orang-orang yang mengawasiku siang dan malam hanya untuk mengetahui apakah aku baik-baik saja.
aku lari dari rumah,.. ya,.. aku lari dari rumah yang telah membuat aku terus bermimpi tentang dunia luas. kini, semua itu bukan lagi mimpi. aku berlari kencang sekali setelah berjalan berjingkat sepanjang blok rumahku.
tujuan yang aku jelas, jelas sejelas matahari musim panas. aku akan mencari katya. wanita yang telah mencuri perhatianku, wanita yang telah menyita semua impianku. kami bertemu saat misa pagi di gereja. ibu sangat ingin membawa kami, aku dan adikku, ke gereja sejak dulu terakhir aku ke gereja saat aku dibaptis entah berapa tahun yang lalu. pagi itu memang aneh, cuaca begitu cerah meski musim dingin sedang menjadi-jadi. tak ada kabut. aku mengenakan pakaian terbaikku sedangkan adikku, yosef, masih terkantuk bahkan tidur disaat semua jemaat membacakan salah satu bagian injil.
katya bukan seorang katolik seperti aku, ia seorang muslim. ayahnya memiliki sebuah toko bunga di depan gereja. bersama ayahnya ia menawarkan bunga setiap hari kepada para jemaat dan pejalan kaki.
pertama yang kulihat dari katya ialah matanya. mata itu sangat indah, hijau seperti zambrut yang dibentuk dengan sempurna. aku menghampirinya mencoba menggodanya dengan senyum terbaikku. menanyakan harga setangkai bunga mawar tanpa melihatnya sebab yang ku perhatikan hanya matanya, zambrut itu. mendapat prlakuan itu zambrut muslimku tersipu tanpa kusadari ayahnya memperhatikan kami dan mengambil alih percakapan kami
"ada apa anak muda?"
"maaf pak, berapa harga mawar itu?" jawabku sedikit gugup
"1 dolar 50 sen"
tanpa berpikir panjang aku menyerahkan uang ke tangan ayah katya. ketika aku tetap tak beranjak dari tempat ku semula, ayah katya kembali membangunkan lamunanku
"ada lagi anak muda?!"
"tidak, terimakasih" lalu aku dengan enggan beranjak menuju gereja. menuju misa pertamaku. seminggu kemudian aku kembali ke gereja untuk melaksanakan misa. ketika akan membeli bunga aku mencari-cari alasan untuk menanyakan namanya. "tolong tuliskan di kertas ini "dari andrye" a-n-d-r-y-e andrye!"
"maaf nona,...?"
"katya."
"ya, nona katya. aku ingin anda merangkaikan saya bunga yang cantik" dengan cekatan katya berdiri lalu memilih beberapa bunga kemudian ia selimuti bunga itu dengan plastik bening serta memberinya pita. indah sekali. inilah bunga terindah yang aku beli. "ini tuan"
"jangan panggil saya tuan, panggil saya andrye"
"10 dollar tuan!" tiba-tiba aku mendengar suara ayah katya dari belakangku, terlihat sekali dalam nadanya bahwa ia tak suka aku bicara terlalu lama dengan anaknya, zambrut sempurnaku.
aku menyerahkan uang sepuluh dollar kepada ayah katya lalu pergi. dari belakang aku mendengar katya menayakan kenapa harga bunga itu mahal sekali
"bunga itu memang hanya 3 dollar saja, tapi ia bicara padamu terlalu lama dan aku tidak suka"
"maaf ayah" malam itu, seperti biasa aku makan malam bersama ibu dan adikku, yosef, malam itu adalah malam yang indah. bulan dapat kulihat dari sela-sela jendela. langit begitu jernih. angin bertiup tenang dan aku membayangkan zambrut sempurnaku malam malam bersama kami atau mungkin hanya kami berdua. di meja ada lilin yang menyala dan terdengar suara seksofon mengalun pelan. oh,... indah sekali. kenapa itu aku sangat suka melamun, sebab di dunia ini aku bisa merasakan apa saja ingin aku rasakan, dan aku memilih merasakan katya tiap malam dan merindukan miusa pagi di hari minggu, bukan hanya untuk berdoa tapi juga untuk melihat matanya yang indah luar biasa. pagi hari di hari minggu yang dingin aku bergegas ke gereja, aku berangkat terlebih dulu daripada ibu dan yosef. telah ku sipakan sebuah pertanyaan untuk katya. aku ingin menanyakan maukah ia makan malam denganku kapan saja katya punya waktu luang.
