30 November 2008

GJ

sesepi apa aku merajuk juga padamu
menepi pada sisimu yang kasih

sayang jangan ragu bila pergi
mantapkan hati lurus kedepan
berbeloklah bila hati dan logika ada

aku tetap disini seperti ini
kadang terpaku
kadang terharu

sayang,...


26 November 2008

saat aku mencintaimu
aku mengambang jadi sepi
sebab bayangmu tak hampiri
hanya sepi yang temani


saat aku mencintaimu

24 November 2008

Selebihnya Aku Berdusta

Selebihnya aku berdusta.

Sayang, aku ialah sepi yang tak bisa hingar
menempatkan mimpi yang melayang dalam pasar
janji-janji sempat terucap itu memang janji
tak pernah ada yang bisa kutepati.

Beribu detik memang terlewat dengan cinta
selanjutnya, aku hanya rasa biasa
senyum yang terbang percuma
serta, mata yang sayu memandang penuh rasa.

Purnama ini ku takkan datang hampiri
sebab janji telah terbagi
jangan sedih atau meratap, kasih
sebab aku tak ada bukan tuk cari kasih

acuh beribu ku tujukan untukmu
sabar yang kau beri sejuta demiku
apakah aku layak jadi kasih yang bingar
ketika kau sendiri sepi terkapar

aku hanya punya hati dan raga.
Satu untuk kau peluk
satu untuk kau cinta
satu untuk kita satu.