pakaian terbaik yang kumiliki telah terpakai, parfum, minyak rambut, sepatu telah aku persiapkan, semuanya terbaik. terbai yang pernah aku miliki aneh. aku yang terlalu pagi atau bagaimana? tak kulihat bus mini tempat katya dan ayahnya menjual bunga. aku menunggu tapi ku yakinkan pada diriku bahwa katya akan datang dengan ayahnya dan menjual mereka lalu aku akan membeli sebuah rangkaian bunga yang indah buatan katya.
aku tetap menunggu hingga ibu dan yosef datang serta para jemaat. aku masih menunggu hingga jemaat masuk ke gereja semua. dan aku masih menunggu ketika gereja telah sepi. hujan turun aku pasang payungku dan tetap berdiri ditempat yang sama selama hampir tujuh jam. aku pergi pulang ketika yosef menjemputku untuk makan malam. malam itu tak indah sama sekali bahkan suram. tigabelas misa pagi telah lewat tanpa aku melihat zambrut sempurnaku, katya, dan selama itu aku tak pernah mengikuti misa aku hanya duduk ditempat yang sama ketika aku menanti katya. pakaian, parfum, minyak rambut, sepatu yang sama setiap minggu kukenakan. ingin sekali aku mengatakan bahwa aku ingin makan malam dengannya, memegang tangannya, dan menatap zambrut indah matanya.
ingin sekali aku mengatakan aku merindukannya. bahkan dalam mimpi dan lamunan ia tak datang, tapi telah kukuatkan hatiku.
aku akan tetap menunggunya bahkan mungkin mencarinya. karena kesibukan anehku (aneh menurut ibu dan yosef) aku dilarang datang di misa pagi ini. mereka mengatakan bahwa pastur melarang ia datang ke gereja. padahal selama ini aku tak pernah masuk gereja hendak aku protes tapi mereka dengan cepat menutup pintu kamarku dari luar.
"ibu, ibu, ibu. aku ingin pergi ke gereja ibu."
"yosef, yosef, yosef"
aku ulai memohon namun yang terdengar hanya bunyi klik pintu rumah ditutup. aku melihat mereka berangkat dari jendela kamarku yang berteralis. kupegang gagang jendela besiku, menyesal karena aku tak tahu pikiran busuk mereka yang telah mengurungku. selama ini, ibu selalu melarangku keluar rumah selain ke gereja. ia mengatakan bahwa dunia luar hanya akan mengacaukan pikiranku. ternyata, memang pikiraku kacau di saat pertamakali aku keluar rumah menuju gereja lalu makin kacau ketika aku mulai menyadari betapa aku ingin beretemu katya. tapi aku merasakan keanehan dari pikiranku ini, ia tidak membuat aku merasa lemah melainkan hebat, ia tidak membuat aku terpuruk tetapi ingin menantang dunia, ia tak menciptakan sedih melainkan gembira yang tertahan, menanti untuk di keluarkan. kini aku telah lari dari rumahku. meninggalkan ibu dan yosef di malam hari. aku akan menuju arah yang paling aku suka. aku akan melangkah menuju getar-getar kuat dalam hatiku. aku akan menunggu. bukan hanya menunggu diam, tapi aku akan menunggu dengan mencarinya, katya, zambrut sempurnaku. cintaku. (selesai 22 april 2008)