Sayang selanjutnya ialah dusta
aku jatuh hati padamu.,

muharram, 24 novenber 2008

21 November 2008

Catatan Gunawan Muhammad


Kopi paste dari tempo 15 mei 2006

Dunia harus hancur, kata mereka. Tuhan menghen-daki itu. Telah dinubuatkan perang penghabisan akan pecah, kata mereka. Iblis akan dihadapi dalam Armagedon itu, surga akan terkuak, dan ”Yang Setia dan Yang Benar” akan turun mengendarai seekor kuda putih.
… memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan
nama-Nya ialah: ”Firman Allah”. Dan semua pasukan
yang di surga mengikuti Dia, mereka menunggang
kudapu-tih dan memakai lenan halus yang putih bersih.
Dan da-ri mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam
yang akan memukul semua bangsa….
Gambaran yang seram itu dikutip dari Wahyu, bagian ter-akhir Alkitab. Saya tak tahu apa hubungannya dengan- zaman ini. Tapi mereka—orang-orang fundamentalis Kristen di Amerika—menganggap itulah ramal yang pasti. Armagedon bukan hanya pasti terjadi, tapi juga, kata mereka, akan meletus di masa kini, di Timur Tengah, sebelum datang ”Yerusalem yang Baru” di mana tak akan ada lagi laknat.
Maka mereka menantikan perang itu….
Akan terkejutkah kita bila hari-hari ini orang-orang fundamentalis itu harap-harap cemas memandang Iran sebagai ”Iblis” yang disebut dalam nubuat itu? Saya duga mereka akan bergembira melihat presiden negeri itu: kulitnya gelap, matanya menatap dari rongga yang dalam, cambangnya kencang, dan kata-katanya muram mengancam akan menghancurkan Israel dan menyiapkan senjata nuklir. Mereka akan ber-gembira sebab kepercayaan mereka akan dibenarkan, sang Antikristus telah muncul, Armagedon akan terjadi, dan halleluyah, bumi baru akan datang.
Ada satu ciri kaum fundamentalis, dari agama apa pun: mereka memusuhi hidup. Hidup adalah sejenis hukuman, karena fana dan diubah waktu. Bagi mereka waktu yang berubah adalah jalan kemerosotan. Sebab itu, mereka cegah waktu dari doktrin, tiap kalimat dalam Kitab Suci harus dipatok sebagai sesuatu yang mandek. Bagi mereka hidup di dunia selalu terancam najis. Sebab itu Tuhan ada-lah suara amarah: ”dari mulut-Nya keluarlah sebilah pe-dang- tajam yang akan memukul semua bangsa.”
Aneh, sebenarnya: Tuhan sebagai pembinasa, hidup se-bagai cela. Padahal kaum fundamentalis itu tak perlu- berkeluh-kesah. Mereka tak menanggung sakit dan mis-kin. Mereka orang Amerika yang makmur. Pengumpul-an pendapat oleh majalah Newsweek menjelang akhir 1999 (dua bulan sebelum milenium baru) menunjukkan 40 per-sen penduduk negeri itu percaya akhir zaman akan terjadi melalui Perang Besar Armagedon. Artinya mereka percaya seperti tertulis dalam Wahyu: setelah perang itu, setelah Iblis akan dilemparkan ke jurang maut, ”kemah Allah” akan ditegakkan di tengah manusia, dan Ia akan menghapuskan air mata dan kematian.
Begitu rentankah orang-orang itu terhadap duka dan ajal, hingga bagi mereka surga di bumi adalah kehidupan tanpa perkabungan dan ratap tangis? Kenapa mereka tak menggambarkan surga sebagai situasi tanpa ketidakadil-an?
Apa pun sebabnya, Juru Selamat dalam bayangan kaum Kristen fundamentalis tampaknya tak sama dengan ”Ratu Adil” dalam bayangan orang-orang melarat di Jawa. Mungkin ”adil” bukanlah persoalan pokok mereka.
Dalam sebuah buku yang kini dilupakan, Prophecy and Politics (terbit pada tahun 1986), Grace Haskell memberi ilustrasi bagaimana yang dirayakan kaum Kristen fundamentalis itu justru apa yang tak adil. Buat menyiapkan buku itu Haskell pergi ke Israel dua kali bersama rombong-an Pendeta Jerry Faldwell. Orang-orang ini—kemudian disebut sebagai ”Zionis Kristen”—sangat siap untuk meng-elu-elukan ketidakadilan yang menyakiti orang Palestina. Mereka percaya bahwa janji Tuhan kepada Abram dalam Kejadian—akan ada negeri baru dan akan dijadikan Bani Israel ”bangsa yang besar”—berarti berdirinya Negara Israel seperti sekarang. Mereka tak peduli bila dengan demikian orang Palestina yang Kristen ter-masuk yang dizalimi. Bagi mereka, seperti di-tulis Haskell, tiap tindakan yang dilakukan Israel sudah diatur Tuhan, dan sebab itu harus didukung.
Tentu tak adil. Tapi mereka sadar, dengan ke-tidakadilan itu amarah akan berkobar, perang akan meletus, nubuat Armagedon akan terlaksana, akhir zaman akan tiba dan ”keraja-an seribu tahun” Kristus akan datang.
Maka kaum ”Zionis Kristen” selalu men-desak agar bantuan AS kepada Israel tak ber-kurang—dan berusaha agar perdamaian tak terjadi. Pada tahun 2000, tiga orang fundamentalis fa-na-tik Amerika mencoba meledakkan Masjid Al-Aqsa untuk memprovokasi kemarahan orang Pales-ti-na. Pada tahun 2003, Senator Tom DeLay, yang kurang-lebih mengikuti keyakinan yang sama, da-tang ke parlemen Israel dan mengatakan, ”tak ada nilai-nya sikap di tengah-tengah dan mengambil posisi moderat.”
Dengan kata lain: yang kuat tak perlu mengalah; kekuasaan melahirkan legitimasinya sendiri….
Mungkin ini menjelaskan kenapa Tom DeLay bisa meng-halalkan keterlibatannya dalam skandal keuangan yang kemudian terbongkar, sebagaimana Amerika bisa membenarkan dirinya untuk merencanakan 125 bom nuklir baru tiap tahun sementara ia melarang negeri lain melakukan hal yang mirip, sedikit.
Tapi, sekali lagi, adil bukanlah urusan pokok di situ. Maka di manakah, dalam pandangan itu, apalagi dalam doktrin kaum Zionis Kristen, orang ingat khotbah Yesus di bukit? Di manakah suara yang memuliakan mereka yang miskin, yang lemah lembut, yang membawa damai dan sebab itu layak ”disebut anak-anak Allah”?
Saya tak tahu. Yang saya tahu, Allah diseru di mana-mana, tapi bersama itu juga dilakukan kebengisan. Kita sering mendengarnya dari mulut muslim, tapi sebetulnya tak ha-nya muslim. Agaknya itulah inti surat Presiden Ahmadinejad kepada Presiden Bush: ”Tuan Presiden, Tuan mungkin tahu saya seorang guru. Murid-murid saya bertanya bagaimana tindakan-tindakan [Amerika] dipertautkan dengan nilai-nilai…yang dibawakan Yesus Kristus, nabi perdamaian dan permaafan….”
Tentu saja Bush tak menjawab.
Goenawan Mohamad

Kata Cinta


ketika aku mencintaimu

aneh benar rasanya ketika aku mulai merasakan ada cinta itu dihatiku,
cinta yang terbalut sebuah kepercayaan. cinta yang kini bertuliskan namamu.
telah berapa lama kita bersua dan mengenal? namun baru kini aku rasa mencintaimu.
cinta yang tak tahu aku kapan akhirnya.

ketika aku mulai mengenalmu
aku jadi kecewa, bukan. bukan karena kau yang ini itu.
tapi karena aku yang tak mampu mencinta dan memberi kasih yang sepadan seperti kau terhadapku.

lihatlah aku disini.
aku menanti.

entah sampai kapan aku menanti, dan
entah sampai kapan kau akan kembali,
yang aku tahu aku akan terus menanti.

20 November 2008

Faktor Penyebab Campur Kode


Faktor Penyebab Campur Kode.
Menurut Ohoiwutun (2002 : 71) penggunaan campur kode bias di dorong oleh keterpaksaan, seperti penggunaan campur bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia mengacu pada prinsip berbahasa yang singkat, jelas, dan tidak berdwimakna. Dan jika dipadan ke dalam bahasa Indonesia dapat menjadi frase atau kalimat yang panjang, kurang jlas, dan mungkin bermakna ganda. Selain itu, ada beberapa factor yang berhubungan dengan pembicara dan pendengar, laras bahasa, tujuan berbicara, topic yang dibicarakan, waktu, dn tempat berbincang.
Basir (2002 : 65) menyebutkan beberapa alas an terjadinya campur kode yaitu,
1.Adanya keterbatasan padanan kata.
2.Pengaruh pihak ke dua.
3.Kurang menguasai kode yang dipakai.
4.Pengaruh unsur prestise.
Selain itu, basir (2002 : 65) juga mengatakan alasan seseorang mencampur dua bahasa atau beberapa kode bahasa yang berbeda dalam suatu tindak tutur ialah ingin menciptakan adanya situasi yang santai sehingga pemrtuturan berlangsung tanpa beban.
Suwito (1983: 77) menyatakan latar belakang terjadinya campur kode pada dasarnya dikategorikan menjadi dua tipe, yaitu tipe yang berlatar belakang pada sikap (attitudinal type) dan tipe yang berlatar belakang kebahasaan (linguistic type). Kedua tipe ini saling terkait dan bergantung serta sering tumpang tindih dalam pelaksanaannya.

Campur Kode


1.Campur Kode.
Pembicaraan alih kode takkan lengkap tanpa pembicaraan tentang campur kode sebab keduanya saling berkaitan dalam sebuah masyarakat tutur yang multietnik dan multibahasawan. Sama halnya dengan alih kode, campur kode juga merupakan sbuah gejala peleburan budaya terutama bahasa akibat dari proses adaptasi. Proses adaptasi ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, tingkat social, dan tingkat penguasaan bahasa pertama dan bahasa kedua.
Campur kode ialah penggunaan satuan bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain untuk memperluas gaya bahasa atau ragam bahasa; termasuk didalamnya pemakai kata, klausa, idiom, sapaan, dan sebagainya. (Kridalaksana, 2008 : 40)
Ohoiwutun (2002 : 69) menyebutkan bahwa campur kode ialah penggunaan unsur-unsur dari suatu bahasa tertentu dalam satu kalimat atau wacana bahasa lain.
Weinreich (dalam Aslinda dan Leni Syafyahya 2007 : 66) mengatakan bahwa campur kode hampir sama dengan interferensi, yakni penyimpangan-penyimpangan dari norma-norma salah satu bahasa yang terjadi dalam tuturan para dwibahasawan sebagai akibat dari pengenalan mereka lebih dari satu bahasa, yaitu sebagai hasil dari kontak bahasa.
Campur kode menurut Nababan (1993 : 16) terjadi jika seseorang mencampur dua bahasa atau ragam bahasa hanya oleh karena mudahnya dan bukan karena dituntut keadaan berbahasa itu. Ini berarti proses campur kode bukan saja karena factor keterbatasan kata dalam suatu bahasa tetapi juga faktor kebiasaan dan faktor prestise.
Kachru (dalam Fitriyah, 2005 : 24) membeikan batasan campur kode sebagai pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten.
Campur kode terjadi apabila seseorang penutur bahasa, misalnya bahasa Indonesia memasukkan unsure-unsur bahasa daerahnya ke dalam pembicaraan bahasa Indonesia. Dengan kata lain, seseorang yang berbicara dengan kode utama bahasa Indonesia yang memiliki fungsi keotonomiannya, sedangkan kode bahasa daerah yang terlibat dalam kode utama merupakan serpihan-serpihan saja tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode bahasa.
Nababan (dalam Aslinda dan Leni Syafyahya 2007 : 87) menyatakan ciri yang menonjol dalam campur kode ini ialah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi formal, jarang terjadi campur kode, kalau terdapat campur kode dalam keadaan formal karena tidak ada kata atau ungkpan yang tepat untuk menggantikan bahasa yang sedang dipakai sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa daerah atau bahasa asing.
Seorang penutur misalnya, dalam berbicara Indonesia banyak menyelipkan bahasa daerahnya, maka penutur itu dapat dikatakan telah melakukan campur kode. Akibatnya, muncul satu ragam bahasa Indonesia yang keminang-minangan atau ke jawa-jawan.
A : “assalamualaikum wai”
B : “waalaikumsallam oe Rita, lu u masuk!”
Klausa pertama penutur A menggunakan kata sapaan salam dari bahasa arab yang telah masuk dalam kata serapan asing bahasa Indonesia ditambah dengan kata “wai” yang berarti nenek dalam bahasa Bima. Sedangkan penutur B menggunakan kata sapaan balas salam ditambah idiom “oe” yang bermakna sama dengan idiom “oh” dalam bahasa Indonesia, “Rita” merupakan nama penutur A, dan kata “lu u” yang bermakna “masuk”, serta dipertegas dengan bahasa Indonesia kembali.